Feri Manurung,
“PUPUK PATEN, PETANI SEJAHTERA & SWASEMBADA PANGAN 2026–2029”
(SWASEMBADA PANGAN & PETANI SEJAHTERA HANYALAH MIMPI?)
.
Target Swasembada Pangan & Indonesia Emas 2045 dikaitkan dengan kesejahteraan petani ‘Tidak semudah membaikan telapak tangan’, kami Koranjokowi.com yang eksis sejak thn.2020 merasa penting untuk ikut mengawal dan menyampaikan ‘early-warning (pencegahan dini) di tengah realitas lapangan yang “masih membingungkan”:
.
1. Memutus Lingkaran Setan “Petani Penggarap” (Gurem)
Saat ini jumlah petani nasional pengguna lahan mencapai > 27,8 juta orang, sedangkan jumlah petani gurem berkisar di angka 62% atau > 17,2 juta orang. Artinya, mayoritas mutlak petani kita (6 dari 10 petani) adalah petani gurem. Bahkan BPS mengategorikan petani gurem sebagai mereka yang menguasai atau mengusahakan lahan pertanian kurang dari 0,5 hektar.

Jadi bagaimana mungkin swasembada pangan tercapai jika 62% , jika ‘mesin utamanya’ hanya terus bertarung dengan realita yang ibarat badai tiada henti . Maka wajar jika banyak petani yang beralih profesi menjadi buruh kota, dsb. Dari itu, efisiensi biaya tanam lewat intervensi pupuk alternatif menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.Sehingga kalau pun ‘gurem mereka bekerja dapat dengan ‘riang-hati.
.
2. Siasat Lahan Sempit vs Target Swasembada
Alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian terus terjadi secara masif, itulah hukum alam, hukum pembangunan yang semakin tidak terkendali. Di lahan yang semakin terbatas, produktivitas per meter persegi wajib ditingkatkan dengan adopsi teknologi benih unggul dan pertanian presisi. Selain itu, Optimalisasi Lahan (Oplah) pada lahan rawa dan pompanisasi pada lahan kering menjadi kunci pemerintah saat ini untuk memperluas indeks pertanaman (dari IP 1 menjadi IP 2 atau 3) tanpa harus menunggu cetak sawah baru yang memakan waktu lama.
.
3. Mengatasi Gangguan Iklim (Mitigasi Krisis)
Cuaca ekstrem akibat El Nino dan La Nina merusak kalender tanam konvensional dan memicu ledakan Hama Penyakit Tanaman (HPT). Di sinilah pentingnya modernisasi berbasis data (Smart Farming), di mana petani dibantu menggunakan sensor cuaca dan kalender tanam digital. Selain itu, masifnya pembangunan waduk dan perbaikan saluran irigasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum harus dipastikan menyentuh tingkat tersier (langsung ke sawah penggarap) agar pasokan air tetap stabil saat kemarau panjang.

4. Menambal Lubang “Wacana Pupuk Subsidi” dengan Peran Swasta
Masalah rantai pasok pupuk bersubsidi—mulai dari kuota yang sering kurang, salah sasaran, hingga kerumitan birokrasi—memang menjadi keluhan menahun di tingkat akar rumput. Celah ini bahkan dimanfaatkan oleh oknum penipu yang menjanjikan pasokan pupuk subsidi berlimpah, sehingga banyak petani kecil yang menjadi korban.
Di sinilah poin krusial yang akan kita pecahkan. Ketika pupuk subsidi mandek, kehadiran sektor swasta dengan pupuk non-subsidi (cair maupun padat) yang terjangkau, legal, dan teruji secara klinis adalah game changer /solusinya.

-
- Efisiensi Biaya: Pupuk cair organik/hayati komersial yang berkualitas mampu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia (NPK/Urea) hingga 50-70%. Ini memotong biaya produksi secara drastis bagi petani penggarap.
- Regenerasi Tanah: Pupuk swasta berbasis organik membantu memulihkan mikroba dan kesuburan tanah yang sudah jenuh akibat bahan kimia bertahun-tahun. Tanah yang sehat membuat penyerapan nutrisi tanaman optimal, sehingga meski lahan sempit, hasil panen tetap tinggi.
- Kepastian Hukum (Legalitas): Sektor swasta yang masuk dengan produk berizin edar resmi memberikan rasa aman bagi petani dari bahaya pupuk palsu yang marak di pasaran.
.
KESIMPULAN
Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, target swasembada pangan tidak bisa lagi bertumpu pada cara-cara lama yang membebani APBN lewat subsidi yang tidak efisien. Jembatan emasnya adalah Kolaborasi Pentahelix (Pemerintah, Swasta, Akademisi, Komunitas/Relawan, dan Media). Pemerintah menyediakan infrastruktur makro (waduk, jalan, dan regulasi harga), sementara sektor swasta menyuplai inovasi mikro (pupuk alternatif berkualitas dan teknologi murah) langsung ke tangan petani penggarap tanpa birokrasi yang berbelit.
.Dengan memotong biaya operasional melalui pupuk alternatif yang efektif, pendapatan bersih petani akan naik. Ketika bertani menjadi profesi yang menghasilkan uang secara pasti, di situlah Petani Sejahtera dan Swasembada Pangan otomatis akan terwujud berdampingan.
Demikian, semoga bermanfaat.
BERSAMBUNG
(Feri – Red-01/Foto.ist)


Feri Manurung, “KAMI AKAN RUBUHKAN KANTOR GUBSU & WALIKOTA MEDAN!”
Be the first to comment