Tulisan ini saya persembahkan kepada 2 (dua) relawan terbaik di Kab. Langkat, Sumatera Utara; Sdr. Jumadi Sembiring (Koordinator) dan Supran Toreh. Yang saya nilai mempunyai sikap dan perjuangan selaku relawan sejak bersama di Koranprabowo.id, #SahabatKPK! dan disini (Koranjokowi.com). Tulisan ini hanya mencontohkan bahwa melalui Fabel/hewan pun kita bisa membantu KPK dan masyarakat sekitar untuk mengingatkan bahwa “KORUPSI ADALAH MUSUH SEMUA UMAT BERAGAMA”. Maka tetaplah berjuang dengan kesederhanaan agar Tuhan tersenyum kepada kita, amin.

Ratusan ribu tahun yang lalu, kepulan awan mistis melingkari puncak megah setinggi 3.404 mdpl yang lahir dari benturan dahsyat Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, membentuk benteng hijau kuno bernama Gunung Leuser. Hal ini menjadikannya satu gunung tunggal yang secara geografis berada di wilayah Provinsi Aceh (tepatnya di perbatasan Kabupaten Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Aceh Selatan). Namun, karena ukurannya yang sangat besar, kompleks pegunungannya membentang luas hingga melintasi batas administratif provinsi dan masuk ke wilayah Sumatera Utara (termasuk Kabupaten Langkat) dan kemudian disebut satu kawasan konservasi raksasa lintas provinsi yang dinamai Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Jadi, saat orang menyebut “Leuser di Aceh” mereka biasanya merujuk pada puncak fisik gunungnya, sedangkan “Leuser di Sumatra Utara” merujuk pada bagian taman nasionalnya.
Saya secara pribadi menyebut bahwa Gn. Leuser adalah ibu dari seluruh hewan hutan yang ada di Sumatera Utara dan Aceh, dengan istilah “Inan ni Pargaulan (Sumut) dan Ma Bieng Aceh (Aceh)”, dan saya berharap ini tidak perlu untuk diperdebatkan dengan segala kehebohan akademisi dsb, ahaha.
Bagi saya, hutan purba yang dimiliki ibu ini sangat sakral bagi kehidupan masyarakat sekitar dan dunia. Selain karena berada di antara peradaban manusia, juga sebagai suaka margasatwa pelindung paru-paru bumi. Di sinilah, di antara takdir purba dan batas birokrasi, sebuah legasi tersembunyi dari sang penjaga rimba bersiap memicu pergolakan paling radikal abad ini.
Siapa sangka, di balik aroma tubuhnya yang mirip popcorn mentega hangat, hewan Binturong (Arctictis binturong), atau kerap disebut ‘Bear Cat’ ini memiliki masa lalu yang kelam dan berdarah. Di masa mudanya pada era Perang Dunia II, ia memutuskan merantau jauh ke Negeri Sakura dan direkrut menjadi pilot bayaran elit Kekaisaran Jepang guna merontokkan armada pesawat Sekutu di langit Pasifik. Dia termakan propaganda politik yang mengatakan “Jepang adalah saudara kandung Ibu Pertiwi “, ya kita maklumi karena saat itu usianya masih muda. ‘Meledak ledak. Namun, bau mesiu dan gemuruh mesin tempur tak mampu menandingi kerinduannya pada tanah kelahiran. Begitu proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia berkumandang, sang penerbang ulung ini memilih gantung helm, pulang kampung ke pedalaman Gn. Leuser demi merajut hidup tenang, menimang anak-cucu, serta menua bersama ribuan tetangga satwa lainnya.
Binturong yang mirip musang/kucing hutan ini makanan utamanya adalah buah-buahan hutan (terutama buah ara/ficus)., ini kemudian mengumpulkan teman satwa lain dan mendirikan organisasi ALIANSI HEWAN GN.LEUSER (AHGL) , dia bersama masyarakat Selain berjuang fisik, dan laskar ikut menjaga Pedalaman Gunung Leuser agar tidak dimasuki Belanda dan Jepang bahkan hubungan mereka demikian erat dengan para pejuang gerilya Aceh dan Gayo sebagai benteng alam.
Selain berjuang melalui senjata, Bintorung sangat mulia bagi alam karena sistem pencernaannya tidak merusak biji buah yang mereka makan, biji tersebut akan keluar utuh bersama kotorannya di berbagai sudut hutan. Hal ini menjadikan Binturong sebagai “agen reboisasi” alami yang sangat penting untuk menjaga kelestarian hutan hujan Gunung Leuser.

Kemudian Binturong sepuh ini, yang kemudian dipanggil “Opung Binturong” oleh masyarakat hewan disana rehat total pasca kemerdekaan, baru muncul sebentar saat era Reformasi 1998. Dia turun gunung mengawal Keputusan Presiden (Keppres) No. 33 Tahun 1998 yang menetapkan dan melindungi Kawasan Ekosistem Leuser. Regulasi ini menjadi landasan hukum kuat untuk mempertahankan kelestarian hutan di sekitar Taman Nasional Gunung Leuser dari ancaman alih fungsi lahan. Juga saat Pileg dan Pilpres 2024 lalu, dia mengerahkan teman temannya untuk menyambut kehadiran ‘saudara baru’ yaitu dua ekor Harimau Sumatra (bernama Ambar Goldsmith dan Beru Situtung) Maret 2024 juga mendukung kerjasama Konservasi Internasional (RI – Norwegia) dengan meningkatkan sarana dan prasarana konservasi demi menjaga kelestarian TNGL. Dan bersama Balai Besar TN Gunung Leuser, WCS Indonesia dan Forum Konservasi Leuser menggencarkan survei lapangan, terutama pada bulan Juni dan Agustus. Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat ribuan titik keberadaan Harimau Sumatra yang tersebar di seluruh kawasan taman nasional dan zona penyangganya.

Jika kita bertemu /Opung Bintarong’ sebagaimana kemarin malam dia datang dalam mimpi saya, sebetulnya dia masih dalam rasa was was dan terlihat dari sosrot matanya yang tajam penuh kemarahan. “Anda bisa bayangkan, – kata Opung dalam mimpi itu – Luas Kab. Langkat lebih dari 6.273,29 km², 23 kecamatan dan membawahi 277 desa/kelurahan. Namun, alih-alih melihat kemakmuran bagi 1.120.709 jiwa penduduk di bawahnya, mengapa masih ada 112.200 jiwa orang miskin dan 40.000 orang pengangguran usia produktif yang terlunta-lunta akibat minimnya lapangan kerja dan rusaknya akses ekonomi”, katanya sambil mengelap helm pilot kebanggaanya.
Bagi Opung, kabupaten Langkat ini lebih mengerikan dari era jaman Purba lalu. Karena rentetan gurita korupsi yang menggila, termasuk memori memuakkan saat 2 (dua) mantan Bupati Langkat terdahulu diringkus oleh komisi antirasuah (KPK) dalam operasi tangkap tangan. Puncaknya, ingatan Opung makin mendidih saat melihat rapor merah Nilai Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK terhadap Kabupaten Langkat yang terpuruk parah di angka 71,73. Angka jeblok untuk periode tahun 2025-2026 ini secara sah menandakan bahwa tata kelola Kabupaten Langkat masuk ‘zona waspada dan berada jauh di bawah rata-rata nasional’ akibat rentetan borok korupsi kepala daerahnya yang tiada henti.
“Saya datang dalam mimpimu, hanya ingin menyampaikan tuntutan dari Aliansi Hewan Gunung Leuser (AHGL) ini, untuk diserahkan kepada Presiden FABELISM JOURNALISM – Miss Pussy Noni ; sambil menyerahkan amplop berwangi Gn.Leuser – saya pun membuka dan membacanya,
“Wahai Madam Presiden Miss Pussy Noni yang terhormat! Manusia penguasa di Langkat sudah kelewat batas serakahnya. Dengan rapor SPI KPK yang masuk zona waspada korupsi, mereka masih tega mengeruk uang dari tiket wisata alam kami di Bukit Lawang dan Tangkahan, menyetor Pajak Hotel dan Restoran, tapi membiarkan jalanan akses hancur lebur bak kubangan kerbau! Truk patroli penjaga kami dari pemburu liar tersendat, gajah-gajah kami stres akibat polusi kebisingan jalan rusak, sementara puluhan ribu pengangguran usia produktif warga Langkat tidak bisa mencari nafkah karena jalur logistik lumpuh! Hujan buatan korupsi mereka jauh lebih menyengat dibanding kelenjar parfum tubuh kami!”

“Bagaimana infrastruktur dan kehidupan wilayah kami dapat terjaga jika kami diam, sedangkan ada 17 kepala daerah di Sumut yang ditangkap KPK!, Ada 38 anggota dan mantan anggota DPRD Sumatera Utara yang ditangkap KPK!, Ada seorang Kepala Dinas PUPR Sumut yang ditangkap KPK dengan nilai Rp231,8 miliar!, Ada 36.000 hektare lahan TNGL di Besitang , Bahorok, Batang serangan, Blok Tenggulun Aceh, dsb telah mengalami degradasi parah, di mana ribuan hektare di antaranya telah disulap paksa menjadi kebun sawit komersial dan permukiman liar, Ada Ratusan kepala keluarga pengungsi konflik bersenjata Aceh melarikan diri ke dalam zona TNGL (seperti di Sekoci dan Sei Lepan, Langkat) dan membuka lahan untuk bertahan hidup namun Keberadaan pengungsi ini kerap dimanfaatkan dan dijadikan benteng pembelaan (tameng) oleh perusahaan sawit besar serta pengusaha ilegal untuk memperluas konsesi kebun mereka ke dalam kawasan inti taman nasional. Apa kami harus diam saja!?, jika memang manusia khususnya para pejabat di Prov.Sumut diam saja , kita lihat bagaimana aksi kami dan marahnya“Inan ni Pargaulan (Sumut) dan Ma Bieng Aceh (Aceh)” kepada kalian, ingat 30 hari kedepan atau Tgl. 17 Agustus 2026 mendatang “, suara Opung demikian keras dan dingin, kemudian dia pamit keluar dari jendela kamar dan bergegas menuju pesawat tempur yang mesinnya menyala. “Wassalamualaikum wrwb”, ….wussssss pesawat itupun mengudara.
Be the first to comment