HARI PUPR.RI  3/12/1945-2020, “MENGAPA SAAT  ITU GEDUNG  SATE HANYA  DIJAGA 21 ORANG !?”

HARI PUPR.RI  3/12/1945-2020, “MENGAPA SAAT  ITU GEDUNG  SATE HANYA  DIJAGA 21 ORANG !?”

GEDUNG SATE PRE-PROKLAMASI 1945

KoranJokowi.com, Bandung : Gedung sate didirikan pada 27 juli 1920 dan diperuntukkan sebagai pusat pemerintahan (Gouvernments Bedrijven / GB), dari sinilah istilah Gedung GB (gebe) muncul. Hal ini dikarenakan pemerintah belanda menetapkan bandung sebagai pusat pemerintahan (ibu kota) negeri jajahannya di Indonesia. Perencanaan GB diketuai oleh Kolonel (purn) V.L. Slors dengan anggota Ir. J. Berger, lt. Eh. De Roo, dan In G. Hendriks, serta pihak Gemeete van Bandoeng. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Johana Cath. Coops, putri sulung walikota Bandung Saat itu, B, Coops dan Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia. Pembangunan GB melibatkan 2000 pekerja, yang 150 diantaranya adalah pemahat atau ahli bongpay pengukir batu nisan yang didatangkan dari Konghu atau Kanton. Sisanya, pekerja bangunan yang berpengalaman dalam membangun kampus ITB. Pembangunan GB dilakukan selama 4 tahun.

 

Dari sisi konstruksi, bangunan gedung sate lebih banyak menggunakan batu alam dan bata dibanding beton, namun karena proses pembangunannya ditangani secara profesional, bangunan tersebut masih kokoh hingga saat ini. Batu bahan utama pembangun gedung diambil dari kawasan perbukitan batu Arcamanik san gunung manglayang yang diangkut melalui kereta gantung hingga Cihaurgeulis sebelum diangkut menggunakan lori ke lokasi pembangunan. Tahun 1924, Gedung sate digunakan oleh departemen lalu lintas dan pekerjaan umum. Pembangunan pusat pemerintahan dihentikan karena resesi ekonomi

Proklamasi telah dibacakan Sukarno-Hatta (17/8/1945), namun Belanda masih ingin menguasai Gedung Sate Bandung. Dimana digedung itu pula terdapat kantor Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum RI  Pimpinan Ir. H. Pangeran Muhammad Noor (?)

Beberapa kali pasca 17 Agustus 1945 terjadi ketegangan di area Gedung Sate, Belanda terus mengganggu sekaligus ingin merebut Gedung Sate, hingga akhirnya pada 24 November 1945, di bagian utara kota, meletus suatu pertempuran yang hebat. Penduduk sekitarnya banyak yang mengungsi ke kota lain. Sebagian laskar rakyat tetap bertahan di area Gedung Sate dibantu  satu Pasukan Badan Perjoangan yang  ‘hanya’ berjumlah sekitar 40 orang dengan persenjataan yang ‘apa adanya’ dibanding persenjataan Belanda  yang cukup lengkap. Ini terjadi hingga tanggal 29 November 1945. Merasa dendam karena tidak mampu merebut Gedung Sate, di Tanggal 3 Desember 1945, jam 1.00 pagi Belanda yang didukung Gurkha menyerbu Gedung Sate yang saat itu hanya dijaga oleh sekitar 21 orang Laskar rakyat dan pekerja PU (?)

Pertempuran yang tidak seimbang ini baru berakhir pada pukul 14.00 WIB. Dalam pertempuran tersebut diketahui dari 21 orang pemuda 7 di antaranya hilang. Satu orang luka-luka berat dan beberapa orang lainnya luka-luka ringan. Para pemuda yang hilang itu diketahui bernama Didi Hardianto Kamarga, Muchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, Soebengat, Ranu dan Soerjono.

Semula memang belum diketahui dengan pasti, di mana jenazah dari ketujuh orang pemuda ini berada. Baru pada bulan Agustus 1952 oleh beberapa bekas kawan seperjuangan mereka dicarinya di sekitar Gedung Sate, dan hasilnya hanya ditemukan empat jenazah yang sudah berupa kerangka. Keempat kerangka para suhada ini kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

Sementara itu, sebagai penghargaan atas jasa-jasa dari tiga orang lainnya yang kerangkanya belum ditemukan telah dibuatkan 2 tanda peringatan. Satu dipasang di dalam Gedung Sate dan lainnya berwujud sebuah batu alam yang besar ditandai dengan tulisan nama-nama ketujuh orang pahlawan tersebut yang ditempatkan di belakang halaman Gedung Sate

Dan di-setiap tanggal 3 Desember Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) rutin memperingati Hari Bakti PU. Peringatan tersebut tak sekedar mengenang kisah heroik pemuda saat mempertahankan Gedung Sate yang dulu merupakan Gedung PU dari tentara sekutu dan serdadu Belanda.

Namun, peringatan Hari Bakti PU juga bisa jadi momentum bagi semua orang PU untuk terus berjuang membangun infrastruktur yang lebih handal dan merata demi kepentingan bangsa dan negara.

MENGAPA GEDUNG SATE HANYA DIJAGA 21 ORANG !?

Dari beberapa referensi sejarah , tanggal  22 Agustus 1945pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai wadah perjuangan. Seiring dengan ancaman yang kian meningkat, pada 5 Oktober 1945, BKR kemudian diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Jawa Barat kebagian membentuk Komandemen-I TKR yang membawahkan 3 divisi. Divisi-I meliputi Keresidenan Banten dan Bogor (bermarkas di Serang), Divisi-II meliputi Keresidenan Jakarta dan Cirebon (bermarkas di Linggarjati, dan Divisi-III meliputi Keresidenan Priangan (bermarkas di Bandung).Tanggal 20 Mei 1946, ketiga divisi tersebut disatukan menjadi “Divisi Siliwangi” dan bermarkas di Tasikmalaya.

Pertanyaannya bukan itu, namun mengapa Gedung Sate saat itu hanya dijaga 20-40 orang ?, bukankah saat itu Gedung Sate ini pun bagian dari ‘tanggung-jawab & area kekuasaan’ Kolonel A. H. Nasution  selaku Kepala Staf Komandemen I/Jawa Barat – Tentara Keamanan Rakyat (TKR) 1945, dan Komandan Divisi I/Jawa Barat ?, bukankah kita punya ribuan orang  di Bandung dan Jawa arat yang juga siap ‘jihad’ demi Gedung Sate?, jika saja banyak yang menjaga Gedung Sate saat itu maka tidak akan ada korban 7 orang gugur, juga 3 pejuang yang hingga saat ini tidak juga ditemukan jenasahnya.

Pertanyaan lainnya, pertempuran ini terjadi 3 Desember 1945, namun 4 jenasah baru ditemukan sekitar Agustus 1952, atau lebih dari 7 tahun lamanya. dan 3 jenasah lainnya tidak ditemukan. Mengapa terlambat mencari?

Agh sudahlah, mari kita kirim doa saja untuk mereka agar surga adalah milik mereka. Sekarang, rakyat dan Relawan Jokowi dimana saja berada sangat berharap besar kepada Ir. Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M.Sc., Ph.D. putra kelahiran  Surakarta, 5 November 1954 yang sejak 23 Oktober 2019 lalu diminta Presiden Jokowi selaku Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).RI ini agar senantia sehat walafiat dalam meningkatkan kinerja Kementerian PUPR.RI agar lebih baik dari sebelumnya, dan kepada beliau yang akrab dipanggil ‘Om Bas’  ini kita berharap agar setiap program PUPR.RI Tahun 2020-2024 ini jauh dari korupsi.

HAPPY B’DAY PUPR.RI KE-75 TAHUN, “GASPOL OM BAS, JANGAN KASIH KENDOR !”

(Red-01/Foto.ist)

 

Tentang RedaksiKJ 1725 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan