#SahabatKPK!, “KAMI AKAN MUSNAHKAN PADI KAB.OKI!?”

#SahabatKPK!,

“KAMI AKAN MUSNAHKAN PADI KAB.OKI!?”

Kemarin (4/8) menjelang magrib, kantor redaksi ‘halu’ koranjokowi.com kedatangan tamu jauh dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Namanya MAT WERENG, komandan skuadron hama Kab. OKI bersama beberapa krunya. Mereka langsung mengajak saya keluar, membelah jalanan menuju arah Bandar Udara Husein Sastranegara di Jalan Pajajaran Nomor 156, Kota Bandung. Di dalam mobil van serba hitam, mereka tidak bicara sama sekali. Saya pura-pura sibuk bermain ponsel, padahal sebenarnya sedang mengirim share live location setiap 10 menit kepada teman-teman di grup WhatsApp agar mereka bisa terus memantau pergerakan kami.
Sampailah kami di sebuah gudang area bandara. Saya tidak merasa penting bagaimana dari Kab.OKI sampai disini. Kami pun sarapan bersama setelah itu MAT WERENG bercerita panjang lebar mengenai beberapa hal:
1. Gara Gara Plasma dipenjara 7 tahun?
MAT WERENG membuka obrolan dengan menyinggung gebrakan hukum dari Kejaksaan Negeri (Kejari) OKI pada 8 Juni lalu. Yakni, pelaksanaan sita eksekusi terhadap 1 unit rumah mewah senilai miliaran rupiah milik terpidana Asmadi Bin Trilogi di Komplek Lavender, Kelurahan Jakabaring Selatan, Banyuasin, Sumsel.
“Rumah megah itu disita karena dibeli menggunakan uang haram hasil mega korupsi dana PAD (Pendapatan Asli Desa) dari kerja sama sawit plasma di Desa Bukit Batu, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI. Kasus korupsi ini merugikan keuangan negara sebesar Rp9,6 miliar,” ujar MAT WERENG berapi-api.
Ia menambahkan bahwa mantan Kepala Desa (Kades) Bukit Batu tersebut kini telah divonis 7 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor. Modusnya, dana hasil plasma kelapa sawit yang seharusnya masuk ke kas desa untuk kemakmuran warga, justru ditilep dan dialirkan ke rekening pribadinya. Aksi lancung ini dibantu oleh Sekdes (divonis 6 tahun 6 bulan penjara) serta Kaur Perencanaan & Keuangan (divonis 4 tahun penjara).
“Adapun mitra kerjanya adalah PT SAML. Namun, dalam persidangan terbukti bahwa pihak perusahaan sudah bekerja dengan benar. Oknum-oknum manusia inilah yang membegal dana tersebut untuk memperkaya pribadi, bukan untuk PAD!” tambah MAT WERENG lagi.
2. Ancaman Alih Fungsi Lahan vs Eksistensi Hama
Isu lain yang membuat skuadron wereng ini terbang jauh ke Bandung adalah keresahan para petani di Kecamatan Air Sugihan. Muncul dugaan bahwa lahan TNK 24 Air Sugihan akan beralih fungsi menjadi perkebunan monokultur pohon kayu akasia. “Tapi itu urusan manusia, kami tidak mau ikut campur, Om!” katanya sambil memanggil saya ‘Om’. Bagi mereka, jika sawah lenyap, maka tidak ada lagi gabah yang bisa disumbang untuk mendongkrak ketahanan pangan provinsi maupun kabupaten. Padahal, gabah dari Air Sugihan punya prestasi mentereng di tingkat nasional.
“Tahun 2025 lalu, total produksi Gabah Kering Giling (GKG) di Sumsel melonjak hingga 24,6% menjadi lebih dari 3,63 juta ton. Kecamatan Air Sugihan sendiri menyumbang sekitar 180.000 hingga 190.000 ton GKG! Sekarang Om bisa bayangkan, jika sawah-sawah di sana yang luasnya di atas 23.000 hektare disulap jadi tanaman lain, berapa ratus ribu hama yang mendadak jadi pengangguran? Anak istri kami mau dikasih makan apa? Ingat, kami para wereng tidak menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG), Om!” cetus MAT WERENG dengan wajah gusar.
Ia kemudian mengeluarkan sebatang rokok. Karena ruangan hanggar tersebut ber-AC, saya langsung melarangnya. Mereka pun pamit keluar hanggar selama kurang lebih 15 menit untuk merokok.
3. Sumpah Skuadron Wereng: Siap Menggila!
Setelah kembali ke dalam ruangan, MAT WERENG langsung menyampaikan ultimatumnya. “Kalau alih fungsi lahan ini akhirnya tetap dipaksakan, kami tidak akan tinggal diam. Kami siap berkirim surat atau melakukan aksi demo besar-besaran atas pemaksaan kehendak beralih fungsi sawah menjadi monokultur kayu akasia ini!”
Ribuan pasukan wereng diklaim siap mengadu ke Kapolri melalui Polda Sumsel, Menteri ATR/Kepala BPN RI (Satgas Anti-Mafia Tanah Pusat), Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI di Jakarta, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Selatan di Palembang, hingga Gubernur Sumsel dan Bupati OKI.
“Sebagian lagi dari kami akan menyerang dapur-dapur rumah warga. Ayo, kalau mau buat gaduh, kami sudah siap, Om! Jadi, marilah bicara baik-baik dahulu dengan warga atau petani lokal. Kasus Kades Asmadi adalah bukti valid bahwa manusia itu punya sifat serakah; hak rakyat bisa dinomor-duakan,” tuturnya yang membuat saya hanya bisa terdiam mendengar argumennya.
“Silakan manusia menganggap kami sebagai hama, karena kami memang diciptakan Tuhan seperti ini dan tidak bisa menolaknya. Namun, apakah manusia otomatis lebih mulia dari kami? Lihat saja kelakuan Asmadi itu! Kami ingatkan ya Om, jika populasi wereng musnah karena sawahnya diganti hutan akasia, lalu bagaimana nasib Tomcat, Laba-laba Sawah, dan Capung yang biasa memangsa kami? Mereka juga akan mati kelaparan! Ini adalah pengingkaran terhadap ekosistem yang diciptakan Tuhan.”
Di akhir obrolan, MAT WERENG mengingatkan bahwa konflik gajah vs warga sejak thn.1980-an saja belum ada titik temu, minimnya PJU, Listrik, minim akses internet dsb ditambah lagi isu Plasma yang bertolak belakang dengan warga, “Manusia lupa jika kami, para wereng, adalah alarm alam. Saat petani overdosis memakai zat kimia, di situlah kami muncul. Jangan lupa, karena ada kami, manusia akhirnya memutar otak untuk menciptakan Padi Varietas Unggul Tahan Wereng (VUTW) dan pestisida nabati. Tanpa adanya wereng, ilmu pertanian manusia akan mandek, Om!”
“Kami bersumpah akan mengawal hak pangan petani Air Sugihan. Lebih baik kami berebut padi secara jantan dengan petani lokal di sawah, daripada lahan ini dikuasai oleh mafia plasma. Biarkan Kejari OKI terus menyita aset para koruptor plasma, dan biarkan kami yang menjaga piring nasi para petani!” tutup MAT WERENG. Meskipun suaranya masih menyiratkan amarah, nadanya perlahan mulai melemah—entah karena efek rokok atau kelelahan, saya tidak paham. Tak lama kemudian, ia kembali pamit. Kali ini tujuannya ke toilet.
BERSAMBUNG
(Arief/Foto: Ist)
#koranjokowi.com
#sahabatKPK!
@squad-sahabatkpk
#Bareskrim
#MenteriKehutanan
#KPK_RI
#Ombudsman
#GubernurSumsel
#BupatiOKI
#FabelismJournalism
#Fabjour
#2029PresidenSipil
#2029GantiPresiden
#2029TolakJokowiCapreskanPrabowo
#2029DukungPresidenSipil
#SquadWerengOKI
#PlasmaUntukSiapa

“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”

“DISAAT MANUSIA BINGUNG DAN TAKUT BICARA TENTANG ANTIKORUPSI MAKA HEWAN AKAN AMBIL ALIH!”

CATATAN REDAKSI :

Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Rabu,Tgl.5  Agustus   2026  sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan PT. QCI –  yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf  ya atas segala ketidak-nyamanannya.

Ikan Hiu muter – muter, See U Later!

https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

======================

#SahabatKPK!, “MENGHINDARI KORUPSI HUJAN BUATAN DI KEC.AIR SUGIHAN?”

Tentang Koran Jokowi 4404 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan