Diary, GUNTUR SUKARNOPUTRA 1944 – 2022 (14), WASPADA TERHADAP KUASANYA KERONGKONGAN

Diary, GUNTUR SUKARNOPUTRA 1944 – 2022 (14),

WASPADA TERHADAP KUASANYA KERONGKONGAN

KoranJokowi.com, Jakarta : Indonesia disaat-saat reformasi ini selain mencapai kemajuan-kemajuan fisik yang sangat mengagumkan seperti dibangunnya infrastruktur jalan-jalan di seluruh kawasan negeri, dibangunnya lumbung pangan yang luar biasa luasnya, bendungan-bendungan/waduk-waduk yang dapat menampung air berjuta-juta m3 bahkan bandara-bandara udara, Stadion Modern, bahkan sirkuit balap motor bertaraf internasional.

Semua ini adalah hasil kerja keras pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo Dalam 2 periode kepemimpinannya.  Hasil kerja pemerintah ini diakui oleh sebagian terbesar bangsa Indonesia namun ada sebagian kecil oknum-oknum bangsa ini yang seolah buta atau sengaja membutakan diri dari kenyataan-kenyataan tersebut diatas dan terus menerus menembakan kritik-kritik bahkan hujatan-hujatan kepada terutama pribadi Presiden Jokowi.

Menghadapi hal ini Jokowi tampaknya mengambil sikap menahan diri dan menganggap hal tersebut adalah konsekuensi adanya kehidupan demokrasi di Indonesia. Kita kaum Patriotik melihat sikap tersebut terus terang angkat topi namun disertai rasa “khawatir” mengingat adanya peringatan Bung Karno beberapa dekade yang lalu yaitu adanya sebuah artikel yang ditulis oleh Bung Karno di dalam Kitab Dibawah Bendera Revolusi jilid 1 yaitu: ”Kuasanya Kerongkongan”.


Disitu Bung Karno menulis antara lain: Adolf Hitler berkata “Gobloklah orang yang mengatakan sedikit bicara banyak bekerja”. Semboyan kita harus: ”banyak  bicara, banyak bekerja”. Mengacu kepada teorinya Willy Munsenberg, Bung Karno berpendapat kerongkongan seseorang mengambil peran sangat penting di dalam propaganda sebagai senjata, bahkan sistematikanya Hitler dengan Nazi nya, di dalam mereka punya kerja kerongkongan adalah lebih teratur walaupun propaganda-propaganda Hitler dengan kaum Nazi nya isinya adalah propaganda barang yang bohong, tidak mendidik tidak menanam keyakinan, melainkan hanyalah memabokkan serta menyilaukan.

Tidak ditujukan kepada akal, tidak diarahkan kepada pikiran tetapi hanyalah suatu appell ans gefull, memanggil kepada rasa saja, memanggil kepada sentimen belaka. Walaupun begitu dengan kuasa kerongkongannya Hitler berhasil memobilisasi pengikut yang jumlahnya jutaan manusia di Jerman, khususnya kaum borjuis kecilnya (Kleine Burgentum).

Pengikut-pengikut tadi tidak perlu sadar, tidak usah berfikir, bahkan tidak perlu semuanya menjadi anggota partai Nazi yang penting mereka asalkan bergerak, asalkan tertarik dan mengalir. Semboyan Hitler adalah propaganda cari pengikut; organisasi cari anggota. Dengan kuasanya kerongkongannya akhirnya Hitler berhasil membekuk negara. Menguasai negara Jerman dan menjadi Fuhrer yang bercakrawarti dengan hebatnya di Jermania Raya.

See the source image

Sebenarnya ada tokoh Lain yang kerongkongannya juga luar biasa hebatnya namun Ia tidak berhasil membekuk negara (menguasai negara) yang menurut Trotzky dalam bukunya yang terkenal “Kehidupanku” menulis bahwa pidato propaganda dari Jean Jaures seorang pemimpin buruh Prancis yang pidato-pidato propagandanya laksana air terjun yang mengbongkar bukit bukit karang.  Namun sayang sebelum ia dapat membekuk negara Perancis, sebelum ia dapat menguasai Prancis ketika sedang berpidato berapi-api Ia dibunuh oleh seorang agen Kapitalis Prancis pada Agustus 1914

Situasi Kondisi Indonesia Saat Ini

Dari tinjauan sejarah Indonesia ada beberapa tokoh-tokoh Indonesia yang kerongkongannya sedemikian hebatnya sehingga dapat memobilisasi massa, seperti H.O.S. Tjokroaminoto yang bergelar Raja Jawa tanpa Mahkota dan kerongkongannya mengeluarkan suara laksana burung perkutut yang sedang manggung. Walaupun tidak sehebat kerongkongannya Tjokroaminoto figur Tan Malaka dapat juga dikategorikan seorang orator yang ulung begitu pula dengan Bung Tomo yang pidato-pidatonya menggelegar di seantero Jawa Timur khususnya Surabaya ketika pertempuran 10 november 1945 di Surabaya berlangsung.

Kerongkongannya membakar semangat arek-arek Surabaya untuk bertempur menyabung nyawa melawan pasukan kolonialisme Inggris yang ketika itu merangsek masuk Surabaya. Selanjutnya sudah barang tentu Sukarno yang mendapat gelar “Singa Podium” Indonesia.

See the source image

Pada era reformasi saat ini rasa-rasanya Indonesia belum mempunyai lagi orator-orator sekaliber jago-jago kerongkongan seperti yang disebutkan di atas apalagi sekaliber “Singa Podium Sukarno”.

Namun saat ini banyak oknum-oknum yang menggunakan kerongkongannya untuk mencari pengikut sedemikian rupa agar bisa membekuk dan menguasai negara, tetapi sayangnya apa-apa yang mereka lakukan bukannya propaganda yang sebenar-benarnya propaganda yaitu, propaganda yang mengutarakan kebenaran-kebenaran, propaganda yang disandarkan kepada hal-hal yang tidak bohong belaka.

Sebenarnya apa yang mereka lakukan adalah sekedar berteriak-teriak menggunakan kerongkongannya dengan penuh emosi yang bersifat anarko-sindikalisme, ke kiri kirian radikal yang berupa insureksi (pemberontakan) dan ujung-ujungnya akan berdarah-darah serta chaos. Untuk menarik massa mereka biasanya menggunakan jargon-jargon keagamaan khususnya Islam terutama untuk menarik kalangan masyarakat awam yang kurang pendidikan terutama di kalangan keagamaan Ortodox yang tidak berpikir rasional dan miskin pengetahuan. Walaupun begitu bila hal tersebut tidak diantisipasi dengan benar dan dibiarkan berlarut-larut teriakan-teriakan nya tadi akan dapat diikuti secara buta oleh berjuta massa yang awam.

See the source image

Hal inilah yang menurut hemat penulis perlu segera diatasi dan diantisipasi karena seperti tulisan Bung Karno bahwa kerongkongan suatu saat dapat menguasai bahkan membekuk negara.  Contoh paling jelas adalah kuasa kerongkongannya Hitler di era Nazi Jerman. Memang apa yang dilakukan oleh oknum-oknum tadi adalah Identik dengan apa yang dilakukan oleh Hitler yang menggunakan kuasa kerongkongannya untuk menyebar kebencian terhadap umat Yahudi di seantero dunia!  Sedangkan di Indonesia mereka menyebar kebencian terutama terhadap tokoh-tokoh pemerintahan yang sah di Indonesia.

Hal ini Sudah barang tentu harus dicegah oleh aparat-aparat keamanan agar tidak berkembang berlarut-larut menggelisahkan masyarakat banyak.  Janganlah dengan alasan dalam demokrasi terdapat kebebasan mengutarakan pendapat dan berbicara sebagai alasan karena mereka dapat menggunakan kerongkongannya untuk berusaha membekuk negara seperti apa yang dilakukan oleh Hitler di Jerman beberapa dekade yang lalu. Indonesia bukanlah Jerman, propaganda di Indonesia haruslah propaganda yang sejati yang menuju kepada rasa dan akal,  kepada kalbu dan otak,  kepada perasaan dan pikiran!

Kepada seluruh insan Indonesia kaum patriotik memperingatkan waspadalah terhadap kuasanya kerongkongan karena tidak semua kerongkongan warga Indonesia adalah suci.

Jakarta, 03 Januari 2022

Guntur Soekarno

pemerhati sosial

Lainnya,

Diary, GUNTUR SUKARNOPUTRA 1944 – 2021 – (13), ” SIAPA HAMMURABI INDONESIA ? ” – KORAN JOKOWI

Tentang RedaksiKJ 3088 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan