#SahabatKPK!, “ROMO COENRAD & AKULTURASI BUDAYA JAWA DI JOMBANG 1827”

#SahabatKPK!,
“ROMO COENRAD & AKULTURASI BUDAYA JAWA DI JOMBANG 1827”
Rembulan di atas sana demikian bersinar malam ini. Wajah Raden Gajah Purba yang dikawal puluhan ajudan dan prajuritnya semakin jelas. Mereka mampir setelah perjalanan jauh dari Yogyakarta, namun tidak terlihat mereka lelah. “Iya, kami dari Kabupaten Ngawi. Pengelola Museum Trinil di sana minta advis bagaimana cara agar generasi muda menjadikan museum sebagai sarana hangout Gen Z. Mereka minta konsep bagaimana memadukan edukasi dan entertainment, sehingga tidak melulu bicara tentang fosil manusia purba terkenal (Pithecanthropus erectus), fosil leluhur kami gajah purba (Stegodon trigonocephalus), banteng purba, hingga gading gajah purba raksasa. Nah, tolong telepon KordNas Koranjokowi.com, Mas. Saya mau minta ide,”
Saya mengangguk dan menelepon KordNas yang tinggal di Bandung hingga 10 menit lamanya.
“Salam untuk Raden dan semua, KordNas akan kirim email sesegera mungkin,” kata saya.
Raden terlihat sumringah, senang namun tatapannya menerawang jauh ke arah selatan Jombang, menembus waktu menuju tahun 1827. Ke sebuah wilayah yang kini kita kenal sebagai Ngoro.
“Kau tahu, Yusup? Jauh sebelum daerah ini bising oleh urusan proyek seremonial, di tanah ini pernah hidup seorang manusia luar biasa. Kami para hewan hutan Ngoro memanggilnya Romo Coenrad Laurens Coolen,” bisik Raden Gajah.
Raden mengajak saya dan teman-temannya duduk berkeliling. Ajudannya mengeluarkan tumbler/termos besar yang berisi kopi panas dan bungkusan cemilan khas Jombang; Kerupuk Klenteng, Jenang Kelapa Muda, Bolu Plemben, Onde-Onde Jombang, Kerupuk Beras (Gendar), hingga Pia Kacang Hijau. Luar biasa persiapan logistiknya, benar-benar sudah matang. Semua tersenyum. Tidak ada lagi ketegangan. Raden memberikan segelas kopi kepada saya.
“Sedulur semua, para leluhur kita ngajari bilih komunikasi menika margi kangge ngrampungaken masalah—benten kaliyan tiyang kathah ing jaman sapunika, utaminipun tiyang ingkang dados sombong amargi jabatan utawi pangkat ingkang inggil. Sesarengan ngunjuk kopi saged nambah raos paseduluran saha damel manah langkung ayem. Sumangga kita ngunjuk kopi rumiyin,”
“Nenek moyang kita mengajarkan komunikasi adalah pintu masuk penyelesaian masalah, beda dengan manusia saat ini apalagi kalau sudah merasa jabatan dan pangkatnya lebih tinggi. Mereka akan angkuh. Dengan minum kopi bersama, kita akan merasa lebih dekat, hati pun lebih damai. Ayo kita ngopi!”
Benar saja, suasana seketika menjadi cair. Kemudian dia mengambil beberapa potong cemilan untuk dibagikan kepada para prajurit purbanya.
“Ini rezeki kita bersama, minum dan makan yang enak. Tidak ada pangkat, tidak ada jabatan di sini. Lapar makan, haus minum. Gitu aja kok repot!” guyon Raden menirukan logat alm. Gus Dur.
ROMO YANG HALUS DAN LURUS
Raden kemudian bercerita tentang sosok Coenrad Laurens Coolen. “Kami memanggil beliau dengan nama Romo Coenrad atau Mbah Kolen. Beliau adalah seorang pria berdarah campuran (Indo-Eropa). Ayahnya seorang Rusia yang bekerja sebagai tentara VOC, dan ibunya adalah seorang wanita bangsawan dari Keraton Mataram, Yogyakarta. Perpaduan darah Eropa dan spiritualitas Jawa inilah yang membentuk karakter Romo menjadi sosok yang sangat menghargai kearifan lokal dan tidak menyukai kekerasan dalam segala hal, halus dan lurus”
“Romo memang mantan tentara dan pegawai artileri di Surabaya. Namun, panggilan jiwanya bukan di dunia militer. Pada tahun 1827, ia mendapatkan izin dari pemerintah kolonial untuk membuka pemukiman di Hutan Ngoro, Jombang selatan, yang saat itu masih berupa hutan belantara yang angker dan tak terjamah. Awalnya kami pun curiga ada Bule kesini. Namun, kembali ke hal tadi, komunikasi yang hangat membuat kami paham kemudian siapa beliau,”
Raden Gajah tiba-tiba terbatuk, “Weh, piye iki kopiku pakai gula toh, Le?” ujarnya sambil meminta ganti kepada ajudannya, seekor Orangutan purba (Pongo) yang memiliki banyak tato di tubuhnya. Dengan gesit, ajudan bernama Tompi itu pun mengganti gelasnya dengan kopi pahit. Raden mengucapkan terima kasih kepada anak buahnya sebelum melanjutkan cerita. Saya semakin kagum kepada Raden Gajah yang demikian humble ini.
