Sonny Irwansyah,
“TRIBUTE UNTUK 300.000 BIDAN INDONESIA”
DUKUN BERANAK, PARAJI, DAN BIDAN:
Tiga Wajah Penjaga Kelahiran di Indonesia
PENDAHULUAN
Saat ini ada lebih dari 300.000 bidan yang tergabung di Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Teman teman relawan dimana saja berada, Di balik setiap kelahiran, terdapat sosok yang menjadi penolong pertama kehidupan manusia. Sebelum rumah sakit berdiri di berbagai daerah dan sebelum tenaga kesehatan menjangkau pelosok desa, masyarakat Nusantara telah mengenal dukun beranak atau paraji sebagai penjaga keselamatan ibu dan bayi. Mereka hadir bukan hanya sebagai penolong persalinan, tetapi juga sebagai penjaga tradisi, penyimpan pengetahuan lokal, dan pendamping keluarga dalam salah satu peristiwa paling penting dalam kehidupan manusia: kelahiran. Namun seiring perkembangan ilmu kesehatan dan modernisasi pelayanan medis, lahirlah profesi bidan yang membawa pendekatan ilmiah dan standar kesehatan yang lebih terukur. Ketiganya—dukun beranak, paraji, dan bidan—pernah hidup berdampingan, bahkan hingga kini masih dapat ditemukan di berbagai daerah Indonesia. Pertanyaannya, apakah paraji dan dukun beranak hanya tinggal jejak masa lalu? Ataukah mereka masih memiliki peran penting di tengah arus modernisasi pelayanan kesehatan?
# I. DUKUN BERANAK DAN PARAJI:
Dukun beranak adalah perempuan yang memiliki kemampuan membantu proses persalinan berdasarkan pengalaman turun-temurun, pengetahuan tradisional, serta kepercayaan yang hidup dalam masyarakat setempat. Di Jawa Barat, dukun beranak lebih dikenal dengan istilah **Paraji**. Kata paraji berasal dari bahasa Sunda yang merujuk pada perempuan yang memiliki keahlian membantu persalinan dan merawat ibu setelah melahirkan. Mereka bukan hanya membantu proses lahirnya seorang bayi, melainkan juga mendampingi ibu sejak masa kehamilan hingga masa nifas. ### Kedudukan Paraji dalam Masyarakat Sunda Dalam kehidupan masyarakat Sunda tempo dulu, paraji memiliki posisi yang sangat terhormat.

Mereka dipercaya sebagai: * Penolong persalinan * Perawat ibu nifas * Perawat bayi baru lahir * Penjaga tradisi kelahiran * Penasihat keluarga Dalam banyak kampung, paraji bahkan lebih dipercaya dibanding tenaga kesehatan karena dianggap memahami kondisi sosial, budaya, serta psikologis masyarakat setempat. ### Pengetahuan yang Dimiliki Paraji Sebagian besar paraji memperoleh ilmunya secara turun-temurun dari orang tua atau paraji senior. Pengetahuan yang mereka kuasai antara lain: * Teknik pijat ibu hamil * Mengenali posisi janin * Membaca tanda-tanda persalinan * Perawatan tali pusat * Penggunaan ramuan herbal tradisional * Pemulihan ibu pasca melahirkan Meski tidak diperoleh melalui pendidikan formal, pengetahuan tersebut diwariskan dan dipraktikkan selama puluhan bahkan ratusan tahun.–
# II. TRADISI DAN RITUAL KELAHIRAN
Paraji tidak hanya membantu proses persalinan. Mereka juga berperan sebagai penjaga berbagai tradisi budaya yang berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran. Dalam masyarakat Sunda dikenal berbagai ritual, di antaranya: ### Nujuh Bulanan Upacara syukuran saat usia kandungan memasuki tujuh bulan sebagai bentuk doa dan harapan agar ibu dan bayi memperoleh keselamatan. ### Reuneuh Mundingeun Tradisi yang dilakukan untuk memohon perlindungan bagi ibu hamil dan calon bayi yang akan lahir.### Perawatan Bayi Tradisional Meliputi: * Pijatan tradisional bayi * Memandikan bayi * Perawatan tali pusat * Pembacaan doa-doa keselamatan Bagi masyarakat tradisional, kelahiran bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan juga peristiwa budaya, sosial, dan spiritual.–
# III. KELEBIHAN PARAJI
Walaupun tidak memiliki pendidikan medis formal, paraji memiliki sejumlah kelebihan yang membuat mereka tetap dipercaya masyarakat hingga saat ini. ### Dekat dengan Masyarakat Paraji mengenal hampir seluruh keluarga di kampungnya. Mereka memahami: * Kondisi ekonomi keluarga * Riwayat kehamilan * Kebiasaan dan tradisi keluarga ### Pelayanan Tanpa Batas Waktu Banyak paraji bersedia datang kapan saja saat dibutuhkan. Siang maupun malam. Hujan maupun panas. Tanpa mengenal jam kerja. ### Pendekatan Emosional dan Spiritual Paraji sering dianggap sebagai bagian dari keluarga sendiri. Mereka memberikan: * Dukungan psikologis * Nasihat kehidupan * Pendampingan spiritual * Rasa tenang bagi ibu yang akan melahirkan–

# IV. KEKURANGAN DAN RISIKO DUKUN BERANAK
Di sisi lain, terdapat keterbatasan yang tidak dapat diabaikan. Persalinan merupakan proses yang memiliki risiko tinggi dan dapat berubah menjadi keadaan darurat dalam hitungan menit. Komplikasi yang sering terjadi antara lain: * Perdarahan hebat * Eklampsia * Infeksi * Bayi sungsang * Gawat janin Kondisi-kondisi tersebut memerlukan penanganan medis yang tidak dapat dilakukan oleh paraji tradisional. Karena itu, angka kematian ibu dan bayi pada masa lalu relatif lebih tinggi dibandingkan setelah berkembangnya pelayanan kesehatan modern.–
# V. MUNCULNYA BIDAN ##
Siapa Itu Bidan? Bidan adalah tenaga kesehatan profesional yang memiliki pendidikan formal dan izin praktik untuk memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Di Indonesia, bidan menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan, terutama di wilayah pedesaan dan daerah terpencil. ### Tugas Bidan Bidan memiliki kemampuan untuk: * Memeriksa kehamilan * Menolong persalinan * Menangani kegawatdaruratan awal * Merujuk pasien ke fasilitas kesehatan * Memberikan imunisasi * Pelayanan keluarga berencana (KB) * Perawatan bayi baru lahir Mereka bekerja berdasarkan ilmu kedokteran dan standar pelayanan kesehatan nasional.–
# VI. BIDAN DAN REVOLUSI KESELAMATAN IBU
Kehadiran bidan membawa perubahan besar dalam sejarah kesehatan Indonesia. Program penempatan bidan desa sejak era 1990-an berhasil memperluas akses pelayanan kesehatan hingga ke pelosok negeri. Dampaknya sangat signifikan: * Angka kematian ibu menurun * Angka kematian bayi menurun * Persalinan menjadi lebih aman * Komplikasi dapat ditangani lebih cepat Bidan kemudian menjadi garda terdepan dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak di Indonesia.–

# VII. KONFLIK DAN KOLABORASI
Pada awal kemunculannya, hubungan antara paraji dan bidan tidak selalu berjalan harmonis. Banyak masyarakat yang lebih mempercayai paraji karena kedekatan sosial dan budaya. Di sisi lain, tenaga kesehatan menilai praktik tradisional memiliki sejumlah risiko. Namun seiring waktu muncul pendekatan baru yang lebih inklusif. ### Kemitraan Bidan dan Paraji Dalam model kemitraan ini: * Paraji mendampingi ibu secara budaya dan emosional. * Bidan menangani aspek medis persalinan. Pendekatan ini terbukti lebih mudah diterima masyarakat. Paraji tidak disingkirkan, melainkan diberdayakan sebagai mitra dalam pelayanan kesehatan.–
# VIII. PARAJI DI ERA MODERN
Meski jumlahnya terus berkurang, paraji belum sepenuhnya hilang dari kehidupan masyarakat Indonesia. Di sejumlah daerah Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan hingga Papua, paraji masih menjalankan perannya. Kini mereka lebih banyak berfungsi sebagai: * Pendamping ibu hamil * Terapis pijat tradisional * Perawat bayi * Penjaga tradisi adat Sementara proses persalinan dilakukan bersama tenaga kesehatan profesional.–
# IX. PERTARUNGAN ANTARA TRADISI DAN MODERNITAS
Hilangnya paraji bukan sekadar hilangnya sebuah profesi. Ia juga berarti hilangnya: * Pengetahuan lokal * Tradisi kelahiran * Kearifan budaya * Sejarah perempuan desa Namun di sisi lain, keselamatan ibu dan bayi tetap harus menjadi prioritas utama. Karena itu tantangannya bukan memilih antara paraji atau bidan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana keduanya dapat saling melengkapi dan berjalan berdampingan demi keselamatan sekaligus pelestarian budaya.–

# PENUTUP
Paraji adalah warisan budaya. Bidan adalah kebutuhan kesehatan modern. Paraji mengajarkan kedekatan, kepedulian, dan nilai-nilai kemanusiaan. Bidan menghadirkan ilmu pengetahuan, keselamatan, serta standar medis yang mampu menyelamatkan nyawa. Keduanya lahir dari tujuan yang sama: menyambut kehidupan.Di sebuah ruang persalinan sederhana di kampung, kita mungkin masih menemukan gambaran Indonesia yang sesungguhnya. Seorang paraji menggenggam tangan ibu yang sedang berjuang melahirkan, sementara seorang bidan memantau keselamatan ibu dan bayi dengan peralatan medis modern. Tradisi dan ilmu pengetahuan berdiri berdampingan. Menjaga tangis pertama seorang bayi yang baru hadir ke dunia. Karena pada akhirnya, setiap kelahiran bukan hanya peristiwa medis. Ia adalah peristiwa kemanusiaan, budaya, dan harapan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
![]()



============
CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Kamis tgl. 4 Juni 2026 sejak hari Jumat, tgl. 1 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan PT. QCI – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.Ikan Hiu muter – muter, See U Later!
===============

Be the first to comment