PRESIDEN JOKOWI & SELAMAT DATANG HARI GAJAH LAMPUNG BARAT !! – (2)

“PERJALANAN PEJUANG HIDUP BERNAMA TRANSMIGRAN JAWA DARI MASA KEMASA”

KoranJokowi.com, Bandung : Teman, sebelum membacanya tulisan ‘gaya-bebas’ ini baiknya persiapkan dahulu Kopi panas pahitmu dan bolehlah didorong juga dengan sedikit ‘cemilan-cepuluh, biar lebih ‘asyik’. Oke, Teman. Sejak masa penjajahan Belanda, Lampung telah menjadi daerah kolonisasi untuk menampung ‘kelebihan’ penduduk dari Pulau Jawa dan sekitarnya. Hingga masa orde-baru dan seterusnya.

TRANSMIGRASI ITU KOLONISASI DI ERA-HINDIA BELANDA, BUKAN BUDAK ?

Dalam kaca-mata Hindia Belanda kepadatan jumlah penduduk khususnya di pulau Jawa yang terus meningkat akan menjadi ‘bom-waktu, ini sudah diamati mereka di periode tahun 1890-1900 dimana  penduduk Pulau Jawa bertambah sekitar  200-300 jiwa/Km2 pertahunnya. Saat itu diperkirakan penduduk Pulau Jawa mencapai
angka 28.746.638 jiwa kemudian meningkat drastis pada 1920 menjadi lebih dari 34.984.171 jiwa

Maka dibuatlah  program/strategi/konsep ‘Kolonisasi’ (Kolonisatieproof), mobilisasi perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah-lain. Pastinya dengan iming-iming menarik hati; Kesejahteraan penduduk, kesehatan, edukasi , irigasi, dsb, titik. Tetapi sejatinya tidak demikian brow, sis.  Karena mereka mempunyai agenda lain  untuk kepentingan kolonialisme yang telah sekian lama meraup keuntungan sejak masa VOC dan Hindia Belanda, juga untuk masa mendatang. Mereka tidak ingin kenikmatan penjajahan ini berkurang, ‘Asem !

Ini  belum kemudian dijaman penjajahan Jepang ya, karena saat itu juga mereka melakukan Kolonisasi atau bilbahasa Jepangnya  ‘kokuminggakari’ dimana sebagian diantaranya adalah pekerja Romusha yang mayoritas dikirim kewilayah Lampung. Namun juga sebagian dari perempuan Indonesia saat itu dipaksa menjadi “Jugun Ianfu – Budak Seks’mereka. Untuk hal ini pastinya akan kita kupas secara ‘jujur’ dilain tulisan.
Dan kita tidak perlu berbohong atau malu  jika mereka itu juga dipekerjakan atau disebut sebagai BUDAK PULAU JAWA, karena sesungguhnya mereka pun layak disebut juga sebagai “Pejuang Tanah Air’. Jangan lupa teman, bahkan sejarah pun telah menuliskan Perang Jawa selama periode tahun 1825 – 1830 yang dipimpin Pangeran Harya Dipanegara ( Pangeran Diponegoro) salah-stuunya karena menolak Kolonisasi yang menjelma menjadi ‘perbudakan’.
Bagaimana dengan ‘Urang Sunda?, saya pikir tokoh Pangeran Kornel (Pangeran Kusumadinata XI/  Surianagara III/  Raden Asep Djamu) – Bupati Sumedang tahun 1791-1828 yang menolak adanya perbudakan/Rodi itu telah mewakili untuk hal ini, untuk detil silahkan buka link ‘Cadas Pangeran’.

Oke Teman kita lanjutkan. Singkat ceritera, Di sumber lain disebutkan pemerintah Hindia Belanda menugaskan Asisten Residen Sukabumi H. G. Heyting agar mengadakan penelitian untuk hal itu, khususnya memindahkan segera penduduk Pulau Jawa ke Lampung.  Kemudian hal ini terjadi dalam beberapa gelombang program Kolonisasi yang kemudian diperhalus sebagai ‘Transmigrasi’ khususnya ke Lampung. Dalam berbagai sumber lain disebut  sejak tahun 1830 telah ‘dikirim; lebih dari 80.000 penduduk Pulau Jawa sebagai ‘transmigran’ hingga tahun 1930-an. Mereka tidak semua datang secara IKHLAS, namun mayoritas memang dipaksa agar situasi politik, sosial dan ekonomi dalam pandangan Belanda tetap kondusif, mereka dipaksa berjalan kaki, menembus gunung, menyebrang lautan bahkan banyak yang tidak sampai ketujuan karena mati kelaparan, sakit, dsb.

Teman, apakah enak menjadi Transmigran disaat itu?, Bagaimana enak karena mereka diperlakukan ibarat khewan, diusir dari tanah miliknya, dan dilepas untuk melanjutkan hidup di hutan-hutan liar sekitar Lampung. Jika menolak?, mati adalah pilihannya, Belanda maupun Jepang tidak memberikan pilihan lain.

Mereka pun diberlakukan sebagai budak untuk mengurus perkebunan milik Belanda, tanpa upah memadai, banyak kemudian yang melarikan diri namun mereka tetap tertangkap atau dibunuh diitempat jika dirasa Belanda ‘merepotkan’. Bahkan mereka yang melarikan diri ke hutan akan menjadi semacam ‘khewan-buruan’ dimana mereka akan dikejar-kejar anjing-anjing liar milik Belanda juga Jepang.

“Lalu kapan Hari Gajah Lampung Barat itu terjadi?”,

“Sabar…..

-BERSAMBUNG-

(Red-1/Foto.ist)

 

Before,

https://koranjokowi.com/2020/10/17/selamat-datang-hari-gajah-lampung-barat/

 

 

Tentang RedaksiKJ 1421 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. | KORAN JOKOWI | Media Independent Relawan
  2. LAMPUNG BARAT DENGAN SEJUTA MASALAH, TERMASUK DI KEC. SUOH  !!!? – (2) | KORAN JOKOWI | Media Independent Relawan

Tinggalkan Balasan