LANGKAH KAKI ANAK RIMBA / SUKU ANAK DALAM  JAMBI INI TIDAK AKAN PERNAH ‘LELAH MELANGKAH’ MENEMUI PRESIDEN JOKOWI AKAN KONFLIKNYA DENGAN PT. BSU. “LALU, APA LANGKAH MENTERI ATR/BPN ?”

LANGKAH KAKI ANAK RIMBA / SUKU ANAK DALAM  JAMBI INI TIDAK AKAN PERNAH ‘LELAH MELANGKAH’ MENEMUI PRESIDEN JOKOWI AKAN KONFLIKNYA DENGAN PT. BSU. “LALU, APA LANGKAH MENTERI ATR/BPN ?”

Koranjokowi.com, Kab. Batanghari,  Prov. Jambi : Kita pasti tahu bahwa dalam mencapai keadilan, kebenaran dan semangat kebersamaan hak dan kewajiban dan salah satunya dibuktikan dengan dilakukannya Puluhan Suku Anak Dalam (SAD) dan petani  aksi jalan kaki dari Jambi menuju Istana Negara, Jakarta. Diantara para relawan yang mengirinya langkah – langkah kaki mereka itu sebut saja ada Amirudin Todak , Abun Yani, Norman, Mayudin, Maward (9/7/2020) lalu  untuk ‘mengawal’ kasus lama ini kepada Presiden Jokowi, konflik lahan antara SAD dengan PT Berkat Sawit Utama/PT Asiatic Persada.

Sederhana saja jalan kaki selama 43 hari itu dilakukan untuk mencapai  keinginan SAD dan petani kiranya Presiden Jokowi  dan Kementerian ATR/BPN segera mengembalikan lahan seluas 3.550 hektare milik Suku Anak Dalam berdasarkan surat Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional nomor 1373/020/III/2016 tanggal 29 Maret 2016 yang ‘mangkrak’. Tak hanya itu, mereka juga meminta pengembalian lahan milik Suku Anak Dalam dan Petani Simpang Macan Desa Bungku yang di klaim oleh PT. Asiatic Persada/PT. Berkat Sawit Utama. Aksi jalan kaki ini yang ke-2 kali setelah hal sama dilakukan April 2019 lalu. Mau sampai kapan !?

Sejarah akan terus mencatat kesungguhan penyelesaian secara damai antara tokoh-tokoh.suku Anak dalam (SAD), petani dan PT. Berkat Sawit Utama (BSU) yang sebelumnya bernama PT Asiatic Persada atau PT Bangun Desa Utama (PT BDU).

Dan waktu lalu (17/3) bertempat di Sekber SAD 113 , Muara Bulian, kab. Batang hari dilakukan pula  Pertemuan para tokoh-tokoh Suku Anak dalam (SAD) , petani , para pendamping juga Ketua Organisasi petani (Mulyono), Ketua organisasi 113  (Abas subuk) dan Ketua masyarakat adat suku anak dalam bathin 9, dsb.

Pertemuan ini membahas tentang hasil dari berapa tokoh yang sudah bertemu dengan timdu prov. Jambi,  masalah perifikasi data SAD  yang benar benar mempunyai hak atas tanah yang sekarang masikg KoranJokowi.com atas pertemuan itu sbb;

1.Para anggota kelompok yang tidak hadir pada hari ini di minta untuk hadir semua di pertemuan selanjutnya

2.Meminta kepada semua yang hadir untuk tetap menjalankan kesepakatan yang sudah di buat bersama.

3.Para peserta yang hadir untuk tetap yakin bahwa konflik dapat selesai dengan baik

4.Hasil aksi jalan kaki SAD dari Merak – Jakarta berujung kepada keseriusan pemerintah pusat & ATR/BPN RI sekaligus verifikasi data dan jumlah yang mempunyai hak

5.Selain ferifikasi juga akan mengeluarkan setipikat kemunal dan harus membentuk koperasi

6.Terkait soal surat meyurat yang sudah di sampaikan ke pemerintah dan presiden akan disurati kembali

7.Masalah surat kuasa pendampingan khusus kelompok pinang tingi akan ditindak-lanjuti

8.Pimpinan pemegang saham sudah membuat surat peryataan

9.Semua peserta tetap waspada atas segala janji – janji semua pihak, dsb.

Sobat KoranJokowi.com dimana saja berada, Amirudin adalah teman yang kita yakini dan percayakan selaku KordKab.KoranJokowi.com Batanghari, Jambi. Manajemen meminta agar beliau terus ‘mengawal’ kasus dan konfik ini hingga tuntas dan tercapai kesepakatan semua pihak, secara benar, proporsi dan profesional. Memang tidak semudah sebagaimana membalikan telapak – tangan,  namun itulah amanah dan mandat.

Sobat KoranJokowi.com dimana saja berada , Provinsi Jambi memiliki keanekaragaman budaya termasuk salah satunya macam-macam suku. Salah satu suku di Jambi yang banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah suku adat Anak dalam. Suku Anak Dalam di provinsi Jambi memiliki sebutan nama untuk mereka yaitu Kubu, Suku Anak Dalam (SAD) dan Anak Rimba.

Untuk sebutan kubu bagi SAD memiliki arti yang negatif. Kubu memiliki arti “menjijikan”, “kotor” dan “bodoh”. Panggilan kubu bagi SAD pertama kali terdapat di tulisan-tulisan pejabat kolonial yang memang dibuat sedemikian merendahkan derajat kemanusiaan. Kemudian era reformasi nama itu berganti menjadi SAD, yang berarti orang yang bermukim di pedalaman. Sebutan yang ketiga adalah Anak Rimba merupakan sebutan yang lahir dari suku Anak Dalam sendiri

Anak – Anak Rimba pastinya mempunyai kaki – kaki yang kokoh untuk mencari kebenaran melalui Presiden Jokowi, dan kami , KoranJokowi.com, Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi)  dan Alumni Kongres Relawan Jokowi (AkarJokowi) 2013 ada bersama langkah – langkah kaki mereka, mari dukung mereka !! (Red-01/Foto.ist)

 

Tentang RedaksiKJ 920 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan