Sonny Irwansyah, “Paraji dan Kesunyian di Ujung Zaman”

Sonny Irwansyah,

“Paraji dan Kesunyian di Ujung Zaman”

Di sebuah sudut kampung yang masih menyimpan jejak tradisi, seorang perempuan lanjut usia duduk memandangi halaman rumahnya yang sepi. Tangannya mulai berkeriput, langkahnya tak lagi tegap. Namun puluhan tahun lalu, tangan yang sama pernah menjadi penolong pertama bagi banyak bayi yang lahir ke dunia. Ia adalah paraji, sosok yang dahulu begitu dihormati, namun kini perlahan terlupakan. Jauh sebelum jalan-jalan desa diaspal, sebelum ambulans mudah dipanggil melalui telepon genggam, dan sebelum fasilitas kesehatan menjangkau pelosok negeri, paraji hadir di tengah masyarakat.

Mereka dipanggil kapan saja, siang maupun malam, menembus hujan dan gelapnya jalan kampung demi membantu seorang ibu melahirkan. Tidak sedikit yang melakukannya tanpa berharap imbalan besar. Yang mereka bawa hanyalah pengalaman, doa, dan kepercayaan masyarakat. Bagi sebagian orang, paraji mungkin hanya dianggap bagian dari masa lalu. Namun bagi banyak keluarga di pedesaan, mereka adalah saksi lahirnya generasi demi generasi. Mereka menyaksikan tangis pertama seorang bayi, mendengar doa-doa orang tua, sekaligus menyimpan cerita tentang perjuangan hidup masyarakat kecil yang jarang tercatat dalam buku sejarah. Perkembangan ilmu kesehatan tentu menjadi kemajuan yang patut disyukuri.

Kehadiran bidan, dokter, dan rumah sakit telah membantu menurunkan risiko kematian ibu dan bayi. Namun di tengah kemajuan tersebut, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apakah kita juga sedang kehilangan sebagian warisan kemanusiaan yang selama ini hidup di tengah masyarakat? Banyak paraji kini memilih berhenti. Sebagian karena usia, sebagian lagi karena merasa perannya tidak lagi dibutuhkan. Regenerasi hampir tidak ada. Pengetahuan yang selama puluhan tahun diwariskan secara lisan perlahan ikut menghilang bersama para pelakunya. Ketika seorang paraji wafat, sering kali ikut terkubur pula kisah, pengalaman, dan kearifan lokal yang tidak pernah sempat didokumentasikan.

Di sejumlah kampung adat di Jawa Barat, paraji masih menjadi bagian dari berbagai ritual kelahiran. Mereka tidak lagi mengambil alih peran tenaga medis, tetapi tetap hadir sebagai penjaga nilai budaya dan pendamping keluarga. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa kelahiran bukan hanya peristiwa biologis, melainkan juga peristiwa sosial dan budaya yang mempererat hubungan manusia dengan lingkungan, keluarga, dan tradisi. Ironisnya, masyarakat sering kali baru menyadari pentingnya sebuah warisan budaya ketika warisan itu sudah hilang.

Kita berlomba menjaga bangunan tua, benda pusaka, dan situs sejarah. Namun manusia-manusia yang menyimpan sejarah hidup justru kerap luput dari perhatian. Padahal paraji adalah arsip berjalan yang menyimpan memori tentang bagaimana masyarakat dahulu merawat kehidupan. Mungkin suatu hari nanti, ketika tidak ada lagi paraji yang tersisa, generasi mendatang hanya akan mengenal mereka dari foto-foto usang dan catatan sejarah.

Saat itu, kita mungkin akan bertanya mengapa sosok yang pernah menyambut kelahiran begitu banyak anak bangsa justru pergi dalam kesunyian. Sebab sejatinya, paraji bukan hanya tentang masa lalu. Mereka adalah pengingat bahwa setiap kehidupan yang lahir selalu membutuhkan kasih sayang, kepedulian, dan tangan-tangan tulus yang bekerja tanpa banyak bicara.

 

Sonny Irwansyah, “TRIBUTE UNTUK 300.000 BIDAN INDONESIA”

Tentang Koran Jokowi 4291 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan