
Melawan Lupa (58)
“PRESIDEN JOKOWI 2017-2019, DESA HARAPAN JAYA MUARA GEMBONG & MIMPI KITA SEMUA “
Koranjokowi.com, Kab. Bekasi Jabar :
Dalam berbagai referensi sejarah disebut kata “Bekasi”secara filologis berasal dari kata Candrabhaga; Candra berarti bulan (“sasi” dalam bahasa Jawa Kuno) dan Bhaga berarti bagian. Jadi Candrabhaga berarti bagian dari bulan. Pelafalan kata Candrabhaga kadang berubah menjadi Sasibhaga atau Bhagasasi
Dalam pengucapannya sering disingkat Bhagasi, dan karena pengaruh bahasa Belanda sering ditulis Bacassie (di Stasiun Lemahabang pernah ditemukan plang nama Bacassie).Kata Bacassie kemudian berubah menjadi Bekasi sampai dengan sekarang.
Bekasi sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat Kerajaan Tarumanagara(Prasasti Tugu, berbunyi: ..dahulu kali yang bernama Kali Candrabhaga digali oleh Maharaja Yang Mulia Purnawarman, yang mengalir hingga ke laut, bahkan kali ini mengalir di sekeliling istana kerajaan). Kemudian, semasa 22 tahun dari tahta raja yang mulia dan bijaksana beserta seluruh panji-panjinya menggali kali yang indah dan berair jernih, “Gomati” namanya.
Setelah kerajaan Tarumanagara runtuh (abad 7), kerajaan yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap Bekasi adalah Kerajaan Padjadjaran, terlihat dari situs sejarah Batu Tulis (di daerah Bogor). dimana pula disebut Bekasi merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Padjadjaran dan merupakan salah satu pelabuhan sungai yang ramai dikunjungi oleh para pedagang.
Kedudukan Bekasi tetap menempati posisi strategis dan tercatat dalam sejarah masing-masing kerajaan (terakhir tercatat dalam sejarah, kerajaan yang menguasai Bekasi adalah Kerajaan Sumedanglarang, yang menjadi bagian dari Kerajaan Mataram). Bahkan bukti-bukti mengenai keberadaan kerajaan ini sampai sekarang masih ada, misalnya: ditemukannya makam Wangsawidjaja dan Ratu Mayangsari (batu nisan), makam Wijayakusumah serta sumur mandinya yang terdapat di kampung Ciketing, Desa Mustika Jaya, Bantargebang.
Jumlah penduduk Kabupaten Bekasi pada tahun 2021 mencapai 3,89 juta jiwa yang tersebar di 23 kecamatan, 7 kelurahan, 180 desa, dan 11 pulau., menjadikan kabupaten terpadat di Jawa Barat, setelah kabupaten Bandung dan kabupaten Bogor.
Muaragembong adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bekasi, ProvinsiJawa Barat, Indonesia. Kecamatan ini merupakan kecamatan dengan wilayah dan juga kecamatan paling ujung di Kabupaten Bekasi. Berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Teluk Jakarta di barat, Kabupaten Karawang di timur, dan kecamatan Babelan di selatan. Dengan jumlah penduduk > 33.000 jiwa dan tersebar di 6 desa :
Saya ingat tahun 2017 lalu, Presiden Jokowi pernah kesini, tepatnya ke Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong. Akan ada waktunya mengevaluasi apa yang telah dilakukan, dikerjakan dan keberhasilan atas kehadiran beliau kesini setelah hampir 5 tahun lamanya.
Apa realisasi dari rencana Pemerintah yang melakukan redistribusi pengelolaan kawasan seluas 830 hektar untuk pengembangan pertambakan ikan/udang, dari total lahan di Muara Gembong yang mencapai 11.000 hektar, apakah itu terwujud khususnya mengenai skema kemitraaan dengan masyarakat desa hutan?
Waktu itu semua pihak berjanji melalui Program rintisan untuk lahan tambak 17,2 hektar akan memberikan dampak terhadap peningkatan produksi udang dan bandeng sebanyak 204 ton/tahun bahkan nilai ekonominya akan mencapai Rp.16,3 miliar/tahun; Termasuk pendapatan masyarakat pengelola Rp.35-50 juta per tahun; dan serapan tenaga kerja lebih dari 425 orang.. Apa ini terwujud?
Semua orang menjamin bahwa Program Perhutanan Sosial di Kabupaten Bekasi khususnya di Kec.Muara Gembong jika ini adalah program optimalisasi lahan perhutani melalui skema kerja sama kemitraan dengan masyarakat di sekitar kawasan hutan. Bahkan dijaminkan pula jika Program ini akan memperkuat produksi berbasis pangan, membuka akses kesempatan kerja yang lebih luas bagi masyarakat, dan secara makro akan memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja ekonomi nasional.
Kita akan check ombak nanti
Saya juga ingat saya Presiden Jokowi kesini (1/2019) lalu, beliau menyetujui penamaan jembatan sepanjang 112 meter , berdana Rp.29 milyar itu dengan nama ‘JEMBATAN JOKOWI’ yang ‘menghubungkan dua desa di Muara Gembong, yakni Desa Pantai Mekar dan Desa Pantai Bahagia yang terpisah oleh Kali Citarum. Yang mempunyai potensi lebih dari 11.000 hektar tabak udang masyarakat. Maka dengan adanya jembatan ini distribusi barang & jasa sekitar akan lebih baik & cepat.
Saya juga ingat ada janji kita bersama akan segera memperbaiki infrastruk tur jalan rusak sepanjang 15 kilometer disana , apalah ini ‘PR’ Presiden Jokowi. Gubernur Jabar atau Bupati Bekasi?
Semoga saja dengan evaluasi Perhutanan sosial, Jembatan Jokowi dan renovasi jalan 13 kilometer itu akan mendukung target pajak kabupaten Bekasi thn.2022 > Rp.2,069 trilyun yang saat ini baru tercapai > 19-20% (Rp.400-an milyar) khususnya dari 10 titik pajak : BPHTB, PBB Perdesaan dan Perkotaan, penerangan jalan, pajak restoran, pajak hotel, pajak reklame, hiburan, parkir, pajak air tanah dan pajak sarang burung walet.
(Red-01/Aruan/Foto.ist)
-BERSAMBUNG-
Lainnya,
Kabar Jabar 4 (49), Kapolri Ke Kota Bekasi, Ada Apa ? – KORAN JOKOWI
Melawan Lupa (56), “PRESIDEN JOKOWI, SUKSES KARIR & KEMISKINAN” – KORAN JOKOWI
Melawan Lupa (57), “RESHUFFLE MENTERI JUNI 2022, ADA 10 MENTERI YANG RAPORTNYA BIRU” – KORAN JOKOWI
Be the first to comment