Kemarin sore (12/9) seluruh sungai di Kab.Mandailing Natal/Madina, Sumatera utara tiba tiba surut drastis. Kami, Nasution Bersaudara; Ali Monang & Mawardi ditemani KordNas yang datang dari Bandung, Jawa barat bergegas kesatu tempat dimana disana sudah menanti , RATU IKAN MIRAH DAN MENTERI KEHUTANAN. Ya benar saja, Ratu Mirah sudah bersama Bro Lubud Menhut Republik Fabeliano disana.
“Terimakasih atas kehadiran kalian, tolong bantu sampaikan surat kami ini kepada Wakil Bupati Madina – Atika Azmi Utammi Nasution, B.App.Fin., M.Fin. Oh ya untuk kalian, ada salam dari RAJA IKAN MIRAH, beliau berhalangan hadir karena kelelahan fisik karena hampir 3 bulan belakangan terus-menerus naik turun seluruh sungai yang kian pekat racun zat merkuri guna persiapan evakuasi ribuan bayi ikan, balita, lansia, hingga ikan jompo yang sekarat diterjang racun tambang.Silahkan duduk”, kami semua duduk dibebatuan sisi sungai.
Ratu Mirah melanjutkan pembicaraan. “Dengan disaksikan Bro Lubud yang juga putra daerah Madina, sampaikan surat terbuka ini kepada Wabup milenial terdidik lulusan Australia yang memiliki hati luar biasa luhur, bahkan rela menghibahkan seluruh gajinya demi anak-anak yatim di Madina sejak pelantikan tahun 2021 lalu. Sebagai sesama perempuan dan seorang ibu, kami yakin beliau memiliki empati yang jauh lebih dalam untuk mendengar jeritan kami. Sampaikan pula, jika kami dan Menhut-Bro Lubud terpaksa akan mengungsikan sisa-sisa populasi hewan air menuju sebuah waduk penampungan sementara di kaki Gunung Sorik Marapi. Kalau pun kerap disebuat sebagai wilayah yang penuh mitos luhur tentang larangan mendaki bagi kaum wanita, namun, Lillahi’taalla kini akan kami jadikan benteng perlindungan terakhir para hewan sungai”, Ratu Mirah kemudian terdiam dan diteruskan oleh Menhut – Bro Lubud.
“Evakuasi massal ini terpaksa dilakukan karena ancaman nyata zat merkuri akibat Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) telah berada di luar ambang batas nalar. Secara ilmiah, akumulasi zat kimia berbahaya ini membawa efek mengerikan bagi kehidupan ekosistem sungai:
Kerusakan Insang dan Kulit: Membuat hewan air kesulitan bernapas dan mengalami luka bakar kimiawi yang konstan.
Gangguan Organ Dalam: Racun yang terserap merusak sistem pencernaan, hati, dan ginjal satwa air.
Penurunan Imunitas: Menurunkan daya tahan tubuh massal sehingga populasi rentan terserang penyakit mematikan.
Akumulasi Racun (Biomagnifikasi): Racun yang mengendap pada ikan kecil akan berlipat ganda saat dimakan oleh predator, yang pada akhirnya berbahaya jika sampai dikonsumsi oleh rantai makanan manusia.
Kematian Massal: Kepunahan generasi satwa endemik yang seharusnya menjadi warisan Mandala-Holing untuk anak cucu.
.
Tambang Emas Tanpa Izin (PETI) pada hakikatnya bukan sekadar perusakan alam, melainkan bentuk pelanggaran hukum manusia dan Tuhan yang nyata karena sarat akan manipulasi dan korupsi. Praktik lancung ini tentu sangat tidak disukai oleh Bupati H. Saipullah Nasution dan Wakil Bupati Atika Azmi Utammi Nasution yang memegang teguh amanah kepemimpinan, sebagaimana telah diperingatkan dalam Surah Ar-Rum Ayat 41; “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Aktivitas tambang ilegal yang secara brutal membuang limbah merkuri ke aliran Sungai Batang Natal adalah manifestasi konkrit dari Al-fasad (kerusakan) di darat dan perairan yang didorong oleh keserakahan manusia.
“Kami yakin banyak hal yang disembunyikan dari Ibu Wabup milenial ini khususnya tentang maraknya PETI dan efek negatif bagi hewan air. Begini, kita buat sederhana, jika saat ini ada 11 sungai di Madina dengan total panjang 300 Km dan lebar minimal 25 meter, maka totalnya sekitar 300.000 meter. Jika disetiap meter perseginya ada minimal 20 ekor ikan mirah termasuk bayi dan telur mereka maka ada sekitar 6 jutaekor Ikan Mirah yang akan kita selamatkan. Kami sudah bicara dengan Istana Republik Fabeliano, mereka telah siap menyiapkan 10 kapal induk dan 50 helikopter aquarium lebar 200 x 100 meter. Jadi kita hanya berkordinasi saja dengan Pemkab melalui Wabup. Kalau pun banyak negara lain yang siap membantu. Kami menolaknya. Malu kami jika ada negara asing yang membantu, lihat saja Karhutla Kalimantan apapun menandakan kita tidak mampu. Adapun biaya relokasi 6 juta ekor, dsb. Insyaallah disediakan oleh Kerajaan Ikan Mirah, ini murni sumbangan dari kami bukan APBN kerajaan.”, Papar Ratu Mirah sambile memperlihatkan phone-banking yang bersaldo Rp. 2000 triliun!.
(Seluruh karakter hewan dalam tulisan ini adalah personifikasi satire untuk ikut serta mengkampanyekan antikorupsi)
“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”
“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”
CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Minggu,Tgl.13 September 2026 sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.
Be the first to comment