
Diari Kita :: Tgl.25 – 30/08/2025
1. Setelah kalangan buruh selesai melakukan unjuk rasa di DPR dan Patung Kuda Jakarta kemarin, suasana di kawasan sekitar Senayan justru tambah memanas. Aparat kepolisian yang berusaha membubarkan massa mendapat perlawanan, sehingga terjadi ricuh. Dalam situasi itu seorang pengemudi ojol sepeda motor bernama Affan Kurniawan (21 tahun) ditabrak hingga tewas oleh kendaraan taktis lapis baja Brimob di kawasan Pejompongan, tak jauh dari kawasan DPR. Kabar kematian Affan menyulut protes sesama ojol dan warga di Mako Brimob, Kwitang Jakpus, hingga 28/8 dini hari ini.
3.Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sudah meminta maaf atas kejadian tersebut, dan berjanji akan menghukum berat 7 anggota Brimob yang berada di dalam mobil penabrak Affan.
4.Presiden Prabowo pun sudah menyampaikan agar rakyat mempercayai kepemimpinannya.
5. Ahmad Sahroni dicopot dari jabatannya sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR dan menjadi anggota biasa. Pencopotan berdasarkan surat yang diteken oleh Ketua Fraksi Nasdem DPR Viktor Laiskodat. Jabatan itu dialihkan kepada Rusdi Masse Mappasessu. Kata Viktor, rotasi penugasan terhadap Sahroni merupakan langkah strategis di tengah adanya sorotan publik terhadap dinamika politik nasional. Sahroni yang juga menjabat sebagai bendahara umum Partai Nasdem, mendapat sorotan publik setelah dia mengeluarkan komentar terhadap para pengunjuk rasa yang menuntut pembubaran DPR sebagai “orang tertolol sedunia”.
4. Pemerintah mengaku akan mempelajari lebih dulu putusan MK yang melarang menteri dan wakil menteri merangkap jabatan sebagai pejabat negara di lembaga lainnya, termasuk BUMN. Mensesneg Prasetyo Hadi mengatakan, akan berkoordinasi dulu dengan presiden dan pihak terkait lainnya. Putusan MK atas perkara No. 128/PUU-XXIII/2025, yang dibacakan dalam sidang MK kemarin, pada intinya melarang menteri merangkap jabatan. MK memberi waktu 2 tahun kepada pemerintah untuk menjalankan putusan tersebut. Sebagian besar wakil menteri kabinet Prabowo-Gibran merangkap jabatan sebagai komisaris di berbagai BUMN, yang menyulut protes keras dari masyarakat.
5. Rupiah melemah tajam ke Rp16.500 per dolar AS dan IHSG anjlok lebih dari 2%. Pelemahan pasar bukan semata akibat aksi demo, melainkan karena ketidakmampuan pemerintah merespons tuntutan rakyat, dari reformasi perpajakan hingga efisiensi belanja negara. Situasi ini makin paradoksal ketika publik melihat elite politik sibuk mempertahankan privilese, mulai dari rangkap jabatan wakil menteri di BUMN hingga tunjangan fantastis DPR, sementara biaya hidup dan berbagai kesulitan ekonomi rakyat terus melonjak. Kombinasi ekonomi yang rapuh, politik yang defensif, dan hukum yang gagal memberi kepastian, hanya memperdalam krisis kepercayaan yang kini berimbas langsung ke stabilitas pasar.
(Red-01/Berbagai sumber)
Be the first to comment