Masih kata Raden Gajah,  ajudannya adalah keturunan  ke-101 dinasti Orangutan purba (Pongo) dimana sebelum Romo datang kehidupan mereka itu barbar.  “Hanya dia yang bertato, karena saat itu pun banyak hewan predator seperti Panthera tigris trinilensis (Harimau Purba Trinil), Crocodylus ossifragus (Buaya Purba), Panthera pardus (Macan Tutul Purba), Mececyon trinilensis (Anjing Hutan Purba Trinil). Dan yang lebih berbahaya dari itu adalah ulah manusia purba Homo erectus (seperti Pithecanthropus erectus yang ditemukan di Trinil) karena mereka memburu kami dengan jebakan, batu, dan kayu runcing. Merekalah yang mempercepat kepunahan para leluhur Gajah Purba /Stegodon dan hilangnya Pongo dari tanah Jawa. Tato itu adalah serupa identitas dinasti keberapa di komunitas Pongo,”
Saya menoleh ke arah Tompi, dan dengan jenaka dia memberikan dua jempol kepada saya.
Kembali ke sosok Romo. Beliau bersama pengikutnya yang saat itu masih terhitung jari membabat hutan Ngoro sebagai dunia baru. Pastinya bukanlah perkara mudah. Suka dan duka dilalui Romo bersama para pengikutnya yang merupakan orang-orang Jawa asli. Sebagai pemimpin pemukiman (bupati liar, begitu orang Belanda kadang menjulukinya), Romo tidak hanya bertindak sebagai mandor, tetapi juga pelindung sekaligus pekerja. Beliau berbaur dengan semua orang di sana, tanpa membeda-bedakan status.
.
ROMO YANG NJAWANI
Di sinilah keunikan Romo dimulai. Ia menolak membawa gaya hidup barat atau paksaan kolonial ke Ngoro. Ia ikut mencangkul sawah, menanam padi, dan merangkul masyarakat setempat layaknya saudara kandung. Di tengah peluh dan kerja keras membabat hutan itulah, Romo mulai membagikan kesaksian iman Kristen (Nasrani) yang diyakininya.
Namun, Romo tidak mendirikan gereja bergaya Eropa. Ia justru menolak intervensi para misionaris Barat (Zendeling) yang ingin “membaratkan” orang Jawa. Baginya, menjadi umat Yesus tidak berarti harus kehilangan kejawaannya. Romo menyebarkan ajaran kasih lewat Akulturasi Budaya Jawa.
Romo yang fasih budaya, bahasa Jawa, dan paham seni menuangkan kisah-kisah Alkitab lewat media Wayang Kulit. Karakter-karakter alkitabiah digubahnya ke dalam tokoh pewayangan, dan ia sendiri bertindak sebagai dalangnya. Tidak hanya itu, doa-doa dan ajaran iman ditembangkan melalui Gending dan Tembang Jawa yang magis. Para pengikutnya di Ngoro beribadah tanpa kursi, melainkan duduk bersila di atas tikar, melantunkan puji-pujian dengan iringan gamelan.
.
“Kami mengawal semuanya. Alam lebih menerima ajaran yang tulus, ikhlas, jujur, dan njawani. Pendekatan budaya yang membumi ini membuat komunitas Kristen Jawa tumbuh subur secara mandiri di Jombang, yang kelak melahirkan cikal bakal jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) tertua di tanah air,” Mata Raden terlihat basah, saya segera memberikannya tissue. “Terima kasih,” katanya.
ROMO MENGHADAP TUHAN
Setelah puluhan tahun mengabdi, merawat bumi, dan menyemai benih toleransi di tanah Jombang, Romo Coenrad Laurens Coolen wafat pada tahun 1873. Jasadnya dimakamkan di Ngoro, tempat di mana ia pertama kali menancapkan tonggak sejarahnya. Meskipun beliau telah tiada, warisan sikap hidupnya—di mana iman dan kebudayaan lokal bisa berjalan beriringan tanpa harus saling menghancurkan—tetap hidup berurat akar di sanubari saudara-saudara Nasrani di Jombang hingga detik ini.
Raden Gajah Purba menepuk bahu saya dan berbisik. “Lihatlah, Yusup. Romo Coenrad menghargai kebudayaan dan alam Jombang sejak tahun 1827. Lalu mengapa manusia zaman sekarang justru merusaknya dengan banjir dan membiarkan rakyat kecil dicekik tengkulak? Ingatkan Pemkab Jombang, tiru semangat merawat tanah ini seperti para pendahulu. Kamu relawan, karena kamu suka kedamaian dan ikhlas, Tuhan pasti mencatat semua yang kamu lakukan. Saya yakin Romo tersenyum, bangga, dan terharu. Serahkan hidup dan jiwamu untuk Tuhan. Jangan lelah berbuat baik!”
BERSAMBUNG
(Red-01/Foto.ist)
#sahabatKPK! | @squad-sahabatkpk | #fabelismJournalism | #Fabjour | #RepublikFabeliano
(Seluruh karakter hewan dalam tulisan ini adalah personifikasi satire untuk ikut serta mengkampanyekan antikorupsi)

“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”

“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”

CATATAN REDAKSI :

Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Senin,  tgl.7 September 2026  sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) –  yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf  ya atas segala ketidak-nyamanannya.

Ikan Hiu muter – muter, See U Later!

https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

==

==============

Tentang Koran Jokowi 4458 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan