KORAN JOKOWI.COM KANGEN BUNG KARNO DAN ALI SADIKIN, “Cilaka 12 !” – (1)

KORAN JOKOWI.COM KANGEN BUNG KARNO DAN ALI SADIKIN, “Cilaka 12 !” – (1)

KoranJokowi.com, Bandung : IMAJINER – Malam menjelang sholat Isha , Sabtu (30/1) , saya sudah tiba di tempat yang dijanjikan karena tidak ingin terlambat takut ‘ditampar laki – laki ini. Mungkin karena Pandemi Covid 19, small-resto d iujung jalan Pasteur Bandung yang biasanya padat ini tampat sedikit sepi.

Seorang pria muda bersafari dengan rambut cepak dan klimis menghampiri saya, “Maaf anda Arief Priatna Suwendi dari KoranJokowi.com?”, saya sontak berdiri. “Betul,bang”, “Anda janji dengan seseorang?”, “Betul bang”, “Saya ajudan beliau, dan beliau sudah 15 menit menunggu anda dilantai 2”, laki – laki itu meminta saya untuk mengikuti kelantai 2 itu, dan benar orang yang saya tunggu rupanya sudah tiba lebih awal. ‘Cilaka 12 !

Laki-laki itu menerima salam saya, “Buka maskermu, saya mau llihat seperti apa kamu”, pinta laki – laki itu sambil melepas baret merahnya, kemudian saya pun diminta duduk. Laki laki itu kemudian memanggil laki-laki muda tadi.. “Pesankan kami teh panas dan goreng pisang saja”.“Tidak makan, Bang?”, tanya saya memelas. “No, Way !”, jawabnya tegas. ‘ Glekk..

Setelah pesanan terhidang, laki – laki itu memulai berceritera. Katanya,  Usai Ir.H. Sukarno lengser dari jabatan presiden pada 1966 , beliau langsung  ‘dipisahkan’ dari rakyatnya  di Wisma Yaso, Jakarta. Tidak boleh menerima tamu, kecuali anak-anaknya itu pun dengan penjagaan ketat tingkat dewa. Militer menjaga dengan ketat. Wisma Yaso kini menjadi Museum Satria Mandala.

“Beliau (Bung Karno) bathinnya merasa kehilangan karena tidak dapat dekat dengan rakyatnya, namun rakyat tidak mampu melakukan apa-apa karena penguasa saat itu memang melarang “, kata laki – laki itu sambil menghirup teh panas pahitnya.

“Maaf bang ijin bertanya apa betul saat itu ada  satu tim Korps Intai Para Amfibi (Kipam) , Batalyon Intai Amfibi  ALRI yang berhasil menyusup ke dalam Wisma Yaso untuk membebaskan Bung Karno?”, tanya saya. “Sekarang saya tidak mau diajak bicara soal itu, nanti saja di-edisi berikutnya”, jawab Laki – laki itu lagi. ‘Cilaka 12 !

Diantaranya ada yang meradang marah, kesal dan kecewa. Dengan nekat laki – laki ini yang kelahiran Sumedang7 Juli 1927  terus melangkah tegap memasuki Wisma Yaso, entah bagaimana ceriteranya laki – laki ini diperbolehkan masuk. Matanya memicing tajam karena tempat itu sangat kotor. Kebunnya tidak diurus. Debu di mana-mana.

“Padahal Bung Karno sangat menyukai kebersihan, sangat tidak senang pada kekotoran, …mengapa tega-teganya orang terhadap beliau, sampai beliau pemimpin bangsa itu, dibegitukan. Saya yakin pasti beliau sangat menderita. Apakah itu disengaja?. Bung Karno berhasil menyatukan bangsa. Saya kagum. Tapi saya tidak menutup mata, telinga, dan perasaan. Bung Karno juga punya kekeliruan. Tapi kalau dihitung-hitung, lebih banyak jasanya dibandingkan kesalahannya” kata Laki – laki itu.

