#Gibranism, “ADA APA DENGAN MAHFUD !?”

#Gibranism,

“ADA APA DENGAN MAHFUD !?”

Masih ingat logo film Ada Apa Dengan Cinta? Produksi tahun 2002 yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra.Film garapan Mira Lesmana & Rudi Soedjarwo itu laku keras, tembus 2,7 juta penonton di bioskop saat pertama rilis. Mengalahkan semua film Indonesia saat itu.

Mengapa bisa box office? Karena film ini mampu menembus dan menawarkan jenis film berbeda. Saat itu layar kita sedang condong dibanjiri film mistis — pocong, kuntilanak, horor. Tiba-tiba datang film anak SMA, puisi, persahabatan, cinta monyet yang jujur. Pecah!.Sampai saat ini jika logo itu keluar — orang langsung teringat film AADC yang kemudian berkelanjutan menjadi serial TV, dsb.  Peran berganti namun orang ‘hanya’ akan ingat Rangga dan Cinta. Yang telah melekat dalam dimensi anak-anak muda yang kini sebagian telah di atas usia 40 tahun. Logo itu abadi. Nicholas itu Rangga, Dian itu Cinta. Titik!

Itu dunia hiburan, dalam pentas politik nasional siapa yang tidak mengenal sosok Prof. Dr.Mohammad Mahfud Mahmodin,SH (Mahfud MD) , pakar hukum tata negara yang lurus, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi thn.2008-2013, dan mantan Menkopolhukam thn.2019-2024. Era Pilpres 2024  sempat relawan sayangkan karena Mahfud  ikut Pilpres 2024. Apapun, menang atau kalah pasti  akan menjadi ‘keterbelahan’ simpati , pro kontra politik.. Agh sudahlah.
Hampir sepekan ini menjadi pembicaraan antara pro-kontra karena tiba-tiba melontarkan statemen yang cukup memancing diskusi hangat soal Gibran. Katanya: “…Setelah dimakzulkan, lalu bisa dipenjara. KPU harus diseret ke pengadilan…”. Padahal, jika merujuk pada beberapa literatur peradilan, persoalan dokumen atau administrasi biasanya diselesaikan di ranah hukum administrasi negara. Kok narasinya bisa langsung melompat jauh ke wacana pemenjaraan?
Sontak saja ruang digital menjadi ramai, Gen Z dan Milenial tanpa komando  langsung menyoroti pernyataan ini dan mengaitkannya kembali dengan momen debat Pilpres 2024 lalu. Momen debat cawapres saat Gibran yang awalnya diremehkan dengan sebutan “Samsul”, justru tampil lepas di luar dugaan banyak orang.
Apakah respons kritis yang tajam ini lahir karena adanya sisa-sisa rivalitas politik masa lalu? Hanya waktu dan dinamika politik yang bisa menjawabnya. Namun yang pasti, publik tentu berharap kepakaran hukum dari seorang tokoh seniornya ini  bisa hadir  mendinginkan suasana iklim politik nasional, bukan malah memicu polemik baru. Jika logo AADC mengingatkan kita pada kisah romansa anak muda yang penuh warna, manuver politik hari ini justru memperlihatkan bagaimana sebuah panggung debat masa lalu masih membekas dalam memori publik.
Mengapa narasi “Makzulkan Dulu, Penjarakan Kemudian” ini dinilai terlalu ekstrem oleh sebagian kalangan? Karena kali ini analisis dari sang pakar senior terasa melompat terlalu jauh dari koridor biasanya. Ketika seorang mantan Ketua MK melemparkan wacana pemakzulan hingga penjarakan ke ruang publik, wajar jika masyarakat awam menangkapnya sebagai sebuah vonis mutlak. Karena itu pula, tidak perlu heran jika netizen ramai-ramai membalasnya dengan tanda tanya besar: “ADA APA DENGAN MAHFUD”.
Ah sudahlah.
Ikan hiu muter-muter,
See you later.
BERSAMBUNG
(Red-01/Foto.ist)

#sahabatKPK! | @squad-sahabatkpk | #fabelismJournalism | #Fabjour | #RepublikFabeliano
(Seluruh karakter hewan dalam tulisan ini adalah personifikasi satire untuk ikut serta mengkampanyekan antikorupsi)

“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”

“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”

CATATAN REDAKSI :

Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Kamis, Tgl.15  Oktober 2026  sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) –  yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf  ya atas segala ketidak-nyamanannya.

Ikan Hiu muter – muter, See U Later!

https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

=

 

=======

 

Tentang Koran Jokowi 4536 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan