” POTENSI SINEMATOGRAFI THN.2026-2029 “

 

” POTENSI SINEMATOGRAFI THN.2026-2029 “

Koranprabowo.id, LifeStyle :

Siang tadi (11/3) sengaja saya menghubungi kang Agus Nur Ismail – StafSus Koranprabowi Bd. Diklat dan Sinematografi, sekedar curhat mamah dedeh tentang ‘Audio visual. Beberapa menjadi info terbaru untuk saya teruskan kepada teman relawan dimana saja, diantaranya :

” Film Charlie Chaplin masuk katagori ‘komedi bisu (silent commedy) di abad ke-20. Film-filmnya dikenal dengan penggunaan pantomim, aksi fisik lucu, dan seringkali menyelipkan drama atau kritik sosial,. Kalau pun tidak ada dialog namun ini sudah masuk audio-visual; ada suara dan gambar”, kata kang Agus mengawali diskusi.

Sinematografi adalah gabungan dari seni dan tekhnologi gambar bergerak ; video atau film. Perpaduan antara visual fotografi, pencahayaan, komposisi, gerakan kamera, dan teknik penyampaian cerita (narrative) dan yang tidak kalah penting adalah ‘Seni acting; olah tubuh, wajah, suara, gimmick, dsb.

Menyusul kemudian film lainnya di periode thn.1927 – 1930, yaitu : Film Eulis Atjih, Bung Roos van Tjikembang, Indonesia Malasie, Sam Pek Eng Tay, Si Pitoeng, Sinjo Tjo Main Di Film, Karina`s Zeffopoffering, dan Nyai Dasima. Namun semua masih film bisu. “Semua itu film bisu, namun hasilnya maksimal. Ada kekuatan materi dan produksi termasuk permintaan pasar dijaman itu sehingga mulailah film nasional menggeliat”

Masih kata kang Agus, hingga kemudian terbitlah Film Nyai Dasima sebagai ‘film bicara’ pertama (1932), disusul Raonah, Terpaksa Menikah (film berbicara + musik) dan Zuster Theresia.  Selama kurun waktu itu (1926-1931) hampir ada 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi.

Pada periode 1933-1936, film Hindia Belanda diwarnai kisah-kisah legenda Tiongkok, di antaranya Delapan Djago Pedang, Doea Siloeman Oelar, Ang Hai Djie, Poet Sie Giok Pa Loei Tjai, Lima Siloeman Tikoes, Pembakaran Bio, dsb.

Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa potensi pekerja dan produksi film Nasional thn. 2026 – 2029 sangat baik dan menantang, tahun 2025 lalu jumlah penonton film Indonesia mencapai 82 juta orang dan diproyeksikan akan melampaui 100 juta dalam lima tahun ke depan, sementara produksi tahunan diperkirakan akan mencapai 200 judul film bioskop pada tahun 2028. Produksi lokal menguasai 65% pendapatan box office nasional pada tahun 2024, dengan 10 judul film Indonesia teratas menarik 33,5 juta penonton — jauh di atas film impor yang hanya menarik 20,1 juta penonton

BERSAMBUNG

(Red-01/Foto.ist)

Tentang Koran Jokowi 4251 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan