Guntur Sukarno Putra (27), “BEDA BERPIKIR CAPRES NASDEM DENGAN KAUM PATRIOTIK SUKARNOIS”

Guntur Sukarno Putra (27),

“BEDA BERPIKIR CAPRES NASDEM DENGAN KAUM PATRIOTIK SUKARNOIS”

Koranjokowi.com, OPini :

Setelah Nasdem melalui Ketua Umumnya Surya Paloh mengumumkan Anies Baswedan sebagai capres dari partai NASDEM  tersebut suasana dunia politik didalam negeri bertambah heboh, timbul pro dan kontra di kalangan petinggi-petinggi parpol, aktivis-aktivis sosial politik, lembaga-lembaga survei, para ustadz dan ulama-ulama yang seluruhnya sering mengeluarkan argumentasi-argumentasi beraneka warna.

Kita-kita kaum Patriotik Sukarnois hanya dapat geleng-geleng kepala sambil tidak habis pikir mengapa sekedar dipilihnya Anies sebagai capres Partai Nasdem membuat mereka-mereka bereaksi seakan-akan kehilangan akal sehat.

Bagi seluruh kekuatan Patriotik Sukarnois hal tersebut sesuai dengan ajaran Bung Karno hanyalah laksana sekedar riak kecil di gelombang besar di Samudera. Bila kita mau berpikir tenang dengan kepala dingin kita selalu akan kembali kepada pijakan ideologi, pemikiran-pemikiran dan ajaran-ajaran Bung Karno secara utuh. Seperti kita ketahui dalam ajaran Bung Karno terdapat ajaran perlunya kita melakukan “reform aksi dan doels aksi” (Soekarno; DBR-I).

NasDem Pesimis Soal Pencalonan Anies, Jhon Sitorus: Dia Hanya Dijadikan Sapi Perah Surya Paloh Cs

Yakni aksi-aksi yang bersifat reformistis, aksi kecil-kecilan dan aksi maksud tertinggi yaitu sebuah aksi untuk mewujudkan suatu masyarakat sosialisme modern yang yang sifatnya religius dan berketuhanan Yang Maha Esa di Indonesia.

Dari dua aksi tersebut jelas masalah pencalonan Presiden termasuk kedalam reform aksi, aksi kecil-kecilan termasuk di dalamnya dipilihnya Capres partai Nasdem. Demikian pula kemungkinan adanya calon-calon lain yang diusung oleh partai-partai yang lain.

Sikap Kaum Patriotik Sukarnois Mengenai Capres.

Untuk melaksanakan hal tersebut di atas maka sudah pasti kaum Patriotik Sukarnois yang terdiri dari tokoh-tokoh, kelompok-kelompok, organisasi-organisasi bahkan partai-partai yang berpendirian konsisten mempertahankan Pancasila 1 Juni 1945 dan UUD Revolusi yang asli sebagai pondasi negara sebagai dasar negara yang harus tetap dipertahankan/tidak dirubah sepanjang zaman. Oleh sebab itu kita menilai mampu tidaknya seseorang menjadi Presiden selalu dari sudut tersebut.

Demikian pula sikap kita kaum Patriotik Sukarnois terhadap capres Nasdem tolok ukurnya sangat jelas yaitu:

Pertama apakah sebagai Presiden yang bersangkutan akan mempertahankan Pancasila 1 Juni 1945. Sebagaimana Presiden Sukarno melakukannya yaitu dengan tegas melaksanakan sistem demokrasi terpimpin di Indonesia serta menolak dengan tegas sistem demokrasi liberal kapitalistik seperti yang sekarang berlaku setelah UUD di Amandemen.

Potret Pertemuan AHY Viral, Surya Paloh, Hingga Anies, Benny Harman: Ini Bukan Sekadar Foto - Radar Sulbar

Kedua Apakah sebagai Presiden yang bersangkutan akan melaksanakan visi Bung Karno mengenai masalah-masalah agama khususnya Islam. Seperti kita ketahui ketika menerima gelar Doktor Honoris Causa dalam ilmu Tauhid Bung Karno berpendapat bahwa Tauhid bukanlah suatu ilmu melainkan rasa hati yang mengakui ketunggalan dari Tuhan di samping itu mengakui kenyataan bahwa Tuhan Yang Maha Esa atau Allah SWT adalah suatu zat yang tanpa mula dan tanpa akhir. (Without beginning and without end).

Oleh sebab itu selain adanya toleransi dan kebebasan beragama di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dijamin pula kemerdekaan otak, kemerdekaan hati dan kemerdekaan pengetahuan bagi penganut Agama apapun di dunia ini. Disamping itu menolak adanya batasan nama-nama Allah SWT karena keberadaan Allah SWT adalah tanpa batas, robbul alamin (seru sekalian alam). Oleh sebab itu nama Allah SWT tidaklah terbatas (limit less) hal ini dibenarkan oleh promotor Dra. Baroroh Baried.

Ciri ketiga adalah Ia haruslah berusaha membangun dunia kembali dengan jalan menghilangkan penghisapan antar manusia dengan manusia, bangsa dengan bangsa termasuk menjaga kelestarian alam di planet bumi ini. Seperti kita ketahui ada tiga negara yang menjadi paru-paru dunia yaitu Brazilia, Kongo dan Indonesia oleh sebab itu di era Bung Karno pelestarian alam dan hutan sangat dijaga dengan dalih apapun HPH (penebangan hutan) dilarang. Hutan yang boleh ditebang hanyalah hutan jati dengan syarat pohonnya sudah berumur 20 tahun. Nyatanya kaum Kolonialis dan Imperialis beserta antek-anteknya didalam negeri berusaha mati-matian menggulingkan pemerintahan Brazilia yang progresif saat itu, kemudian membunuh Presiden Kongo yang Flamboyan Patrice Lumumba dan sudah barang tentu menggulingkan Sukarno dengan jalan melakukan kudeta merangkak (Asvi Marwan Adam).

Satu bukti konsistensi Bung Karno untuk menjaga kelestarian alam yaitu pernah terjadi di tahun 1960-an seorang pejabat, kalau tidak salah ingat seorang Camat di daerah Lapangan Merdeka menebang sebuah pohon Mahoni yang tumbuh subur di kawasan tadi. Mengetahui hal tersebut Presiden langsung memerintahkan Gubernur Jakarta untuk segera mencopot dan memecat dengan tidak hormat pejabat tersebut.

Keberanian Seorang Presiden Melaksanakan Prinsip Anti Kolonialisme

Syarat lain bagi seorang Presiden Indonesia hendaknya Ia dijabat oleh seorang tokoh yang kuat memegang prinsip anti Kolonialisme dan Imperialisme. Sebagai contoh ketika pejuang-pejuang FNPA Front Nasional pembebasan Aljazair berkunjung ke Indonesia di tahun 60-an dan bertemu Presiden mereka mengutarakan kunjungannya adalah untuk meminta bantuan senjata bagi pembebasan Aljazair dari kolonialis Prancis. Walaupun tahu bahwa tindakannya adalah melanggar hukum internasional Bung Karno bersikeras membela Aljazair dengan mengirimkan persenjataan menggunakan kapal selam ke Maroko tempat di mana pejuang-pejuang Aljazair bermarkas. Keberanian semacam ini diperlukan oleh seorang yang menjadi Presiden Indonesia.

Tindakan mirip hal tersebut di atas telah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo yaitu melakukan praktik hilirisasi, melarang ekspor bahan mentah terutama Nikel, termasuk merebut saham mayoritas di Freeport-Irian Barat.

Pembaca dari hal-hal yang saya beberkan di atas menjadi jelaslah syarat-syarat wajib apa saja yang dibutuhkan oleh seorang Presiden NKRI.

Seluruh kekuatan kaum Patriotik Sukarnois berpendapat bulat siapapun Presiden Indonesia di dalam di tahun 2024 yang akan datang hendaklah memenuhi kriteria-kriteria tersebut di atas.

Indonesia adalah negara besar yang dapat berdiri tegak bila dipimpin oleh seorang yang memenuhi kriteria syarat-syarat tersebut diatas. Menjadi pertanyaan bagi kaum Patriotik Sukarnois mampukah Capres Nasdem sebagai Presiden memenuhi syarat-syarat tersebut di atas?

Silakan para pembaca menilainya sendiri dengan hati tenang dan kepala dingin.

Jakarta 12 Februari 2023

Guntur Soekarno

Ketua Dewan Ideologi DPP PA GMNI dan Pemerhati Sosial

 

(Foto.ist/repro)

Lainnya,

Tentang RedaksiKJ 3833 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan