Budi D.Ginting, #RepublikFabeliano. “SAMPALI KINI & MAULIATE OPUNG GUNUNG TOBA PURBA”

Budi D.Ginting, #RepublikFabeliano.

“SAMPALI KINI & MAULIATE OPUNG GUNUNG TOBA PURBA”

Setiap mahluk hidup di atas muka bumi ini, baik manusia maupun Hewan, pastilah mendambakan sebuah ruang hidup yang tenang, damai, dan nyaman. Namun, sejarah peradaban mencatat bahwa kenyamanan bukanlah sesuatu yang abadi. Ketika Sang Pencipta alam semesta menghendaki sebuah siklus baru atas bumi ini, tidak ada satu pun kekuatan yang mampu membendungnya. Cukup dengan satu ketetapan hukum universal “Qun Fayakun”—Maka terjadilah.
.
Mari kita tengok lembaran sejarah bumi puluhan ribu tahun yang lalu. Di tanah Sumatera Utara, berdiri tegak sebuah raksasa purba bernama Gunung Toba Purba . Sekitar 74.000 tahun yang lalu, raksasa ini mengalami erupsi super (supervolcano) yang menggelegar dahsyat memuntahkan ribuan kilometer kubik material vulkanik dan aliran awan panas /piroklastik dengan kecepatan 100-400 Km/jam saat itu  menyebar kemana-mana termasuk kedaerah  (saat ini) bernama Desa Sampali di Kabupaten Deli Serdang. yang jaraknya lebih dari 170 kilometer dari pusat bencana. 
Semua letusan dahsyat masa lalu itu adalah murni kejadian alam. Sebuah siklus penciptaan yang dibungkus bencana, namun pada akhirnya menyisakan berkah bagi masa depan. Amukan’Opung’  puluhan ribu  tahun lalu tersebut adalah alasan mengapa hari ini tanah di Desa Sampali diwarisi lapisan tanah yang sangat subur dan begitu layak ditanami. Sungguh sebuah anugerah tak ternilai. Mauliate, Opung Gunung Toba Purba! Terima kasih atas warisan kesuburan ini.
.
Namun, mari kita bandingkan kejadian alam purba tersebut dengan realitas pahit hari ini di tanah air kita. Jika Toba merusak untuk melahirkan kesuburan, manusia modern justru merusak demi ketamakan korporasi. Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terus terjadi hingga menghanguskan lebih dari 202.000 hektar wilayah hijau Indonesia hingga saat ini kita yakini dominan kesengajaan manusia serakah demi ekspansi bisnis kelapa sawit global. Hutan adat dibakar, satwa-satwa terusir, miliran serangga tewas tanpa manusia perduli!
Sayang, yang telah diwariskan untuk Desa Sampali ini tidak ‘di-urus dengan ikhlas, terencana dan Ironinya, keserakahan ekonomi skala besar ini tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat di akar rumput. Tengok saja tanah subur Desa Sampali di Kecamatan Percut Sei Tuan hari ini. Daerah eks perkebunan tembakau legendaris kolonial ini kini dihuni oleh lebih dari 8.511 Kepala Keluarga (KK) dengan total populasi mencapai 27.347 jiwa. Namun di balik statusnya sebagai salah satu desa terpadat, kemiskinannya masih > 879 jiwa warga, belum lagi angka pengangguran usia produktif yang masih tinggi di berbagai dusun akibat kegagalan sistem aksesibilitas ekonomi lokal.
Tanah mereka subur, lokasinya strategis, namun warganya masih harus mengantre bansos dan kesulitan mencari sesuap nasi di tanah warisan leluhur mereka sendiri.
.
Ini jelas bukan salah Tuhan!. Ini juga bukan salah alam ,ini adalah potret kegagalan distribusi kesejahteraan. Sedangkan realisasi pajak  Kab.Deli Serdang banyak dibantu masyarakat hingga mampu tembus >Rp.1,01 triliun di tahun 2025 lalu. KordNas Koranjokowi.com dan #SahabatKPK! saat menginap di Desa Sampali pernah memberikan catatan dan raport merah terkait tentang :
.
1.Pesatnya pembangunan komersial berskala besar di wilayah Sampali (seperti proyek Citraland dan kawasan industri) kerap menyisakan masalah penataan ruang bagi warga lokal. Pemkab memang memiliki rencana relokasi untuk para pelaku UMKM pinggir jalan agar mendapatkan tempat yang layak. Karena UMKM Center di Lubuk Pakam  disana didominasi PKL/UMKM lokal disana. Jika dari Desa Sampali pun  memerlukan waktu >30-40 Km , maka Desa Sampali harus punya sendiri.
2.Karang Taruna di tingkat desa belum mendapat program kemitraan makro yang terarah dari Pemkab. Pemkab belum memanfaatkan bonus demografi pemuda Sampali untuk dilatih menjadi motor penggerak ekonomi kreatif (seperti digital marketing UMKM, pengolahan sampah modern, atau industri kreatif digital) guna memanfaatkan letak desa yang sangat strategis di perbatasan kota.
3.Sebagian besar warga aslinya merupakan keturunan suku Jawa (Jawa Deli / Pujakesuma) yang didatangkan sejak tahun 1920-an. Yang diikuti oleh potensi budaya yang belum diangkat secara optimal oleh Pemkab Deli Serdang:  Punggahan dan Nyadran: Ritual doa bersama dan pembersihan makam leluhur menjelang bulan suci Ramadan yang sarat akan nilai gotong royong. Tradisi Suroan (1 Suro,Kuda Kepang (Jaranan), dsb.
4.Keunikan Desa Sampali sebagai desa multi-etnis dengan basis budaya Jawa kental yang berdampingan dengan peradaban modern (seperti Kompleks Cemara Asri dan Citraland) belum dikemas dengan baik.
5.Keterbatasan lahan tanah di Sampali membuat budi daya konvensional sulit berkembang. Namun, warga lokal harus mampu membuktikan  budi daya perikanan modern dengan menggunakan ruang sempit. Warga harus terus disosialisasikan dan integrasi sistem pangan Ipababe (Ikan, Padi, Bawang, dan Cabai) sebagai penunjang Ketahanan Pangan, dsb.
6.Pencegahan korupsi di tingkat pemerintahan desa harus dilakukan , selain melalui spanduk juga dalam website resmi desa yang memuat rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes), realisasi anggaran, serta capaian program secara berkala.
Atas semua hal diatas, KordNas memberikan catatan agar  pemerintah bergerak lebih aktif, intervensi kebijakan harus nyata, dan hak atas tanah masyarakat harus dilindungi sebelum alam kehilangan kesabarannya. Jangan sampai pemerintah terbuai dalam kelalaian, hingga Tuhan dan alam memutuskan untuk ‘mengambil kembali hak-hak’ kemakmuran ini dan mengembalikan tatanan bumi seperti era kegelapan Gunung Toba purba kembali. Mau gitu?, Eheheh.
Sekali lagi, ingat, Qun Fayakun!
‘Ikan hiu muter muter, see you later!
BERSAMBUNG
(Red-01/Foto.ist)
#sahabatKPK! | @squad-sahabatkpk | #fabelismJournalism | #Fabjour | #RepublikFabeliano
(Seluruh karakter hewan dalam tulisan ini adalah personifikasi satire untuk ikut serta mengkampanyekan antikorupsi)

“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”

“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”

CATATAN REDAKSI :

Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Kamis, Tgl. 8 Oktober 2026  sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) –  yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf  ya atas segala ketidak-nyamanannya.

Ikan Hiu muter – muter, See U Later!

https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

=

 

===

Tentang Koran Jokowi 4525 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan