DUA WARNA, DUA PRIBADI?
“Penggunaan visual warna merah dan hitam melambangkan jiwanya yang gemar memprovokasi, memberontak, dan mencari panggung kegaduhan di luar. Sementara sisi hitam melambangkan kenyataan bahwa ia dengan kesepiannya kini telah melangkah masuk ke dalam lingkar kekuasaan formal, menikmati fasilitas negara, dan terikat aturan birokrasi istana. Pembelahan visual ini memancarkan pesan dualitas yang telanjang di mata relawan / publik—sebuah pertarungan identitas antara idealisme masa lalu yang garang dengan kenyataan kenikmatan istana dan popularitasnya sebagai pejabat publik, ngehe kan?, ahaha.
“…Sesungguhnya dia itu kesepian, makanya butuh asupan POPULARITAS POLITIK DAN PUJIAN PUBLIK!” demikian cetus Nyonya BurHan Isabel—burung hantu hippies peranakan Afrika- Sunda Cianjur yang juga cenayang kondang di Republik Fabeliano, saat live di podcast pribadinya, “CURHAT DONG”, yang memiliki 42 juta viewers.
.
Tiba-tiba, ponselnya berdering ,
“Curhat Dong! Halo Nyonya BurHan… Kami hewan relawan Gibran dan Bapak Jokowi garis keras sejak tahun 2012! , Nama saya Koh Modo, komodo peranakan Tionghoa asal Cagar Alam Wae Wuul, Manggarai Barat, NTT. Mahasiswa Sospol semester VI,” suara di seberang telepon terdengar menggebu-gebu. “Silahkan, apa tanggapan atau kritik anda”, jawab Nyonya BurHam.
ROCKY JADI KORPRI ?
“Melalui podcast ini, saya mengikuti diskusi ini sejak awal. Saya tawarkan dua ide untuk hal ini, Nyonya. Yang Pertama, bagaimana kalau Rocky diangkat saja jadi PNS-RI kalau pun usianya 67 tahun , dia bisa masuk golongan Jabatan Fungsional Ahli Utama serupa Guru Besar/Profesor dan Peneliti Ahli Utama ?, sehingga dia akan pakai seragam batik KORPRI kemana mana. Dan tidak bisa ‘asal nguap’ karena terikat UU Aparatur Sipil Negara (ASN). Kedua, tolong sampaikan ke Presiden RI agar Rocky ‘dihibahkan’ saja ke sini, ke Republik Fabeliano. Biar dia bebas bicara tolol dan dungunya dengan semua hewan di sini yang memang tidak ada aturan birokrasi, dan bukan di dalam istana RI sebagai bangsa dan negara besar yang beradab!”
Tuuutt… tuuutt… tuuut!
Telepon terputus,
Nyonya BurHan menutup sesi live-nya.
Ikan hiu muter-muter, see you later!
Dari Bandung, Kita Lawan!
BERSAMBUNG
(Red-01/Foto.ist)
Be the first to comment