Vien J.Siregar,#RepublikFabeliano. “KESAKSIAN MAKAR DI KEK SEI MANKEI, KAB. SIMALUNGUN”

Vien J.Siregar,#RepublikFabeliano.

KESAKSIAN MAKAR DI KEK SEI MANKEI, KAB. SIMALUNGUN”

Kepada Yth:
Kordnas KoranJokowi.com
Up. Vien J. Siregar – Kord.Kab.Simalungun – Asahan.
Di Tempat
.
Horas , Majuah juah dan salam rimba dari dataran rendah Bah Bolon,
Perkenalkan, saya Opung Makar, berasal dari nama Macan Akar (Prionailurus)  yang menjadi saksi bisu, pencatat silsilah, sekaligus penjaga ingatan sejarah yang tersisa di atas tanah yang hari ini kalian sebut sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun.
Melalui surat terbuka ini, saya mewakili para hewan leluhur purba Kab. Simalungun merasa penting untuk menyampaikan beberapa hal dibawah ini:
1.Era Purba Kerajaan Nagur: Kedamaian Tanpa Polusi
Jauh sebelum bangsa Eropa mengenal koordinat tanah Simalungun, bentangan alam Sei Mangkei ini mutlak 100%  adalah rumah dan dunia kami. Hitung saja sejak era Kerajaan Nagur pada abad ke-10 Masehi (tahun 500–1400 M), wilayah ini adalah  dataran rendah subur  lebih dari 2.000 hektar  sepanjang aliran Sungai Bah Bolon.
Di masa keemasan dinasti marga Damanik Nagur tersebut, kami hidup damai. Air Sungai Bah Bolon jernih tanpa residu kimia, udara bersih tanpa jelaga pabrik, dan rantai makanan berjalan dengan penuh kehormatan tanpa ada sifat serakah. Kami adalah benteng pelindung ulayat alami.
2.Brangus Kolonial: Hutan Berganti Gudang Komoditas Global
Ulah manusia mulai merusak tatanan surga kami ketika memasuki abad ke-20, tepatnya saat era kolonial Hindia Belanda mulai menapakkan kakinya di Sumatera Timur. Atas nama syahwat kapitalisme perkebunan, mereka memangkas hak hidup satwa lokal.
Tidak tanggung-tanggung, lebih dari 2.000 hektar hutan purba kami dibrangus habis. Pohon-pohon raksasa tempat berteduh ditumbangkan dan dipaksa berganti menjadi ‘gudang komoditas global’—mulai dari perkebunan karet raksasa hingga komoditas kelapa sawit berskala masif. Pihak barat kenyang oleh keuntungan, sementara leluhur kami terpaksa mundur ke sudut-sudut sempit rawa akibat ruang jelajah yang dirampas paksa.
3.Nasionalisasi Hingga KEK: Di Mana Hak Penghargaan Hewan?
Sejarah bergulir ke era kemerdekaan melalui proses Nasionalisasi aset tahun 1958, hingga kepemilikan lahan beralih ke tangan PTPN III. Puncaknya, pada periode 2012–2015, wilayah ini kembali bersolek dan disulap melalui Peraturan Pemerintah menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei bernilai triliunan rupiah.

Sampai tahun 2024 lalu semat ada kegundahan, dimana saat itu Jaringan jalan tol di Sumatera Utara sudah menghubungkan KEK ini  dengan sentra perkebunan sawit, kawasan industri, hingga sejumlah pelabuhan. Namun, KEK Sei Mangkei yang dikhususkan untuk hilirisasi sawit dan karet  ini masih  belum menarik bagi investor. Sebagian besar kawasan yang disiapkan untuk 200 pabrik itu masih kosong. Karena investor merasa dibuat ribeut oleh segala regulasi yang tidak perlu, dsb.

Beberapa kali warga sekitar kami dengar  menyoroti kondisi saluran air atau parit di sekitar kawasan yang dikhawatirkan dapat meluap ke Sungai Bah Bolon saat hujan deras.”Apakah sudah ada solusinya?”
Seiring waktu, pembangunan pun membutakan indra manusia diatasnya mereka tidak peduli serta menghormati sejarah leluhur hewan yang mendiami tanah ini jauh sebelum KEK ada, “Seharusnya sisakanlah tanah beberapa hektar untuk membuat Museum Hewan atau Kebun Binatang mini disitu. Sebagaimana pribahasa kuno, Tano ojahan, tano ondolan, ojahan ni saluhut nasa na adong.Tanah leluhur bukan sekadar komoditas, melainkan ruang sakral yang melahirkan identitas, marga, struktur sosial (Dalihan Na Tolu), dan tempat proses kehidupan berlangsung”
4.Pelajaran Besar K3 yang Luput: Peringatan bagi Investor Asing
Terakhir, menyikapi musibah kebakaran pabrik dengan 3 orang pekerja tewas 3 September 2026 lalu di PT Evyap Sabun Indonesia. Walaupun saat ini prosesnya sedang berjalan rapi di bawah jalur penyelidikan dan penyidikan pihak kepolisian, ada satu tamparan keras di bidang tata kelola yang sengaja kalian abaikan.
Masuknya investasi raksasa bernilai triliunan rupiah dari investor asing terancam menjadi sia-sia dan bumerang jika manajemen pengelola di dalam kawasan dinilai lemah dalam hal K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Kebakaran besar itu menjadi alarm pembongkar borok institusional:
Dan wajar jika kami menyanyakan, ‘Apakah selama ini pernah dilakukan diklat, simulasi, dan pelatihan bersertifikasi yang serius mengenai penanganan kebakaran, mitigasi bencana, serta kesiapsiagaan darurat bagi para pekerja lokal?”

Investor asing mana pun pasti akan berpikir ulang untuk menaruh modalnya di sebuah kawasan industri  jika manajemen keselamatan jiwanya masih dikelola kurang profesional dan jauh dari standar internasional. Jangan sampai slogan modernisasi kawasan ekonomi justru tercela oleh hal hal yang seharusnya tidak terjadi. “…Bayangkan saja Kak Vien, di tanah kelahiran kita ini, Kecamatan Bosar Maligas, ada sekitar 44.000 jiwa manusia menetap di sana. Tapi ironisnya, di bawah bayang-bayang investasi triliunan KEK Sei Mangkei, masih  ada 3.500-an  warga miskin  dan ada  1.200-an anak muda yang menganggur. Lalu keberhasilannya dimana?”
Penutup, Semoga redaksi Koranjokowi.com sudi menayangkan ini semua dan mohon maaf jika bahasanya kurang baik.
Salam dari kegelapan sejarah Bah Bolon,
Ikan hiu muter muter,see you later!
BERSAMBUNG
Opung Makar
(Sesepuh Macan Akar Penjaga Sei Mangkei)
#sahabatKPK! | @squad-sahabatkpk | #fabelismJournalism | #Fabjour | #RepublikFabeliano
(Seluruh karakter hewan dalam tulisan ini adalah personifikasi satire untuk ikut serta mengkampanyekan antikorupsi)

“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”

“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”

CATATAN REDAKSI :

Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Selasa, Tgl. 8  September 2026  sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) –  yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf  ya atas segala ketidak-nyamanannya.

Ikan Hiu muter – muter, See U Later!

https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

==

=============

Tentang Koran Jokowi 4463 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan