” POTENSI SINEMATOGRAFI THN.2026-2029 “
Koranprabowo.id, LifeStyle :
Siang tadi (11/3) sengaja saya menghubungi kang Agus Nur Ismail – StafSus Koranprabowi Bd. Diklat dan Sinematografi, sekedar curhat mamah dedeh tentang ‘Audio visual. Beberapa menjadi info terbaru untuk saya teruskan kepada teman relawan dimana saja, diantaranya :
” Film Charlie Chaplin masuk katagori ‘komedi bisu (silent commedy) di abad ke-20. Film-filmnya dikenal dengan penggunaan pantomim, aksi fisik lucu, dan seringkali menyelipkan drama atau kritik sosial,. Kalau pun tidak ada dialog namun ini sudah masuk audio-visual; ada suara dan gambar”, kata kang Agus mengawali diskusi.

Sinematografi adalah gabungan dari seni dan tekhnologi gambar bergerak ; video atau film. Perpaduan antara visual fotografi, pencahayaan, komposisi, gerakan kamera, dan teknik penyampaian cerita (narrative) dan yang tidak kalah penting adalah ‘Seni acting; olah tubuh, wajah, suara, gimmick, dsb.
Dalam dunia perfilman, kata kang Agus , setiap keputusan sinematografi, mulai dari pemilihan materi, artis/pemeran, peralatan, tim produksi dsb yang tepat guna maka akan menghasilkan karya yang maksimal. “Film Charlie Chaplin yang tanpa dialog pun jika dikemas dengan baik hasilnya cukup dibanggakan hampir 20 tahun dalam ratusan muungkin ribuan film2 pendek dsb. Ini juga terjadi di era Film Mister Bean, sama itu. Semua komponen berjalan optimal, ada ilmunya itu. Salah satunya di IKJ – Institut Kesenian Jakarta dsb. Maka tawaran Koranprabowo meng-agendakan kegiatan Diklat Sinematografi di Kab. Sukabumi dan lainnya, Insyaallah siap saya dukung”

Dalam perjalanannya, sejarah sinematografi Indonesia dimulai di tahun 1926 dalam film bisu berjudul ‘LOETOENG KASAROENG’ oleh NV Java Film Company. Disutradarai dan diproduseri oleh L. Heuveldorp, sedangkan sinematografernya adalah G. Krugers. Film ini dibintangi oleh para pemeran pribumi, menjadikannya sebagai film pertama yang menampilkan penduduk asli. Pemutaran film perdananya di kota Bandung tanggal 31 Desember 1926 – 6 Januari 1927 yang kemudian melegenda dan didukung Bupati Bandung pada masa itu.
Menyusul kemudian film lainnya di periode thn.1927 – 1930, yaitu : Film Eulis Atjih, Bung Roos van Tjikembang, Indonesia Malasie, Sam Pek Eng Tay, Si Pitoeng, Sinjo Tjo Main Di Film, Karina`s Zeffopoffering, dan Nyai Dasima. Namun semua masih film bisu. “Semua itu film bisu, namun hasilnya maksimal. Ada kekuatan materi dan produksi termasuk permintaan pasar dijaman itu sehingga mulailah film nasional menggeliat”
Masih kata kang Agus, hingga kemudian terbitlah Film Nyai Dasima sebagai ‘film bicara’ pertama (1932), disusul Raonah, Terpaksa Menikah (film berbicara + musik) dan Zuster Theresia. Selama kurun waktu itu (1926-1931) hampir ada 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi.

Pada periode 1933-1936, film Hindia Belanda diwarnai kisah-kisah legenda Tiongkok, di antaranya Delapan Djago Pedang, Doea Siloeman Oelar, Ang Hai Djie, Poet Sie Giok Pa Loei Tjai, Lima Siloeman Tikoes, Pembakaran Bio, dsb.
Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa potensi pekerja dan produksi film Nasional thn. 2026 – 2029 sangat baik dan menantang, tahun 2025 lalu jumlah penonton film Indonesia mencapai 82 juta orang dan diproyeksikan akan melampaui 100 juta dalam lima tahun ke depan, sementara produksi tahunan diperkirakan akan mencapai 200 judul film bioskop pada tahun 2028. Produksi lokal menguasai 65% pendapatan box office nasional pada tahun 2024, dengan 10 judul film Indonesia teratas menarik 33,5 juta penonton — jauh di atas film impor yang hanya menarik 20,1 juta penonton

Pasca Covid 19 lalu jumlah lapangan dan tenaga kerja Pariwisata Ekonomi Kreatif kembali meningkat hingga 25 – 27 juta di seluruh Indonesia, mereka tersebar selain di pelaku dan pekerja pariwisata juga disektor film, video, fotografi, dan hal terkait sinematografi lainnya. Sayang belum ada data kongkrit nya namun kita bisa ambil kesimpulan bahwa POTENSI SINEMATOGRAFI NASIONAL THN. 2026-2029 pun cukup menjanjikan.
BERSAMBUNG
(Red-01/Foto.ist)
Be the first to comment