Tarzuki ‘i’o’,#SahabatKPK!, “KORUPSI DI CIREBON ERA JENDERAL DAENDELS!?”

Tarzuki ‘i’o’,#SahabatKPK!,

“KORUPSI DI CIREBON ERA JENDERAL DAENDELS!?”

Kota dan Kabupaten Cirebon sejak dahulu kala identik dengan nafas religi yang kental, sejarah para wali, serta warisan budaya sakral yang dijaga turun-temurun. Di tanah para wali ini, keluhuran budi pekerti dan integritas adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Namun, di tengah kesakralan adat tersebut, riak-riak keserakahan oknum birokrasi yang gemar melakukan pungli dan korupsi anggaran kerap mencoreng nama baik daerah. Baik itu anggaran infrastruktur, dana desa, MBG, Kopdes MP, dsb. Di kota atau kabupaten Cirebon. Demikian KordNas Koranjokowi.com, #SahabatKPK!, siang tadi (13/7) melalui telepon. Dan saya diminta untuk ‘diam “biarkan saja nanti ada waktunya”, saya nggak paham apa maskudnya, kebetulan ini sedang jam rehat kerja saya termenung didepan gelas kopi yang sisa setengah dan dingin. Kalimat “biarkan saja nanti ada waktunya” buat saya  itu misteri, angin berhembus sepoi membuat mata 5 watt.

Tiba tiba saya dikejutkan suara musik reggae klasik yang memekakan telinga dari arah belakang saya,  “Yo, yo, yooo…….Assalamualaikum bang i’o”, oh ya nama saya Tarzuki hanya ‘orang orang dekat’ yang memanggil ‘i’o’, dan saat saya menoleh, Ya Allah … telah berdiri tegak dihadapan saya ‘Mbah  Rebon’, leluhur Udang Rebon khas daerah kami (Cirebon) hanya saya pangling saja biasanya outfitnya ‘nyantri’ sekarang kok malah kaya Gen Z, Reggae style.  Kami pun berpelukan maklum hampir 2 tahun tidak bertemu.

“Ahay, Kang ‘i’o! Gaskeun kopinya!” sapa Mbah Rebon sambil mematikan tombol play di tape jadulnya, dan memesan Kopi kepada teteh penjual. “Yo, yo,yo..teh , biasa kopi pahit tanpa gula dan popmie tanpa bumbu, biasa teh!”, saya menggeleng-geleng, kagum dan heran dengan penampilannya ini. “Tumben turun ke pesisir mbah , ada kabar apa nih dari laut?”. Mbah Rebon membetulkan posisi kacamata hitamnya dan rambut gimbalnya. Padahal dulunya selalu pakai kopiah.
“Gini, Bro. Saya ke sini membawa amanah besar, mandat langsung dari Aliansi Udang Rebon Cirebon (AURC). Kami di laut sudah gerah melihat berita korupsi manusia yang kagak kelar-kelar. Kemarin ada kasus potongan beton Gedung Setda-lah, kasus BPR-lah, infarstruktur desa mangkraklah, ini..ono..ini..ono. Nah, AURC mengutus saya buat nemuin sampeyan, biar kasus ini ditulis di koranjokowi.com dan dikawal sama gerakan #SahabatKPK!”
 “Wah, menarik nih, Mbah!”, “Mau tahu apa tempe?”, “Ya mau taulah”, “Oke, tapi nanti kopi dan popmie ku,  sampeyan yang bayar yo”, “Siaaapp, komandan!”,
“Ini bukan kasus baru, Bro.  Ini kasus purba, tapi modusnya persis sama dengan manusia serakah zaman sekarang. AURC pengen masyarakat tahu, kalau mentalitas ‘tukang sunat anggaran’ di tanah Cirebon ini akarnya sudah ada sejak zaman Jalan Raya Pos Jenderal Daendels! Biar  generasi muda paham dan jadi catatan besar sejarah kelam!” Kemudian, Mbah Rebon menyodorkan sebuah gulungan kertas kuno dari balik kemeja oranyenya. “Nih, catatan sejarah dari intelijen AURC.!”

Catatan sejarah by AURC

“Korupsi Pertama di Jalur Daendels Cirebon”

Dengan hati hati saya  pun membuka gulungan tersebut dan membacanya dengan saksama:

1.Tahun Kejadian Kelam: Praktik haram ini terjadi pada Tahun 1808-1809, saat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels ngebut membangun Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) sepanjang 1.000 Kilometer dari Anyer sampai Panarukan.

2.Proyek Jalur Cirebon: Khusus di wilayah Cirebon, jalurnya menyisir dari Kandanghaur (Indramayu), membelah Kota Cirebon, hingga tembus ke Losari. Sesuai perintah Daendels, jalanan ini dipatok harus lebar dan kokoh berukuran 7,5 meter.

3.Anggaran yang Disiapkan: Daendels sebenarnya tidak modal dengkul. Pemerintah pusat saat itu mengucurkan dana total 30.000 ringgit perak. Untuk para pekerja pribumi (rakyat jelata), sudah dijatah upah resmi sebesar 10 sen/ minggu, ditambah logistik 1,5 pon beras dan 5 pon garam setiap bulannya.

4.Siapa yang Memotong? (Manusia Serakah): Uang dan logistik ini dikirim resmi dari Batavia lewat birokrasi tradisional, yaitu diserahkan ke tangan para Bupati dan Adipati elit lokal pribumi saat itu.

5.Modus Korupsi Purba: Di sinilah mentalitas celeng bermain. Para penguasa lokal menerima utuh uang, beras, dan garam dari Belanda, tapi tidak pernah membayarkannya kepada rakyat jelata yang bermandikan keringat dan darah membelah hutan jati. Dalam arsip kolonial, ada bukti serah terima uang ke bupati, tapi tidak dibayarkan kepada rakyatnya.  “Jadi sebetulnya tidak ada istilah kerja-paksa/kerja rodi saat itu, karena Belanda membayar kok,Mbah. Wajar jika kemudian banyak rakyat yang kabur bahkan kelaparan dan meninggal di sepanjang jalur Cirebon. Iya kan gitu Mbah!”, tanya saya

Mbah Rebon malah menyeruput sisa kopi . “Saya tidak mau menjawab, silahkan simpulkan sendiri. Yang jelas, Sifat serakah manusia itu sudah ada dari jaman kuda gigit portal, susah diperbaiki. Maka saya menyambut baik dengan lahirnya organisasi relawan FABELISM JOURNALISM (FABJOUR). Yang digagas relawan koranjokowi.com, #SahabatKPK!. Kami berharap tidak ada lagi pejabat kota dan kabupaten Cirebon yang ditangkap KPK, Polri atau Kejaksaan karena sifat serakah ini!”, kata Mbah Rebon sambil menghirup kuah popmienya.
Kemudian Mbah berdiri, merapihkan rambut gimbalnya dan berkata, “Nah amanah AURC sudah saya jalankan tolong sampaikan agar semua pembicaraan kita ini dimuat di koranjokowi.com ya mas!”, kata Mbah Rebon , saya mengangguk, kemudian Mbah Rebon mendekati saya dan berbisik.
“Minta 100 ribu lah mas, aku bokek nih”,
‘Lagh..!
Tiba tiba wajah saya berasa basah, Astagfirulah saya tertidur dimeja depan balai desa, gerimis itu yang membangunkan tidur saya, rupanya saya bermimpi. ‘Asem!
(Red-01/Foto.ist)

CATATAN REDAKSI :

Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Senin, Tgl.13  Juli  2026  sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan PT. QCI –  yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf  ya atas segala ketidak-nyamanannya.

Ikan Hiu muter – muter, See U Later!

https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

===============

We Love Polri, “KOK NGOTOT REFORMASI POLRI ?”

S. Yusup,S. #SahabatKPK!, “KPK JANGAN DATANG KE JOMBANG ,YA!”

Tentang Koran Jokowi 4356 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan