LAMPUNG ADALAH MINIATUR INDONESIA, TRANSMIGRAN BUKANLAH PERAMBAH HUTAN ! – (2)

LAMPUNG ADALAH MINIATUR INDONESIA, TRANSMIGRAN BUKANLAH PERAMBAH HUTAN ! – (2)

KoranJokowi.com, Jakarta : Pada edisi/jilid-1 lalu sedikit kita mengupas tentang latar belakang para ‘Maung Siliwangi’ berkiprah sebagai transmigran di Lampung.

Check it dot

LAMPUNG ADALAH MINIATUR INDONESIA, TRANSMIGRAN BUKANLAH PERAMBAH HUTAN ! – (1)

Edisi/jilid ke-2 ini Kita akan berselancar hingga puluhan tahun sebelumnya, check it dot !

KNIL SEBAGAI BATU LONCATAN RAKYAT MENUJU TENTARA INDONESIA PROFESIONAL?
Teman teman,
Bagi Belanda, Perang Diponegoro telah menghabiskan banyak biaya dan tenaga. Hal ini menginsyafi pejabat baru macam Gubernur Jenderal van den Bosch pada tahun 1830 untuk memperbaharui kekuatan militernya  dan membentuk pasukan baru yang siap menghadapi perlawanan lokal yang terjadi didalam wilayah Hindia Belanda.

Dan di tahun 1830, KNIL dibentuk dengan tujuan ‘menjaga marwah Belanda di mata Dunia. Dan banyak anak muda Indonesia yang kemudian bergabung untuk ‘mencari ilmu‘ bagaimana manajemen militer Belanda, karena mereka tahu suatu waktu Belanda akan ‘lengser keprabon.

Untuk Itu pula mereka harus berjiwa-besar jika disebut sebagai prajurit rendahan atau ejekan sebagai ‘BELANDA HITAM. Sementara itu, para perwira KNIL umumnya adalah orang-orang Belanda. Tradisi KNIL se-bagai tentara kolonial yang rasis terus dipelihara. Hanya orang-orang Belanda saja yang diprioritaskan sebagai per-wira KNIL.

KNIL – Koninklijk Nederlandsch Indisch Le- ger (KNIL) adalah semacam pasukan militer Belanda di Indonesia antara tahun 1830-1950,

PERAN DIDI KARTASASMITA BAGI NKRI
Di jilid-1 Lalu Redaksi berjanji akan membuka profilnya, maka di jilid-2 ini kami mencoba mengurainya secara sederhana termasuk hasil himpunan Referensi yang terbatas. Apapun semoga teman teman mendapat ‘sesuatu yang lain’ atas ini, Mohon maaf lahir bathin.

R. Didi Kartsasmita, adalah seorang senior di Akademi Militer Kerajaan Belanda (KMA) Breda. Ketika mengetahui RI sudah berdiri pada 17 Agustus 1945, Didi justru menghadap Menteri Penerangan sekaligus Menteri Pertahanan add interim Amir Sjarifuddin untuk menawarkan diri.

“Saya lulusan KMA Breda dan pernah menjadi letnan satu pada kesatuan KNIL. Saya merasa terpanggil untuk membantu perjuangan RI. Apa kiranya yang bisa saya kerjakan?” ujar Didi saat Itu.

Amir sendiri menyambut baik tawaran Didi. Di tengah banyaknya para eks anggota KNIL yang bergabung dengan Pemerintah Sipil Hindia Belanda (NICA) pimpinan H.J. van Mook pasca menyerahnya Jepang kepadaSekutu, keinginan Didi untuk mengabdi kepada Republik merupakan suatu hal yang menggembirakan.

“Memang, saudara diharapkan dapat membantu kami. Tentu banyak yang saudara dapat kerjakan,” jawab Amir.

Dalam kesempatan itu, Amir juga bercerita bahwa pemerintah RI memang sudah merencanakan akan segera membentuk tentara. Untuk mengisinya, sudah ada kesedian dari beberapa mantan perwira Pembela Tanah Air (PETA), sebuah kesatuan yang dibentuk bala tentara Jepang untuk menghadapi Sekutu. Dan negara Juga membutuhkan sumbangsih para mantan opsir KNIL didalamnya, maka kehadiran Didi akan menjadi magnit yang lainnya, Itu PASTI, karena ketokohan Didi tidak diragukan saat Itu.

Dan Didi kemudian berkeliling Jawa untuk menghimpun dukungan kepada RI dari eks opsir-opsir KNIL. Setelah ditandatangani 20 eks opsir KNIL (termasuk eks Mayor Oerip Soemohardjo) dan disetujui Presiden Sukarno, maklumat tersebut diumumkan ke khalayak lewat corong Radio Republik Indonesia (RRI) selama sepuluh hari berturut-turut sejak 11 Oktober 1945.

Dan, berdasarkan keputusan rapat kabinet 15 Oktober 1945 yang dipimpin Wakil Presiden Mohammad Hatta, Didi pun diberi pangkat mayor jenderal. Dia kemudian ditugaskan untuk membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Jawa Barat. Otomatis tugas tersebut menjadikannya sebagai “Panglima Komandemen Jawa Barat”

Dan benar’ saja, banyak teman Didi, eks perwira KNIL bergabung ke TKR yang ini membuat marah eks anggota-anggota KNIL yang lain.

Didi Dan puluhan tannya pun dianggap “pengkhianat” yang telah melanggar sumpah setia kepada Ratu Belanda. Bahkan begitu berangnya mereka, hingga Panglima KNIL Letnan Jenderal S.H. Spoor (eks instruktur Didi di KMA Breda) menyebut Didi sebagai “bajingan”.

Aku dan teman-temanku memang KNIL. Namun ,sejak Panglima KNIL Letnan Jenderal Hein ter Poorten menyatakan KNIL bubar pada 9 Maret 1942, secara otomatis kewajiban kami untuk “setia kepada Ratu Belanda” pun gugur. Dan kami akan setia kepada Sang Saka Merah’ Putih, Hidup mati kami!”, demikian Didi.

Didi membuktikan baktinya kepada RI saat TKR harus berhadapan dengan tentara Inggris. Kendati dia tidak pernah menyetujui perintah Jakarta supaya pasukannya di Bandung “mengalah” kepada Inggris, namun pada akhirnya dia tetap menarik mundur TKR ke luar Bandung pada Maret 1946.

Kepatuhan Didi kepada pemerintah RI ternyata tidak berbalas. Ketika Komandemen Jawa Barat dibubarkan, nama Didi justru tergeser oleh juniornya Kolonel A.H. Nasution yang kemudian menjadi panglima di Divisi I Siliwangi (nama pengganti Komandemen Jawa Barat). Padahal di Jawa Barat saat itu masih banyak senior-senior Nasution semasa di KNIL. Selain Didi pun, ada Kolonel Hidajat Martaatmadja, perwira Sunda yang juga alumni KMA Breda.

Mengapa ? , Lalu apa jasa Didi Bagi Transmigran di Lampung ?

–  BERSAMBUNG – (Red-01/Foto.ist)

Tentang RedaksiKJ 1193 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan