” ACEH BANGKIT THN.2023:  MAHAYASA SMART CITY, POTENSI PAJAK & KOPI GAYO “

” ACEH BANGKIT THN.2023: 

MAHAYASA SMART CITY, POTENSI PAJAK & KOPI GAYO “

Koranjokowi.com, OPini :

“Tanggapan anda atas adanya opini jika sektor properti di tahun 2023 sebagai Tahun Kelinci air disebut akan jalan ditempat?,”, tanya saya kepada Novi Bachtiar – owner Project Mahayasa Smart City, Prov. Aceh melalui seluler (29/12) lalu.

“Jika ada yang  mengatakan situasi ekonomi global  akan memburuk di tahun 2023 itu silahkan saja , namun Indonesia telah belajar banyak karena Pandemi Covid 19 sejak thn.2020, kami selaku pelaku properti dan infrastruktur Aceh pastinya tetap optimis menatap tahun 2023. Melalui berbagai terobosan dan inisiatif baru salah satunya. Dan project Mahayasa Smart City (MSC) adalah salah satu bagian dari menjawab itu. Kami tetap meyakini jika industri properti akan tetap tumbuh positif di tahun 2023 kalau pun memasuki tahun politik 2024 bahkan disini kami harus menjadikan Opportunity & Chalange“, jawab Novi

Image

Penyediaan hunian yang layak dan murah bagi rakyat bukan melulu tugas pemerintah pusat melalui PUPR, ini hak & kewajiban para  putra daerah Aceh, apalagi  jumlah penduduk terus meningkat.  “Kebutuhan rumah setiap tahun sekitar 800.000 unit baik program Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dan Non MBR. Dulu masyarakat membayar Uang Muka sebesar 5 – 10%, kita akan mencoba mengurangi hingga 2-3,5%. Bunga bank antara 5- 7,2% , kami usahakan menjadi  2,7-3,5%. Jangka waktu cicilan yang dominan  15 tahun kedepan mengapa tidak kita siapkan pola hingga 25-30 tahun misalnya, semua bisa kok”, masih kata Novi yang sedang ‘prepare untuk pembangunan MSC di Kab. Aceh Barat, Kab. Aceh Tamiang dan Kota Langsa.

Dilanjutkan Novi, dalam rilisnya, OJK mengatakan masih akan fokus mendorong Penyediaan Pembiayaan Perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah melalui program Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) tahun 2023, termasuk beberapa kebijakan strategis lainnya terkait penyelenggaraan Tapera dalam menyediakan pembiayaan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). “Nah ini pun ada potensi baik untuk kemitraan dsb, jadi kan ngaco kalau ada yang bilang stugnan”, tutur Novi – Dirut PT.Mahayasa Satya Persada

Fakta Sejarah "Bireuen Sebagai Ibu Kota RI ke III 1947"

Novi juga mengucap syukur dimana banyak investor asing pasca pandemi Covid 19 masuk Aceh, “Saat ini Uni Emirat Arab  (UEA)  rencananya masuk di sektor properti yang menunjang pariwisata seperti hotel atau resor yang berlokasi di Sabang dan Banda Aceh, kawasan industri di Ladong, Kabupaten Aceh Besar, dan Islamic Development Estate di Banda Aceh. Mereka bahkan sudah siapkan dana sekitar US$3 miliar atau sekitar Rp.42 triliun. Namun jangan sampai Putra Daerah menjadi tamu, eheheh..”

Ini seiring sejalan dengan upaya upaya pemerintah pusat melalui Presiden Jokowi dan PUPR yang terus menggiatkan pembangunan  sejumlah infrastruktur dasar yang meliputi konektivitas, sumber daya air, permukiman dan perumahan. Termasuk pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera di Aceh yang direncanakan sepanjang 410 km yang saat ini progresnya mencapai 77% di mana seksi 3 dan seksi 4 telah beroperasi. Serta peningkatan jalan jalan nasional di Aceh. Salah satunya dengan pelebaran Jalan Bireuen – Takengon sepanjang 1,5 km. guna memperlancar arus perpindahan logistik dan orang  menjadi dua lajur , dsb.

Jalan Tol Trans Sumatera Telah Beroperasi Sepanjang 653 Km

“Semua kita syukuri bahwa mendatang akan banyak kemudahan dalam hal distribusi orang dan jasa di Aceh , juga keinginan banyak pihak ber-investasi di Aceh. Regulasi pajak, ijin, dsb harus lebih lunak kalau pun tetap tegas. Dan kami yakin Pemprov Aceh dan para kepala daerah lainnya akan seperti itu sebagaimana slogan Aceh Bangkit Th.2023” masih kata Novi.

Saat ditanya tentang progres MSC saat ini, Novi sedikit terbatuk diseluler  dan balik bertanya, “Kepo ya?”, giliran saya yang terbatuk. “Alhamdulillah sudah ada pihak yang hendak mendukung , tentunya banyak pertimbangan untuk mencari partnership, pembangunan 1000 unit rumah huni, ruko, taman bermain anak, rumah ibadah dsb kalau pun kami sudah terbiasa namun yang MSC ini kami harus tetap hati – hati dan matang karena ini pilot project untuk Prov. Aceh”, kata Novi.

Dalam penutupnya, Novi mengucapkan terima-kasih kepada Bupati Aceh Barat, Bupati Aceh Tamiang  & Walikota Langsa beserta jajarannya yang selama ini banyak mendukung program MSC, “Terima-kasih semoga rencana baik kita semua ini selalu mendapatkan kemudahan dari Allah SWT, Tuhan YME, Aamiin Yarabalalamiin”

Dilain kesempatan saya juga menghubungi Budi D. Ginting – StafSus Koranjokowi.com Prov. Sumatera utara – 1 yang juga pernah mengenal Aceh saat bekerja disana selama 1-2 tahun lalu. Selain potensi pembangunan perumahan, menurut Budi sektor pariwisata Prov. Aceh jangan dilupakan yaitu memaksimalkan perolehan pendapatan daerah melalui potensi pariwisata dan komoditas unggulannya yakni kopi Gayo

Indonesia / Netherlands: Colonel Gotfried van Daalen takes a rest during the Gajo Campaign, 1904. Aceh War (1873 - 1914)

“Dalam arti potensi properti jika dimix dengan perkebunan kopi Gayo kalau pun skala kecil ini juga merupakan terobosan dan warna lain di Aceh mendatang. Satu desa wajib memiliki kebun kopi Gayo kalau pun lahannya minim”, tutup Budi D.Ginting.
POTENSI PAJAK ACEH THN.2023
Hal lain saya minta tanggapan dari Marojahan Aruan – Stafsus Koranjokowi.com Bd.Properti & Infrastruktur  yang juga pernah punya latar belakang histori dengan ‘Tanah Rencong lalu,  mengenai potensi ekonomi Aceh tahun 2023, sederhana saja kata Aruan, “Kita lihat realisasi pajak hingga Oktober 2022 lalu telah menyerap 93% yaitu senilai Rp. 4 trilyun, inikan satu indikator jika ekonomi Aceh cukup stabil kalau pun masih didominasi pajak pertambangan & infrastruktur, kedepan kita pacu sektor wisata, properti , pertanian, kehutanan & kelautannya. Maka itulah saya setuju Koranjokowi.com berslogan ‘Aceh Bangkit Th.2023!”,
Tarif Pajak Daerah di Provinsi Aceh
Hal lain kata Aruan, baik atau tidaknya Pemda mengelola dana adalah pendistribusian dana yang ada di bank, Aceh aman soal itu sebagaimana rilis Kemenkeu RI bahwa hingga Oktober 2022 lalu jumlah dana pemerintah daerah (pemda) yang tersimpan di perbankan mencapai Rp.278,73 triliun  dan tidak ada nama Aceh karena hanya memuat Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Kalimantan Timur. “Apapun ini kan bentuk keberhasilan Gubernur Aceh dan para Bupati & walikota mendistribusikan APBN/APBD dengan baik”
PPh 23 Jasa Penambangan & Penunjang Selain Usaha Panas Bumi & Migas
JUST REMIND KOPI GAYO ACEH
Setelah berhasil menguasai pasar kopi dunia melalui “A cup of Java” yang berasal dari kebun kopi yang ditanam di kawasan Priangan, Jawa Barat. Belanda mulai berekspansi dan menanam kopi di seluruh tempat di Pulau Jawa. Namun sayangnya tidak semua tanah Pulau jawa cocok untuk ditanami kopi. Kopi dengan kualitas terbaik hanya terdapat di beberapa wilayah saja. Belanda yang masih ingin mempertahankan kekuasaanya sebagai penguasa pasar kopi dunia terus berusaha mencari wilayah lain di luar Pulau Jawa  yang cocok untuk ditanami Kopi.
Lukisan Banda Aceh pada tahun 1665 dengan latar istana sultan.

Mereka pun ‘melirik’ Aceh . Setelah masuk sekitar tahun 1800-an, barulah di tahun 1900-an Belanda menemukan sebuah dataran tinggi luas di yang dikenal dengan nama Tanoh Gayo , Menurut riset Belanda, wilayah ini sangat cocok untuk ditanami kopi. Dan dengan berbagai cara mereka ingin menguasainya, termasuk tindakan2 dzolim kepada rakyat disana.

Di Tanoh Gayo pula kemudian  Belanda membangun basis pemerintahannya di Takengon yang terletak tepat di tepi danau Laut Tawar yang permukaannya ada di ketinggian 1250 Mdpl. Kota ini kemudian berkembang menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan dan menjadi kota terbesar di Tanoh Gayo.

Perkebunan kopi jaman kolonial Belanda (sumber gambar: www.jurnalbumi.com)

Perkebunan kopi pertama yang dikembangkan Belanda di daerah yang bernama Belang Gele  terletak tidak jauh dari Kota ini. Daerah ini, kemudian dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Tanoh Gayo. Dari Belang Gele, Kopi tersebar ke segala penjuru Tanoh Gayo.

Ketika Indonesia merdeka di tahun 1945. Perkebunan kopi yang dikuasai Belanda dikembalikan kepada warga . Di masa tersebut warga Tanoh Gayo belum begitu menyadari potensi kopi. Barulah di pertengahan tahun 1950, semakin banyak warga pribumi yang membuka lahan mereka untuk menanam kopi. Bahkan sebagian banyak  yang datang dari Sumatera utara, Jawa dsb.

Nah, kini Kopi Gayo Aceh telah masuk peringkat 5 besar jenis kopi eksport  dunia dengan nilai > US$.50-60 juta kalau pun luas kebunnya hanya 81.000 hektar, selayaknya sejak tahun 2023 mendatang  nilai ekspor kopinya harus mencapai >  US$. 470-500 juta maka Aceh harus punya luasan kebun yang lebih lagi dari saat ini , ‘Satu Desa, Satu Kopi Gayo, itu mungkin rumusan sederhananya.

ACEH ADALAH BANGSA PEJUANG, SELAMAT TAHUN BARU 2023.

‘Insyallah, Aceh Bangkit 2023 !, Aamiin YRA.

(Red-01/Aruan/BudiDG/Foto.ist)

-BERSAMBUNG-

Lainnya,

 

Tentang RedaksiKJ 3343 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan