DIN SYAMSUDIN BILANG GINI, NGABALIN BILANG GITU.AHAHAH.

DIN SYAMSUDIN BILANG GINI, NGABALIN BILANG GITU.AHAHAH.

KoranJokowi.com, Bandung : Seperti pepatah bilang ‘Jika ada dua gajah bersiteru maka akan ada pelanduk yang mati disitu.

Namun semoga perumpaan ini tidak seperti Itu, namun ada satu satu hal yang mungkin ‘mirip’?, silahkan simpulkan sendiri atas perseteruan 2 tokoh dibawah ini.

Sudara sudara, saat ini sedang viral ‘tidak harmonisnya’ hubungan antara Ali M.Ngabalin – Staf ahli Kantor Staf Presiden (KSP) dengan Din Syamsudin.

Ngabalin, menyayangkan diksi Din Syamsuddin dalam mengkritik tawaran Wamendikbud kepada Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti Pre-Reshuffle Lalu yang dianggap Din merendahkan Muhammadiyah.

Ngabalin menyinggung saat Din menerima jabatan Utusan Khusus Presiden Jokowi.”Pak Din itu kan profesor, bukan provokator. Kenapa diksinya menggunakan diksi-diksi yang memprovokasi. Nggak boleh begitu, itu nggak bagus bagi kalangan kader dan Muhammadiyyin,” kata Ngabalin kepada Pers lalu.

Ngabalin heran terhadap sikap Din. Padahal, kata Ngabalin, Din tidak malu-malu bahkan menerima saat ditawari menjadi Utusan Khusus Presiden Jokowi tahun 2017 Lalu.

“Kan beliau mantan Ketua Muhammadiyah, mantan Ketua MUI, profesor doktor kok tumben sekarang baru bicara malu. Dulu waktu ditawari jadi Utusan Khusus Presiden kok tidak malu dan menerima,” imbuh Ngabalin.

“Masa sih semua yang dilakukan pemerintah itu buruk di mata Pak Din, Itu pernyataan yang sinis, segeralah move on,” masih kata Ngabalin.

Sudara sudara, dan sobat KoranJokowi.com dimana saja berada. Hal ini dimulai dengan pernyataan Din sebelumnya, yang menilai sikap Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti karena menolak jabatan Wamendikbud, sudah tepat. Din mengatakan anggota Muhammadiyah memang tidak gila jabatan.

“Penolakan Prof Dr Abdul Mu’ti, MEd, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, untuk menjadi Wamendikbud adalah sikap yang tepat. Hal itu mencerminkan sikap seorang anggota Muhammadiyah sejati yang antara lain tidak gila jabatan, menolak jabatan yang tidak sesuai dengan kapasitas, dan beralasan tidak berkemampuan mengemban amanat adalah  sikap tawadu. Karena Jabatan yang merendahkan marwah organisasi “demikian Din kepada Pers (24/12) Lalu.

“Penunjukan Prof Dr Abdul Mu’ti, MEd, sebagai Wamendikbud bernada merendahkan organisasi Muhammadiyah yang besar, pelopor pendidikan, dan gerakan pendidikan nasional yang nyata. Seyogianya Presiden memiliki pengetahuan kesejarahan dan kebangsaan sehingga dapat menampilkan kebijaksanaan untuk menempatkan seseorang dan sebuah organisasi pada tempatnya yang tepat,” tambah Din.

Demikian, mohon maaf jika penggunaan pribahasa diatas kurang tepat, namun pertanyaannya yang jadi ‘pelanduk’ iku sopo ?

Sudara sudara, Paham !?

(Red-01/Foto.ist)

Tentang RedaksiKJ 1045 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan