
MENGAPA ANIES BASWEDAN SELALU BENAR SEJAK TAHUN 2017 ?
KoranJokowi.com, Bandung : Masih ingat ‘hebohnya’ Patung/Instalasi bambu “Getih Getah” atau biasa disebut warga sebagai Patung Bambu di sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat lalu?, iya, … Relawan Jokowi saat itu menamakannya ‘Patung Mesum, karena dari udara/drone memang mirp seperti itu. ‘Maaf, Ahaha.
Saya pernah kesana tepat satu hari sebelum dibongkar Rabu (17/7/2019) malam, tepat saat Car Free Day (14/3) saat disana saya sempat bertanya keseorang pekerja mengapa akan dibongkar?, “Banyak orang bilang ini Patung maksiat bang”, .. ‘Hagh, Ahahah…
Sejarah Patung ini dimulai saat Gubernur Anies Baswedan berharap ada sebuah karya seni dari material khas Indonesia dalam rangka menyambut perhelatan Asian Games 2018. Yang kemudian kita tahu biayanya sekitar Rp.550 juta.
Saya sih tidak sepakat atas tudingan ‘Patung Mesum atau Patung Maksiat, yang jelas saat dari dekat saya lihat memang kondisinya sudah tidak layak apalagi berada di Jalan protokol tingkat dewa, pastinya juga ini diluar dugaan si-pembuat yaitu Joko Avianto dan si-pemesan, Gub. DKI Jakarta.
Dan, bagaimana bisa Patung itu diresmikan pada 16 Agustus 2018 kemudian dibongkar 17 Juli 2019, hanya 11 bulan umurnya untuk seharga Rp. 550 juta ?
Kini, ada lagi yang sedang seru di Ibukota Jakarta, bukan soal kenaikan angka Covid 19 kalau pun pasca Lebaran lalu mengalami lonjakan drastis. Bahkan, rilis Kemenkes RI mencatat angka kumulatif kasus Covid-19 di Jakarta mencapai 463.552 kasus hingga saat ini (20/6) dan 24.511 orang masih berstatus pasien aktif Covid-19 di DKI Jakarta.
Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan, ini masalah ‘cemen saja, yaitu tentang Jalur sepeda permanen di Jalan Sudirman-Thamrin Jakarta sekitar 63 Km diusulkan warga agar dibongkar karena dianggap ‘tidak penting dan boros anggaran padahal targetnya akan dibangun sekitar 500 Km, dengan dana Rp. 28 – 62 milyar (?), berarti masih ada sekitar 437 Km yang belum dibangun Gub.DKI Jakarta.
Keinginan warga itu bahkan sudah ‘direstui Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. “Kami setuju masalah yang permanen itu dibongkar saja,” Nah lu !, ini sebagaimana disampaikan Kapolri saat saat rapat dengar pendapat Komisi III/DPRRI dengan Kapolri Listyo Sigit Prabowo di gedung DPR pada Rabu, 16 Juni 2021 lalu.
Warga pun menilai sejak lama jika jalur sepeda permanen itu memang tidak efektif dan lebih baik digunakan untuk membangun infrastruktur pesepeda dan harus disesuaikan dengan konsidi lebar jalan. Jika bike path seperti jalur khusus sepeda idealnya seperti di KBT Kalimalang Bekasi-Jaktim. Lalu, bike lane yaitu lajur sepeda seperti yang sudah banyak dibangun di Jakarta. Kemudian, bike route yakni rute sepeda yang hanya berupa rambu dan marka di titik-titik persimpanan jalan. Sederhananya, semua disesuaikan dengan lebar jalan, semakin lebar semakin baik dengan urutan bike route (sempit), bike lane (sedang), bike path (lebar).
Tidak disini saja, bahkan warga mempertanyakan rencana Pemprov DKI Jakarta yang tengah membangun Tugu Sepeda senilai Rp. 800 juta. Kata Pemprov DKI Jakarta pandemi Covid-19 telah menyadarkan warga DKI pada khususnya, betapa pentingnya berolah raga. Salah satu bentuk olah raga yang masif dilakukan ialah gowes sepeda. Maka Pemprov DKI Jakarta pun merasa wajib ‘menyediakan jalur khusus bagi pesepeda, dan juga membuat tugu sepeda sebagai pengingat masifnya penggunaan sepeda gara-gara pandemi Corona atau COVID-19. ‘Oke Lagh kalau begitu….
Nagh , mengapa Anies selalu benar?,
Kesatu, karena saat Pilgub Jakarta 2017 yang memilih Anies-Sandi > 3,240 juta (57,9%) dari 5,3 DPT sehingga layak menjadi GUbernur DKI Jakarta Thn.2017 – 2022
Yang ke-2, jumlah kursi DPRD DKI Jakarta dari 106 kursi … (anggap saja) … terbagi atas 2 kelompok, Pro dan anti Anies;
YANG ANTI ANIES : 52 KURSI
- Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) : 25 kursi
- Partai Solidaritas Indonesia (PSI) : 8 kursi
- Partai Nasional Demokrat (NasDem) : 7 kursi
- Partai Golongan Karya (Golkar) : 6 kursi
- Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) : 5 kursi
- Partai Persatuan Pembangunan (PPP) : 1 kurs
YANG PRO ANIES : 54 KURSI
- Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) : 19 kursi
- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) : 16 kursi
- Partai Demokrat (PD) : 10 kursi
- Partai Amanat Nasional (PAN) : 9 kursi
Paham?
Ogh Ya untuk teman Relawan Jokowi di Jakarta, sudah prepare belum akan masuk musim penghujan. Kalau masih parno Jakarta Banjir lagi seperti kemarin – kemarin, bagaimana jika MONAS taruh dulu di Gn. Tangkuban Perahu. Mohon maaf lahir bathin lho.
Ahahahaha.. ‘Cus.
(Red-01/Foto.ist)
Be the first to comment