Kemarin (24/9) saya sudah tiba di area situs kuno Candi Tikus di Dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Tidak lama ada 2 tikus anak anak menghampiri, “Maaf kakak yang namanya S. Yusup Saputra, dari koranjokowi.com Provinsi Jawa Timur?”, …saya mengangguk. Mereka pun mengajak saya masuk lubang besarbawah tanah, disana sudah menanti ‘tuan rumah dan pengundang’ saya, namanya Mbah TikusTemon, yang berusia lebih dari 200 tahun.Karena Candi Tikus telah ada sejak abad ke-13 lalu. Dan mulai populer sejak thn.1914 era Bupati Mojokerto saat itu, Raden Adipati Ario Kromodjojo Adi Negoro.
Ke-2 anak tikus itu membawakan cemilan dan kopi pahit untuk kami berdua kemudian berlari keluar, “Mereka cicit saya, generasi ke 400. Terimakasih sudah menyempatkan datang atas undangan saya, mas yusup. Tanpa manusia ketahui kehidupan kami tetap ada seperti biasa, hanya manusia manusia tertentu yang dapat melihatnya.Waktu KordNas Koranjokowi.com ke Kediri seharusnya mau mampir kesini namun batal karena ada giat lain di Gresik. Ya syukur sekarang mas Yusup datang”, si Mbah pun menghirup kopi. Kami pun berlanjut diskusi.
.
1.Tempat ini aslinya adalah petirtaan suci, lambang Gunung Meru tempat sumber air kehidupan masyarakat Majapahit kuno yang teah ada sekitar abad ke-13. Lalu pada tahun 1914, daerah pertanian di sini dilanda paceklik dan serangan hama. Waktu manusia-manusia zaman kolonial itu memburu bangsa kami, mereka melihat kami lari dan masuk ke gundukan tanah ini. Begitu digali atas perintah bupati saat itu, ketemulah bangunan megah ini. Karena kami yang ‘menjaga’ bangunan bawah tanah ini, manusia pun memberi nama Candi Tikus. “Kami tidak minta royalti nama, Mas, tapi sebutan itu jadi awal mula stigma buruk kami.”
2.Tempat ini dibawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI (dulu BPCB Jawa Timur) di bawah Kementerian Kebudayaan yang merawatnya dengan sangat telaten. Kami menghormati mereka.
3.Manusia itu sombong dan egosentris. Dalam pola ekosistem yang diciptakan Tuhan, bangsa tikus itu sangat bermanfaat bagi manusia. Jadi bukan hama! Misalnya, kami adalah penyebar benih alami di hutan, kami menggemburkan tanah pertanian lewat terowongan-terowongan kecil yang kami gali sehingga air bisa meresap, dan kami ini mata rantai makanan penting untuk menjaga populasi burung hantu dan elang. “Setiap saat kami harus wasada agar tidak dimakan mereka. Dan Kalau kami punah total, ekosistem manusia goyah! Tapi apa balasan manusia? Kami diracun, dipukul, dan dihina.”
.
4.Bangsa tikus disini mandiri, Tikus-tikus di Desa Temon ini maupun di seluruh Indonesia tidak pernah mendapatkan fasilitas Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah manusia saat ini.
.
‘Kami juga tidak ada utrusan dengan Koperasi Desa dan Koperasi Nelayan. Kami cari makan sendiri dari sisa-sisa alam. Kalau pun tidak bergizi setidaknya kami tidak korupsi sejak bumbu dapur sampai motor dan mobil listrik serta pembangunannya. Tapi kenapa, kalau ada manusia di luar sana yang mencuri dana MBG, menilep duit Koperasi Desa, atau merampok anggaran Koperasi Nelayan, media selalu memakai istilah ‘Tikus MBG’, ‘Tikus Koperasi Desa’, atau ‘Tikus Koperasi Nelayan’?. Ini menyakitkan kami karena kami tidak tahu menahu soal itu semua, Siapa yang Sebenarnya Serakah?, jangan lupa dipenjara penjara KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan apakah ada bangsa tikus yang memakai rompi oranye di dalam penjara itu? Tidak ada, Mas! Semuanya yang ditangkap karena korupsi triliunan rupiah itu wujudnya MANUSIA!….
.
… Kami kalau lapar paling cuma mengambil sebutir padi atau sepotong singkong jatuh untuk menyambung hidup hari itu. Tapi manusia yang sudah punya rumah megah, mobil berderet, dan jabatan tinggi, masih tega memakan hak orang miskin. Jadi, sebenarnya siapa yang pantas disimbolkan serakah dan rakus?, merekalah, MANUSIA !. Oleh karena itu, lewat koranjokowi.com, tolong bantu luruskan sejarah dan istilah ini. Jangan bawa-bawa nama kami lagi untuk kelakuan buruk manusia.”, saya mengangguk.Diluar terdengar keriuhan anak anak tikus berlarian mengejar pengunjung yang buang sampah sembarangan.
(Seluruh karakter hewan dalam tulisan ini adalah personifikasi satire untuk ikut serta mengkampanyekan antikorupsi)
“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”
“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”
CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Jumat, Tgl.25 September 2026 sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.
Be the first to comment