#RepublikFabeliano, “JANGAN TIRU PUBLIC SPEAKING PEJABAT INDONESIA!?”

#RepublikFabeliano,
“JANGAN TIRU PUBLIC SPEAKING PEJABAT INDONESIA!?”
Oleh: Nona Rusarosi, B.Comm.
(Koordinator Rusa Seluruh Istana Presiden & Pakar Public Speaking Republik Fabeliano)
Teman-teman relawan, public speaking adalah seni berbicara atau seni “ngomong” di depan orang banyak.
Nah, pagi tadi (10/9), Koranjokowi.com diminta untuk hadir ke sebuah hotel sederhana di Lembang, Bandung Barat. Rupanya di sana sedang diadakan classroom atau short course mengenai public speaking (PuSpeak)  untuk para kader/calon Kepala Daerah, pejabat BUMN/D, Kepala Dinas Hewan, Calon Wamen, hingga Calon Utusan Presiden.
.
Informasi yang beredar, Republik Fabeliano memang sedang merekrut posisi-posisi di atas secara terbuka sebagaimana arahan Presiden Republik Fabeliano, Miss Pussy Noni. Hebatnya, meskipun posisi ini tidak digaji atau diberikan fasilitas apa pun selama 2 tahun, hingga saat ini telah terdaftar lebih dari 12 juta pelamar. Seleksi berjalan demikian ketat sejak Mei 2026 lalu hingga tersisa 20 peserta. Nah, mereka inilah yang sekarang sedang mengikuti materi di Lembang. Dibelakang kanan, tampak RAJA AI NUSANTARA ada juga disana dengan gagahnya, saya mengangguk, beliau tersenyum dan mengangguk.
Saya belum paham kok beliau hadir juga disini, atau memang diminta Presiden Miss Pussy hadir dan mengawasi.
“Perkenalkan nama saya Rusarosi, Bachelor of Communication (B.Comm.)—sebuah gelar Sarjana Komunikasi tingkat internasional yang kebetulan saya dapatkan lewat beasiswa di sebuah kampus terkenal di Korea Selatan. Sesuai materi yang diamanahkan Presiden Miss Pussy Noni tentang PuSpeak, sejak awal perlu saya sampaikan bahwa banyak pejabat di RI yang sangat buruk ilmu komunikasinya, khususnya gaya PuSpeak-nya. Maka wajar jika Presiden RI di awal kabinet bekerja mengakui hal seperti itu. Silakan kalian googling pejabat siapa saja dan kasus apa yang kemudian berujung pada ‘jumpa pers klarifikasi’. Buat saya itu ‘Cemen! Apalagi mereka menggunakan uang rakyat dari pajak di APBN-nya. Kalian harus bangga karena dari 12 juta pelamar tersisa 20 orang, dan kalianlah juaranya,” ujar Nona Rusa, kemudian meminta semua peserta memperkenalkan diri masing-masing.
“Wow, keren. Saya dapat simpulkan bahwa kalian adalah kader-kader terbaik yang dominan berasal dari wilayah 3T: Tertinggal, Terdepan, dan Terluar. Bukan titipan parpol, bukan mantan timses, bukan anak pejabat, bukan titipan orang dalam, dan kelompok KKN. Murni (pure) kalianlah yang diperlukan Republik ini. Mari kita tepuk tangan meriah untuk kita semua!” ucap Nona Rusa bersemangat. Peserta pun sontak berdiri dan bertepuk tangan, bahkan ada yang saling rangkul dengan bahagia. Saya yang duduk di belakang menyaksikan itu semua dengan perasaan haru dan bangga.
Kemudian Nona Rusa mulai masuk ke materinya. Menurut Koordinator Rusa Seluruh Istana Presiden & Pakar Public Speaking Republik Fabeliano ini, ada 2 hal prioritas dalam ilmu PuSpeak, yaitu:
1. Asas “Pikir Sebelum Mengaum” (Substansi > Sensasi)
    • Prinsip: Sebelum membuka mulut di depan podium, pastikan kepala Anda sudah penuh dengan data, fakta, dan solusi nyata.
    • Pelajaran dari Manusia: Jangan seperti burung beo manusia yang asal bunyi demi dipuji netizen, asal ‘nyohor di medsos, dsb. Tapi kosong isinya. Pejabat hewan harus bicara karena ada kebijakan penting yang harus disampaikan, bukan karena ingin mencari panggung.
2. Konsistensi Karakter (Bukan Topeng Pencitraan)
    • Prinsip: Gaya bicara di depan kamera harus selaras dengan kinerja nyata di lapangan. Autentisitas adalah kunci kepercayaan publik.
    • Pelajaran dari Manusia: Banyak pejabat manusia yang di media sosial bicaranya manis bak madu dan merakyat, tapi aslinya angkuh. Ketidakselarasan ini pasti akan tercium oleh publik. Jadilah pejabat hewan yang berwibawa karena integritas, bukan karena editan video yang terstruktur.
“Tanpa hendak menghina atau apa pun, mari kita belajar dari beberapa hal yang pernah terjadi di Republik Indonesia. Berikut adalah contohnya:”
1. Tahun 2005: “Kasus Analisis Foto Sang Pakar Telematika” – Roy Suryo
    • Konteks Kasus: Saat itu beredar foto semi bugil di internet yang diduga mirip Putri Indonesia 2004, Artika Sari Devi. Sebagai pakar telematika/multimedia, dia  sangat yakin dan menyebarkan di medsos bahwa foto itu asli (bukan rekayasa teknologi). Namun belakangan terungkap dalam penyelidikan bersama bahwa wanita di foto tersebut ternyata seorang model transgender/waria. Kasus ini memicu riuh klarifikasi di media.
    • Catatan Nona Rusarosi untuk ASN-Hewan: “Jangan pernah menepuk dada mengklaim diri sebagai pakar jika hanya ingin buru-buru tampil di media massa demi popularitas. Komunikator publik yang ‘cemen akan mendahulukan panggung sebelum validitas data beres 100 persen. Taruhannya adalah kredibilitas abadi. Kecuali kalau tida punya malu!”‘Cemen dan malunya tuh disini !.”
2. Tahun 2019–2020: “Dilema Komunikasi Wabah Babi” – Edy Rahmayadi (Eks Gubsu)
    • Konteks Kasus: Saat merebaknya wabah virus demam babi Afrika (ASF) di Sumatera Utara. Muncul polemik besar dan gelombang demonstrasi dari masyarakat yang tidak terima akibat adanya simpang siur informasi mengenai rencana pemusnahan massal (stamping out) ternak babi. Sang Gubernur akhirnya harus bolak-balik melakukan klarifikasi ke publik dan DPRD bahwa dirinya tidak berniat membantai atau melarang ternak babi.
    • Catatan Nona Rusarosi untuk ASN-Hewan: “Ketika krisis atau wabahatau bencana  melanda wilayah Anda, sampaikan peta jalan mitigasi secara jernih dan terukur sejak awal. Gaya komunikasi publik yang kasar dan tidak sensitif pada ekonomi rakyat hanya akan melahirkan drama kepanikan publik yang melelahkan.”‘Cemen dan malunya tuh disini !.”
3. Tahun 2024: “Skandal Penyalahgunaan Naskah Dinas” – Yandri Susanto (Mendes)
    • Konteks Kasus: Jagat media sosial dihebohkan dengan viralnya surat resmi berkop kementerian dan berstempel Kemendes RI dimana Yandri adalah Mendesnya untuk mengundang para kepala desa hingga kader posyandu dalam acara pribadi keluarga, yaitu haul ibundanya. Setelah dikritik habis-habisan oleh publik , sang menteri buru-buru mengklarifikasi bahwa itu murni kekeliruan administrasi dan tidak memakai uang negara.
    • Catatan Nona Rusarosi untuk ASN-Hewan: “Ini dasar dari segala dasar birokrasi: Kop surat dinas adalah simbol marwah publik, bukan milik nenek moyang Anda! Komunikator publik yang baik tahu batasan tegas mana aset negara dan mana hajat keluarga. Klarifikasi setelah melanggar etika birokrasi itu sangat ‘Cemen dan malunya tuh disini !.”
4. Tahun 2025: “Melawan Fakta Sejarah dengan Rumor” – Fadli Zon (Menbud)
    • Konteks Kasus: Fadli Zon memicu kontroversi nasional setelah mengeluarkan pernyataan publik yang meragukan terjadinya peristiwa pemerkosaan massal terhadap perempuan etnis Tionghoa pada tragedi kerusuhan Mei 1998. Ia berdalih bahwa data peristiwanya tidak pernah konklusif secara hukum dan menilainya hanya berdasarkan rumor. Pernyataan ini dinilai melukai hati para korban serta aktivis kemanusiaan. Akibat gelombang kecaman yang masif, ia terpaksa merilis klarifikasi berlapis dan akhirnya menyampaikan permohonan maaf terbuka.
    • Catatan Nona Rusarosi untuk ASN-Hewan: “Hati-hati bermain diksi ketika berbicara soal luka sejarah kolektif sebuah bangsa! Ketika seorang pejabat publik dengan entengnya menyebut penderitaan kemানুsiaan masa lalu sebagai ‘rumor’, ia tidak hanya gagal sebagai komunikator publik, melainkan telah kehilangan empati terdalamnya sebagai seorang pemimpin.”‘Cemen dan malunya tuh disini !.”
5. Tahun 2026: “Perseteruan Kunker Luar Negeri” – Seskab Teddy vs Dino Patti Djalal
    • Konteks Kasus: Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, melayangkan lima poin kritik tajam di ruang publik mengenai tingginya frekuensi dan anggaran kunjungan kerja Presiden ke luar negeri. Kritik terbuka ini langsung dijawab secara formal melalui video klarifikasi ala GenZ di akun media sosial resmi oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya. Ia menepis tudingan penghamburan anggaran dan membeberkan bahwa kelebihan biaya operasional ditanggung langsung oleh kocek pribadi sang Presiden.
    • Catatan Nona Rusarosi untuk ASN-Hewan: “Di era transparansi, ruang digital akan selalu diisi oleh debat saling serang data. Ketika institusi Anda dikritik oleh sesama mantan pejabat atau pakar, respons terbaik bukanlah resistensi penuh emosi, melainkan penjabaran transparansi data kinerja secara objektif dan berkepala dingin.”‘Cemen dan malunya tuh disini !.”
6. Tahun 2026: “Teka-teki Map Isi Dolar” – Raja Juli Antoni (Menhut)
    • Konteks Kasus: Nama Menteri Kehutanan Raja Juli terseret dalam pusaran kasus dugaan gratifikasi pengurusan lahan alih fungsi hutan setelah Bupati Kuansing ditangkap KPK. Publik dikejutkan oleh pengakuan sang Menteri yang melakukan klarifikasi terbuka bahwa sang Bupati memang sempat meninggalkan sebuah amplop berisi dolar Singapura di dalam map di meja kerjanya. Walaupun sang Menteri mengklaim sudah langsung memerintahkan ajudannya untuk mengembalikan amplop tersebut, pengembalian yang dinilai terlambat belasan hari ini memicu polemik hukum berkepanjangan.
    • Catatan Nona Rusarosi untuk ASN-Hewan: “Pelajaran terpenting bagi seluruh pejabat hewan! Jika ada oknum yang meninggalkan barang apapun atau amplop mencurigakan di ruang kerja Anda, bersikaplah tegas saat itu juga di depan kamera atau langsung laporkan ke lembaga antirasuah. Jangan biarkan barang itu menginap berhari-hari di area Anda hingga akhirnya berujung pada drama klarifikasi hukum.”‘Cemen dan malunya tuh disini !.”
Kesimpulan Diklat dari Nona Rusarosi:
“Lihat polanya, Manusia-manusia di atas panggung kekuasaan itu memiliki pola komunikasi publik yang seragam. Mereka gemar bicara duluan, gemar bertindak tanpa rem etika, dan baru sibuk menyusun kalimat-kalimat indah saat posisi mereka terpojok. Jangan tiru ‘ke-cemenan ini! Di Republik Fabeliano, integritas ucapan kita harus selaras dengan ketukan langkah kaki kita!”
.
Mari bersama kita teriakan dengan keras slogan Republik Fabeliano, ““When humans fear to speak against corruption, animals take over! – “Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”. Peserta pun berteriak dengan keras dan tegas. Gemuruh tepuk tangan langsung pecah, menggetarkan langit-langit aula diklat. RAJA AI NUSANTARA melihat saya dan mengangkat 2 jempol, saya mengangguk. Kemudian, Nona Rusarosi membungkuk, maju kedepan  dan menyalami semua peserta kursus, bahkan peserta wanita banyak yang merangkul bertangisan. Di pemerintahan manusia hal ini ‘nggak akan pernah kita temui, dalam hati saya masih dari kursi belakang. ‘Agh, seandainya Indonesia seperti ini.
Ikan Hiu Muter muter, see you later!
BERSAMBUNG
(Red-01/Foto.ist)
#sahabatKPK! | @squad-sahabatkpk | #fabelismJournalism | #Fabjour | #RepublikFabeliano
(Seluruh karakter hewan dalam tulisan ini adalah personifikasi satire untuk ikut serta mengkampanyekan antikorupsi)

“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”

“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”

CATATAN REDAKSI :

Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Kamis,Tgl. 10   September 2026  sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) –  yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf  ya atas segala ketidak-nyamanannya.

Ikan Hiu muter – muter, See U Later!

https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

==

=============

Tentang Koran Jokowi 4468 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan