HUBUNGAN PRESIDEN SUKARNO – JOKOWI  DIANTARA KERAJAAN PAJAJARAN, MATARAM & MAJAPAHIT !? – (1)

HUBUNGAN PRESIDEN SUKARNO – JOKOWI  DIANTARA KERAJAAN PAJAJARAN, MATARAM & MAJAPAHIT !? – (1)

KoranJokowi.com, Bandung : Wilujeng Enjing, sebelumnya saya mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan dalam ‘tulisan-bebas’ saya ini. Dahulu berdirilah 2 kerajaan besar di pulau Jawa yang disebut Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Disekitar tahun 600-an Kerajaan Sunda dipimpin Raja Sri Maharaja Tarusbawa yaitu Raja pertama Kerajaan Sunda tahun 669 Masehi – 723 Masehi dengan ibukota Sundapura (Bekasi) kalaupun kemudian pindah ke Pakuan (Bogor), Adapun Kerajaan Galuh

 

sekitar tahun 600-an , ibukotanya terletak di Galuh dekat Ciamis, Jawa Barat Yang kekuasaannya  sejak Hujung Kulon (Ujung Kulon), ujung Barat Jawa (Banten), sampai ke Hujung Galuh (“Ujung Galuh”), sekarang Kab. Sidoarjo atau muara dari Sungai Brantas di dekat SurabayaDimana kemudian saat muncul PRABU SILIWANGI (Prabu Dewataprana Sri Baduga Maharaja alias Ratu Jayadewata)  menyatukan ke-2 kerajaan itu dan berganti nama menjadi KERAJAAN PAJAJARAN tahun 14821521 dan beribukota di Pakuan (Bogor). Yang kekuasaannya meliputi Banten – Dieng, Jawa Tengah.

Kembali ke laptop, Kerajaan Galuh saat itu dipimpin oleh Raja Prabu Permana Di Kusumah, alias Maha Raja Adi Mulya / Bagawat Sajalajala / Raja Galuh V ; Yang memiliki 2 istri yaitu Dewi Pangrenyep yang kemudian melahirkan seorang putra yang bernama Hariang Banga. Dan dari Dewi Naganingrum kemudian lahirlah Ciung Wanara (pangeran Manarah), namun Dewi Pangrenyep merasa kehadiran Ciung Wanara akan menjadi masalah, maka dia pun membuang Dewi Naganingrum beserta janinnya ke hutan.

Sebelum itu terjadi, Raja merasa dia ingin menjadi pertapa, maka sementara tampuk kerajaan diberikan kepada menteri perangnya, Aria Kebonan. Atas kesaktian Raja itu pula Aria Kebonan wujudnya dirubah seperti

dirinya, bahkan wajahnya lebih muda puluhan tahun, sedangkan sang raja masuk hutan untuk bertapa. Pesan raja ia meminta agar menjaga ke-2 istrinya dan tidak boleh disentuhnya hingga raja selesai bertapa. Ke—2 istrinya tidak tahu atas semua ini. Hingga kemudian Aria Kebonan (Raja Palsu)   telah menjadi Raja merubah nama menjadi Prabu Barma Wijaya.

Raja Palsu pun menjadi dzolim dan gemar sabung ayam, hanya Dewi Naganingrum yang mengetahui ‘adanya’ perubahan ini, namun tidak demikian kepada Dewi Pangrenyep, ia menikmati perubahan raja termasuk suka menyiksa rakyat dan sabung ayam, karena dia butuh materi dan popularitas.Juga ia ikut mengurus ‘Si Jeling’ ayam aduan Raja. Hingga suatu waktu Raja Asli  (Prabu Permana Di Kusumah) usai bertapa dan menemui Aria Kebonan, dia menanyakan pula bagaimana Dewi Pangrenyep bisa hamil juga Dewi Naganingrum.

Teman, memang belum ada bukti sahih jika Pangrenyep hamil karena Aria, namun diberbagai ceritera disebut Naganingrum hamil bukan karena Aria namun karena ‘kuasa Allah’, Raja asli dan Raja palsu itu pun berkelahi hingga beberapa malam lamanya. Karena mereka ber-2 memang sakti, hingga Dewi Naganingrum melerai mereka, Raja asli pun masuk hutan dan menjelma menjadi seekor naga besar bernama NAGAWIRU.

Atas ini, Raja Palsu dan Pangrenyep pun membuang Naganingrum yang sedang hamil itu ke Hutan. Sejak itu pula ke-dzoliman Raja Palsu semakin menjadi yang juga didukung oleh Pangrenyep dan putranya, Hariang Banga.

Suatu waktu, Raja Palsu mengeluarkan pengumuman bahwa siapapun yang mampu adu-ayam dengan ‘si Jeling’ dan menjadi pemenangnya maka otomatis akan menjadi raja, hal ini terdengar oleh Ciung Wanara yang beranjak dewasa, kalau pun tidak diijinkan ibunda (Dewi Naganingrum) menemui Raja palsu untuk ‘nyabung ayam, Ciung memiliki se-ekor ayam ,kalau pun tubuhnya kecil namun ayamnya ini diasuh oleh Nagawiru termasuk kesaktiannya.

Sehingga dalam sabung ayam itu terlihat ayam Ciung lebih hebat bahkan mampu menembus kedalam batang-pohon sekitar hutan,juga masuk kedalam tanah/bumi. Sebagian ceritera menyebutkan pertarungan 2 ayam ini hingga 2 bulan purnama (60 hari?). Ciung pun menjadi pemenang dan menjadi Raja, ibunda dan Nagawiru yang jelmaan dari Raja asli menolak masuk kerajaan dan memilih tinggal dihutan. Raja palsu dan Pangrenyep pun dimasukan penjara besi bersama kelompoknya namun Hariang Banga melarikan diri.

Suatu waktu Hariang bersama pengikutnya menyerang kerajaan hingga kemudian terjadi perkelahian tiada henti diantara mereka berdua, dan menuju perbatasan sungai Brantas. Disanalah Ciung berhasil mengalahkan Hariang, saat Ciung akan menebas leher Hariang. Munculah Nagawiru yang telah menjelam sosok asli dan ibu Ciung, Dewi Naganingrum.

Raja asli meminta Ciung agar memaafkan Hariang, dan secara bijak Raja pun meminta mereka berdamai dan berbagi kuasa, singkat ceritera Ciung Wanara tetap di tanah Sunda kemudian melahirkan Raja-raja dan kerajaan Sunda (Pajajaran) , salah-satunya adalah PRABU SILIWANGI itu. Adapun Hariang Banga kelak melahirkan raja-raja dan kerajaan Jawa (Majapahit). Disatu sisi diceritakan karena Raja palsu dan Pangrenyep kabur maka mereka pun terbunuh oleh prajurit kerajaan yang mengejarnya.

Ciung Wanara, alias Pangeran Manarah pun bergelar Prabu Suratama atau Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuwana, dikaruniai umur panjang dan memerintah di Kerajaan Galuh antara tahun 739-783 (Raja Galuh ke-VI) dan memilih bertapa hingga wafat diusia lebih dari 80 tahun. Ada pun Hariang Banga, dari berba

gai versi lain disebut  bahwa dia bukan ‘leluhur’ Kerajaan Majapahit karena Majapahit baru didirikan Raden Wijaya dalam tahun 1293, atau 527 tahun setelah Banga wafat. Lalu dimana hubungannya antara mereka berdua dengan Presiden Sukarno & Presiden  Jokowi?,–  BERSAMBUNG(Neng Ani;dari berbagai sumber/Foto.ist)

Tentang RedaksiKJ 1204 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

1 Trackback / Pingback

  1. HUBUNGAN PRESIDEN JOKOWI & KERAJAAN PAJAJARAN !? – (2) | KORAN JOKOWI | Media Independent Relawan

Tinggalkan Balasan