Ketika Sukarno wafat sampai beberapa tahun setelahnya, laki –laki itu  menggantungkan potret Sukarno dalam ukuran besar di rumahnya. “Setiap kali saya menatapnya, rasa kekaguman saya terhadapnya bangkit, hidup dengan kehangatan serta mendorong saya untuk berbuat baik. Ya, saya pengagumnya,”

Siapa laki laki itu?, “Saya adalah Letnan Jenderal KKO (Purn.) Ali Sadikin , yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno  menjadi Gubernur Jakarta pada tahun 1966. Dan wafat di Singapura20 Mei 2008 pada umur 80 tahun. Kemudian orang memanggil saya , Bang Ali.”, kata laki – laki itu sambil mengunyah pisang goreng. “Kamu tidak makan?”, tanyanya. “Saya lebih baik makan nasi bang, kebetulan belum makan”, jawab saya. Bang Ali ini pun memanggil pelayan, “Buatkan orang ini nasi goreng petai tanpa pedas”, kata Bang Ali. Saya manggut manggut, lumayan, padahal tadi saya berharap bisa makan nasi timbel lengkap. 

Beliau meneruskan ceriteranya, setelah nasgor tiba.  “Jauh sebelum beliau di Wisma Yaso, suatu waktu saya  diminta ajudan Presiden Sukarno ke istana menemuinya, “Ali, aku angkat kamu jadi Gubernur Jakarta. Sedia?” tanya beliau setelah saya tiba. “Saya yang kaget, sontak menjawab, Siap, bersedia !” .. Sampai sini beliau tidak meneruskan ceriteranya, matanya basah mungkin menahan haru kisah lama ini.

Dan kemudian pada 28 April 1966, Bung Karno pun melantik saya sebgai Gubernur DKI Jakarta. Usai pelantikan Bung Karno berbicara kepada wartawan Istana mengapa memilih saya ” Ali Sadikin itu orang yang keras. Dalam bahasa Belanda ada yang menyebutnya, een koppige vent, koppig. Saya kira dalam hal mengurus Kota Jakarta Raya ini baik juga een beetje koppigheid (sedikit keras kepala), Apalagi ndoro dan ndoro ayu sudah tahu, tidak boleh membuang sampah semau-maunya di pinggir jalan, tapi ndoro dan ndoro ayu toh menaruh sampah di pinggir jalan. Nah, itu perlu dihadapi oleh orang yang sedikit keras, yang sedikit koppig” kata Bung Karno saat itu saya yang berdiri disampingnya merasa tersanjung.

Dalam sepekan kemudian Bang Ali terus rapat bersama para staff-nya, memutar otak bagaimana membangun ibukota Jakarta dari ‘The Big Village’  menjadi salah satu kota terbaik di Asia Tenggar dengan dana minim pula, apalagi ini pasca G.30.S/PKI dimana situasi ibukota belum 100% aman baik secara hankamnas maupun investasi . Hingga tercetuslah berbagai kebijakan yang menjadi perdebatan. “Ya dengan terpaksa saya melegalkan judi, lokalisasi hingga hiburan malam. Hanya untuk satu tujuan yaitu mendapatkan anggaran untuk membangun jalan, sekolah, rumah sakit, sanitasi yang layak hingga membangun terminal dan halte untuk mengurai kesemrawutan lalu lintas jakarta”, Bang Ali tersenyum, saya manggut – manggut sambil menyuapkan nasi terakhir kedalam mulut.

“Banyak yang bilang saya sebagai ‘Gubernur Judi”, Gubernur Maksiat, dsb. Masa bodoh, perintah harus saya jalankan dengan baik.  Semua demi Jakarta, demi rakyat, dan demi kemanusiaan.  Tanpa melalui jalan – jalan dari hasil judi , tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada alm.KH. Buya Hamka yang tidak menyukai langkah saya ini, saya sempat berkata,” Silakan beli Helikopter, karena semua jalan Jakarta dan gang – gang sempit dibangun pake uang Judi”. Bang Ali kemudian mengusap wajahnya sambil berkata, Astagfirullahi haladzim. Saya diam, ajudan beliau yang tadi pun sama. Semua jadi hening….(Red-01/Foto.ist)

BERSAMBUNG

#JOKOWI3PERIODE

Tentang RedaksiKJ 1202 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

1 Trackback / Pingback

  1. KORAN JOKOWI.COM KANGEN BUNG KARNO DAN ALI SADIKIN  - (2): (CERITERA 3 LAKI – LAKI INDONESIA: ALI SADIKIN, KH. BUYA HAMKA & KH.M.NATSIR. WAITRESS CANTIK HINGGA BANJIR BANDANG JALAN PASTEUR BANDUNG) | KORAN JOKOWI | Media Independent Relawan

Tinggalkan Balasan