Gusmar,A. #RepublikFabeliano, “LONGSOR  KAB.SOLOK, SIAPA YANG MENANG BANYAK!?”

Gusmar,A. #RepublikFabeliano,
“LONGSOR  KAB.SOLOK, SIAPA YANG MENANG BANYAK!?”
“…..Kato baso buliah dicari, tapi hukum alam indak ka bisa diilakkan. Kok hulu lah dirusak dek kasarakahan, jan heran kok hilir lah nan katimpo bangkainyo.”Peribahasa Minang ini menjadi tamparan keras bagi kita semua. Musibah besar seperti galodo yang menghantam Arosuka tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang memicunya, dan salah satu yang paling berpengaruh adalah rusaknya lingkungan akibat ulah manusia.
Penggundulan hutan, maraknya Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang merajalela, serta pembalakan hutan secara liar telah merusak keseimbangan ekosistem Kab. Solok, Sumatera Barat  secara ekstrem. Bahkan seolah ‘dibiarkan’ , yang penting cuan!
.
Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. sebenarnya telah berulang kali mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi. Larangan ini merupakan peringatan tegas yang mutlak agar kita menjaga keseimbangan alam yang telah Allah ciptakan dengan sempurna. Namun sayang, manusia kerap bertingkah seolah mereka sedang melakukan “perbaikan” ekonomi, padahal yang nyata mereka lakukan adalah fasad—perusakan alam yang berujung pada petaka nyata bagi rakyat kecil yang tidak berdosa.
.
Jika sebulan lalu kita masih menganggap peringatan tentang ancaman PETI di hulu Solok sebagai angin lalu atau sekadar dongeng satire pengisi waktu luang, maka bencana galodo yang menghantam Arosuka pada 21 September 2026 kemarin adalah pembuktian paling telanjang dari peringatan suci tersebut dan dia akan datang lagi tanpa kita tahu kapan!
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Fabeliano – Uda Sima atau  Simakobu, M.Eng.Yang juga putera tanah Solok ini pun  mengambil langkah berani. Melalui siaran pers resmi yang disebarkan langsung ke seluruh pelosok negeri, Uda Sima mengeluarkan pernyataan menohok yang menggoncang kesadaran publik.
Dalam rilis resminya, Uda Sima menegaskan kembali kebenaran ayat-ayat tersebut. Bencana dahsyat di Kabupaten Solok ini bukanlah murni takdir atau cobaan dari Yang Maha Kuasa akibat cuaca semata. Ini adalah bencana ekologis buatan manusia serakah. Tuhan tidak pernah keliru menurunkan hujan, manusialah yang dengan sadar menghancurkan benteng alaminya sendiri. Ketika pori-pori bumi di perbukitan Gunung Talang dan hulu sungai dikoyak ekskavator liar, alam hanya mengembalikan air beserta lumpur dan bebatuan ke tempat yang paling logis: ke bawah, menghantam pusat pemerintahan.
.
Sambil membetulkan rompi warisan ‘Inyiak/kakek/buyut, Sang Menteri lulusan Master of Engineering dari Jepang ini menggelengkan kepala melihat kepulan lumpur yang merendam sebelas kantor dinas di kompleks Pemkab Solok. “Manusia di hulu itu luar biasa bebal,” ketus Uda Sima dalam pidatonya. “Saat Kementerian ESDM Republik Fabeliano berteriak  bahwa kawasan hutan lindung Gunung Rasan dan DAS Sungai Abu sedang sekarat dan ketika kantor Bupati sendiri yang kebanjiran lumpur setinggi dada dan fasilitas publik lumpuh, kalian baru sibuk menghitung berapa korban yang tertimbun. Siapa sebenarnya yang kehilangan akal sehat di sini?”
.
Mari kita hitung dengan kalkulator teknokratis, siapa yang menjadi korban di tingkat tapak. Akibat bencana galodo kemarin, aktivitas ratusan ribu warga Kabupaten Solok lumpuh total. Sawah-sawah produktif yang biasanya menghasilkan Bareh Solok kebanggaan Sumatera Barat kini berubah menjadi lautan lumpur abu-abu. Jalur transportasi utama terputus, pasar-pasar tradisional tutup, dan anak-anak sekolah terpaksa belajar di bawah bayang-bayang trauma di posko pengungsian Kayu Aro. Estimasi kerugian ekonomi akibat kerusakan infrastruktur, fasilitas publik, kendaraan, dan gagal panen pertanian di Arosuka diprediksi menembus ratusan  miliar rupiah. Angka yang sangat besar bagi daerah yang sedang berjuang membangun ekonominya.
.
Namun, di balik air mata para pengungsi dan jeritan warga yang kehilangan mata pencaharian, ada satu kelompok kecil yang sama sekali tidak tersentuh lumpur. Mereka adalah para bandar, cukong, dan pemodal raksasa PETI. Di saat warga hancur lebur dan negara harus merogoh kocek APBD/APBN untuk pemulihan bencana, para ‘Boss Besar’ tambang liar ini sedang menonton derita ini dari Hp-nya sambil tersenyum lebar. Uang gelap senilai Rp1 Triliun per tahun dari hasil mengeruk emas secara ilegal telah aman di rekening-rekening rahasia mereka di luar kota atau bahkan luar negeri. Mereka adalah pihak yang “menang banyak”. Rumah mewah mereka di kota besar tidak akan pernah tersentuh galodo. Anak-cucu mereka tidak perlu mengungsi ke tenda darurat. Mereka merasuki kekayaan dari hulu, membiarkan warga lokal menanggung kehancuran di hilir, lalu melenggang bebas tanpa tersentuh hukum.
‘Emang gua pikirin!, kata mereka.
Sebagai Menteri ESDM Republik Fabeliano, Uda Sima mengingatkan kembali formula konkretnya kepada aparat penegak hukum manusia. Jangan hanya menangkap buruh kasar atau operator ekskavator yang dibayar harian. Tapi seret para ‘begundal dan mafianya,Jika ketegasan ini tidak segera diambil—jika alu tataruang patah tigo tidak diberlakukan—maka bencana kemarin hanyalah ‘ceritera bersambung’ yang akan datang lagi setiap saat.
‘Agh, sudahlah semua maunya menang banyak.
BERSAMBUNG
(Red-01/Foto.ist)
#sahabatKPK! | @squad-sahabatkpk | #fabelismJournalism | #Fabjour | #RepublikFabeliano
(Seluruh karakter hewan dalam tulisan ini adalah personifikasi satire untuk ikut serta mengkampanyekan antikorupsi)

“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”

“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”

CATATAN REDAKSI :

Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Sabtu, Tgl.25   September 2026  sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) –  yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf  ya atas segala ketidak-nyamanannya.

Ikan Hiu muter – muter, See U Later!

https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

=

 

============

Tentang Koran Jokowi 4504 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan