Yusda Setiawan,SH.
“HATI HATI KABAKOM KENA KARTU MERAH!”
.
Saat diminta KordNas – Arief P.Suwendi (15/10) untuk meluangkan waktu menulis saya yang bukan berlatar-belakang jurnalis mengernyitkan dahi. Maklum saya lebih senang menulis gugatan, pledoi, dsb. Tapi okelah saya cona sesuai masalah yang saat ini sedang viral bahkan mengarah gaduh, yaitu tentang Syahganda Nainggolan, kelahiran Medan tgl. 27 November 1965 yang sejak Tgl. 2 Oktober 2026 lalu menjabat sebagai Kepala BAKOM – Badan Komunikasi Pemerintah RI.
Menjadi Aktivis dengan Pejabat Pemerintah Itu Beda, Bukan Lagi Beda Tipis Tapi Beda Banget. Dia harus mampu memilih. Tetap jadi aktivis yang bebas teriak, atau menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) yang lisannya adalah identik dengan pejabat publik/negara. Apapun semua telah dimulai sejak dilantik 2 Oktober 2026 berdasarkan Kepres 106/P/2026 jo Perpres 96/2025 tentang Badan Komunikasi Pemerintah.

Dia bukan lagi Syahganda yang aktifis, yang pernah dipenjara 10 bulan (Oktober 2020-Agustus 2021) di era Presiden Jokowi di Rutan Bareskrim Polri dalam kasus aksi demo UU Cipta karya di Jakarta.
Belum 48 jam sejak dilantik, besoknya beredar video podcast Refly Harun mengenai pernyataannya jika Wapres Gibran layak diganti karena “cacat ijazah, cacat konstitusi” kalau pun kemudian ditakedown karena itu video lama.
Oke, namun kemudian ada 2 peristiwa yang tercatat oleh relawan lainnya pasca Tgl.2 Oktober 2026 itu namun bukan sebagai aktifis namun sebagai Kepala Bakom RI
1. Blunder Ekspor Oksigen10 Oktober 2026 di Lemhannas, saat Kalimantan-Sumatera terbakar dan Singapura-Malaysia protes asap kiriman, dia malah beretorika:“Kita bukan hanya mengirim asap, tapi kalau asapnya enggak ada, kita mengirim oksigen. Oksigen Singapura dan Malaysia itu kan datang dari hutan-hutan kita.”
Pernyataan itu langsung viral di Malaysia (Carigold, Dakwat Rakyat) dan Indonesia (Harnas.id). Di saat Polri sudah tangkap 72 pembakar hutan, pernyataan “fenomena alam di luar kesalahan manusia” itu justru melukai diplomasi dan menertawakan penderitaan korban asap. Sampai-sampai Deputi Komunikasi Bakom, Ulta Levenia, pada 14 Oktober 2026 harus klarifikasi: pesan utamanya menjaga alam, bukan jual-beli oksigen. Seorang Kepala Bakom seharusnya memadamkan api dengan data, bukan menyiram bensin dengan metafora.

2. Blunder Patahan Sejarah14 Oktober 2026, wawancara Fajar.co.id, Syahganda kembali bicara sebagai aktivis:“Intinya Jokowi, inti daripada intinya geng Jokowi, pasti akan mengagendakan bagaimana Gibran bisa jadi Presiden sebelum 2029.”. Dia mencium gerakan “patahan sejarah” sebelum 2029.Sebagai aktivis, analisis itu sah. Sebagai Kepala Bakom yang menjadi bagian dari Kabinet Presiden Prabowo Subianto, ucapan itu adalah bom politik yang memecah belah komunikasi yang seharusnya dia sinkronkan.
Aktivis Boleh Gaduh, Pejabat Harus Redam Gaduh. Aktivis dibayar dengan viralitas. Semakin gaduh, semakin laku. Salah ngomong, minta maaf, selesai. Namun Kepala Bakom dibayar dengan kepercayaan dan APBN. Salah ngomong, yang minta maaf adalah negara. Hubungan diplomatik yang taruhannya. Kepercayaan Presiden yang dipertaruhkan. Pengangkatan Presiden kepadanya pun dipertanyakan para pembayar pajak.

Kepres yang mengangkatnya bukan sertifikat kebal kritik, tapi borgol komunikasi. Sejak dilantik, mulutnya bukan miliknya lagi. Mulutnya sebagai Kepala Bakom milik 280 juta rakyat Indonesia.Kartu kuning pertama sudah keluar di kasus oksigen. Kartu kuning kedua di kasus patahan sejarah. Satu kesalahan lagi, kartu merah.Dan di dunia komunikasi pemerintah, kartu merah itu bukan dikeluarkan wasit. Tapi oleh Presiden Prabowo Subianto.
Be carefull, Ketua.
[Red-01/Foto.ist)
*StafSus Koranjokowi.com dan #SahabatKPK! bidang Hukum.










“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”
“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”


CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Kamis, Tgl.15 Oktober 2026 sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.
Ikan Hiu muter – muter, See U Later!



https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

=
=======
- #Gibranism, “ADA APA DENGAN MAHFUD !?”
- #RepublikFabeliano, “KAPAN MENHUT RAJA JULI MUNDUR !”
- I Nyoman Parta Adi, “BALI MARAH SOAL BBM LANGKA !?”
- Vien J. Siregar, #RepublikFabeliano, “KAMI BUTUH 365 PANGULU BALANG BARU DI KABUPATEN SIMALUNGUN !”
- #RepublikFabeliano, “RELAWAN JOKOWI – GIBRAN & AD – HOMINEM”
- #RepublikFabeliano, “SOAL IJASAH GIBRAN DI MK, MANA YANG BENAR ?”
- #Gibranism, “DARI BANDUNG KITA LAWAN !”
- #RepublikFabeliano. “SURAT GEN Z UNTUK WAPRES GIBRAN”
- #RepublikFabeliano, “KISRUH JALAN BANDAR TELU KAB. LANGKAT BERUJUNG LAPORAN KE ISTANA !?”
- #RepublikFabeliano, “ROCKY GERUNG, KORPRI & REPUBLIK FABELIANO”
Be the first to comment