#RepublikFabeliano,
“SEANDAINYA GUA GIBRAN !?”
Semalam (7/10), suasana sebuah halaman Ballroom yang terletak diantara Istana negara Republik Fabeliano demikian ramai dan penuh sesak. Ratusan pasang mata hadir memadati area untuk menyaksikan babak final Lomba Pidato Seandainya Periode 2026–2029. Lomba ini diikuti oleh perwakilan mahasiswa hewan se-Republik Fabeliano. Aturannya unik: peserta bebas berandai-andai , bisa menjadi para pengguna APBN/APBD (pejabat publik), selebritas, atlet, pengamen, hingga tukang cilok.
.
Tepat pukul 19.15 WIB, Ketua Panitia, Nyonya Bangau, naik ke pentas membuka acara. Kemudian mengajak naik Presiden Republik Fabeliano – Miss Pussy Noni dan anggota kabinet lainnya ; Jenderal Bruno Ono, Jenderal Srijag dan Nona Anoawati untuk naik juga.

.
“Saudara-saudara sekalian,ke-4 tokoh besar ini sengaja saya minta naik karena beliau ini adalah donator pribadi acara ini, dari beliau kami mendapatkan donasi Rp.10 miliar sebagai hadiah, beasiswa 12 finalis , kosumsi, sewa venue, publikasi dsb. Dan mereka telah membuat pakta integritas bahwa dana tersebut adalah pribadi bukan dari APBN, ya”, penonton berdiri dan bertepuk tangan.
.
“Oke para saudara sekalian, tadi sudah kita dengar bersama pidato dari 12 finalis lainnya yang menyampaikan andai mereka menjadi Menteri, Gubernur, Bupati, Pemilik Yayasan MBG, Kontraktor Koperasi Desa, Rocky Gerung, Kepala Bakom Syahganda Nainggolan, Denny Indrayana, Roy Suryo, hingga Kepala BGN. Maka, peserta terakhir malam ini adalah nomor peserta 58 bernama MALEO, usia 27 tahun, mahasiswa Fakultas Sastra tingkat IV dari Universitas Siliwangijaya. Waktu dan tempat kami persilakan!”

.
“Para hadirin semua, sebelum saya membacakan teks pidato saya, perkenalkan: saya adalah MALEO. Burung langka (Macrocephalon maleo) yang dilindungi di tanah Sulawesi. Fisik saya mungkin mirip ayam hitam biasa, namun manusia menyebut kami sebagai salah satu hewan paling cerdas di bumi.
Mengapa? Karena kami tidak seperti burung berkicau yang berisik dan gemar panjat sosial (pansos). Kami punya kehidupan yang tenang, namun paruh dan jambul kami memiliki sensor alami yang mampu mendeteksi panas bumi (geotermal). Kami menggunakannya untuk mengubur telur di dalam pasir dengan suhu yang luar biasa pas, agar tidak mudah diendus oleh predator seperti biawak.
Bahkan sejak menetas, bayi MALEO sudah wajib mandiri. Mereka harus mencakar dan menggali pasir pekat sendirian ke permukaan bumi, lalu langsung bertarung hidup-mati menghadapi predator alami seperti ular, biawak, dan tikus.”
.

.
Mendengar prolog tersebut, tepuk tangan ratusan penonton bergemuruh memenuhi ballroom.
“Saya lanjutkan sedikit lagi…” Maleo menjeda kalimatnya, tersenyum tipis. “Manusia juga kerap menyebut kami sebagai Deceptive Animal—hewan penipu. Tapi bukan menipu urusan MBG atau Koperasi Desa. Kami disebut penipu karena kami sangat pandai membuat puluhan lubang dan sarang palsu di sekitar sarang asli kami. Itu adalah taktik tipuan mutakhir untuk mengecoh musuh-musuh kami.” Seketika seluruh hadirin berdiri. Mereka berteriak, “MALEO! MALEO! MALEO!” secara berulang-ulang, membuat 11 finalis lainnya langsung terduduk lemas di kursi belakang.
.
Maleo menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat mikrofonnya kembali.
“Di malam final ini, saya akan membawakan pidato berjudul ‘SEANDAINYA GUA GIBRAN!?’ Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, salam damai dan sejahtera untuk kita semua.
.

Saudara-saudara sekalian…
Pada tahun 2020, saya ‘diminta’ oleh PDIP, Golkar, Gerindra, PAN, PSI, PKB, Nasdem, PPP, dan Perindo bersama Teguh Prakosa untuk maju dalam Pilwalkot Solo. Warga Solo butuh pemimpin muda, begitu kata mereka saat itu. Saya ambil tantangan itu, saya buktikan, dan kami berhasil meraih 86,53 persen suara atau setara dengan 225.451 suara. Warga memberikan kepercayaan penuh. Kami pun langsung bekerja membangun, memperindah, menyapa—dan Solo pun tersenyum.
Kami dinilai berhasil di bidang infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, dan pariwisata. Atas kinerja nyata tersebut, kami bahkan dianugerahi penghargaan Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha oleh pemerintah pusat pada tahun 2024. Kalau kemudian muncul narasi miring bahwa saya yang mengemis, gua tolak waktu itu ikut Pilwalkot!
.

…. Saudara sekalian. Ingat, pasca-Covid-19, ekonomi Solo sempat terpuruk hingga minus 1,74%. Namun, hanya dalam waktu singkat di tahun 2022, kami berhasil membawa pertumbuhan ekonomi Solo melesat hingga 6,25%. Angka pertumbuhan yang kemudian tercatat sebagai salah satu kota yang tertinggi di Indonesia.
Hingga akhirnya, datang panggilan dari Jakarta. Bukan dari satu pintu, melainkan dari banyak pintu sekaligus. Bahkan saya ingat betul, menjelang pendaftaran, Capres Prabowo Subianto menemui ayah saya, Jokowi, hingga 5 kali demi meminta restu agar saya bersedia menjadi cawapresnya. Para ketua umum parpol yang memiliki modal suara gabungan di atas 65,5 juta suara—mulai dari Gerindra, Golkar, PAN, Demokrat, hingga PSI, PBB, Gelora, Garuda, dan Prima—semuanya mengangguk setuju.
Ingat baik-baik: Bukan saya yang meminta, tapi mereka yang butuh saya!. Kalau kemudian muncul narasi miring bahwa saya yang mengemis, gua tolak waktu itu jadi cawapres!
.

Suasana hening, MALEO menghampiri penonton terdepan menyalaminya dengan hangat. “Saya dianggap mampu menarik suara generasi muda yang saat itu berjumlah sekitar 55 juta pemilih. Kalkulasi saya matang, mereka punya modal suara dari 4 parpol pendukung besar kami yaitu sekitar 65 juta maka minimal 70 juta suara harusnya kami dapat di Pilpres 2024. Maka dengan penuh keyakinan, saya berdiri dan berkata kepada semua orang ,“Tenang Pak Prabowo, saya sudah ada di sini!” Kalimat ini kemudian meledak seolah menjadi lahar panas politik, menghancurkan apapun barikade yang mencoba menghalangi jalan kami. Kalau kemudian sekarang muncul narasi saya nggak bisa kerja, mereka lupa bagaimana saya membantai para cawapres lain saat debat , kalau itu pun dianggap angin lalu karena sudah 2 tahun, mending gua tolak waktu itu jadi cawapres, asem banget !!! ..”, MALEO tiba-tiba menghentikan suaranya. Matanya tajam menatap rembulan dilangit, dan penonton pun mengikuti melihat bulan.
‘Bluup..!!
Tiba tiba Listrik padam,
Semua gelap gulita.
BERSAMBUNG
(Red-01/Foto.ist)
(Red-01/Foto.ist)
Be the first to comment