“PAPUA SELATAN TERBAKAR ATAU DIBAKAR?, MENHUT DIMANA?”
(“KITA SU PELELAH DENGAN JANJI MANUSIA !”)
.
Boven Digoel, #RepublikFabeliano (4/11/2026) – Sebuah surat penting berkode rahasia berlambang cakram bulu burung cenderawasih mendarat darurat di meja kerja Presiden Republik Fabeliano – Miss Pussy Noni. Surat itu dikirim oleh anggota kabinet asal Papua yaitu ; Mister Elang Kapsul (Menteri Pertahanan Udara) dan Kembar Kanguru Pohon, Kangura-Kanguri (Menteri Muda Urusan Papua) yang saat ini tengah berada di jantung pertahanan hutan adat Anim Ha, Papua Selatan.
.
Aroma asap pekat karhutla dari sisa kebakaran seluas puluhan ribu hektare di Merauke, Mappi, hingga Taman Nasional Wasur seolah tercium dari lembaran kertas yang agak hangus di bagian ujungnya itu.
“Ibu Presiden Miss Pussy yang kami hormati,” tulis Kembar Kanguru membuka surat tersebut dengan nada bergetar menahan amarah. “Kami melaporkan dari garis depan. Papua Selatan hari ini tidak sekadar terbakar oleh musim kemarau, tapi ‘diduga’ kuat sengaja dibakar demi ambisi pembukaan lahan skala besar. Pertanyaannya, saat hutan adat Anim Ha hangus terlalap api, Menhut RI Raja Juli Antoni ada di mana? Kenapa dia menolak bertemu langsung dengan pemimpin daerah kami?”
.
Misteri Menhut yang “Alergi” Masuk Hutan Adat
Dalam surat tersebut, Mister Elang Kapsul membeberkan kronologi kekecewaan mendalam dari Paskalis Imadawa (Wakil Gubernur Papua Selatan). Pihak Pemerintah Provinsi Papua Selatan telah berulang kali melayangkan undangan resmi agar Menteri Kehutanan datang langsung ke Merauke.
Banyak hal krusial yang harus dibicarakan secara langsung, face-to-face, tingkat tinggi—bukan diwakilkan kepada staf, dirjen, apalagi didelegasikan ke pihak ketiga. Pemda ingin meminta ketegasan Jakarta agar otonomi daerah tidak dikebiri dan daerah tidak sekadar dijadikan keset administratif bagi proyek-proyek sentralistik Jakarta. Namun, alih-alih datang membawa solusi, Menhut justru absen. Jangankan menampakkan batang hidungnya di tenda komando, suara burung-burung di medsosnya justru lebih nyaring ketimbang tindakan nyatanya di lapangan.
“Apakah Menhut takut melihat mata buaya muara purba atau ekidna moncong pendek yang habitatnya habis?” sindir Mister Elang Kapsul dalam suratnya.
Bom Waktu SK Nomor 591: Hutan Adat Berganti Label PSN
Poin kedua yang ditulis dengan tinta merah tebal oleh Kangura-Kanguri adalah mengenai Gugatan Hukum Masyarakat Adat Papua Selatan terkait SK Nomor 591.
SK sakti yang dikeluarkan dari meja birokrasi Jakarta itu secara sepihak mengubah status ribuan hektare hutan adat—yang telah dijaga jutaan tahun oleh leluhur Anim Ha—menjadi kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk komoditas pangan (food estate), tebu, dan sawit. Masyarakat adat kini resmi melakukan perlawanan hukum. Mereka menuntut keadilan atas tumpang tindih lahan yang mengabaikan hak asasi, tata ruang daerah, dan ruang hidup satwa endemik.
.
Keputusan Menteri Kehutanan (Kepmenhut) Nomor 591 Tahun 2025
Tentang: Perubahan atas Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 430 Tahun 2025 mengenai perubahan peruntukan kawasan hutan menjadi bukan kawasan hutan (Areal Penggunaan Lain/APL) seluas 486.939 hektare di Provinsi Papua Selatan.
Kebijakan ini digugat oleh Tim Advokasi Selamatkan Hutan dan Masyarakat Adat Papua ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta karena dinilai menghilangkan ruang hidup, wilayah adat, dan berisiko merusak lingkungan demi Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Manusia di Jakarta membuat aturan di atas kertas, tapi satwa dan masyarakat adat di sini yang harus membayar harganya dengan abu dan air mata,” tulis surat itu.
.
Karhutla: Terbakar atau Sengaja Dibiarkan?
Kondisi lapangan saat ini kian kritis. Asap tebal akibat karhutla mengepung 10 distrik di Merauke, memaksa anak-anak menghirup racun ISPA, sementara kebun sagu sebagai sumber pangan utama musnah dilalap api. Pemerintah daerah dan pusat dituding melakukan pembiaran sistematis. Pemadaman darat yang minim dan lambat membuat masyarakat lokal merasa sengaja ditelantarkan di tengah bara api.
.
Di akhir suratnya, Elang Kapsul dan Kembar Kanguru menuliskan pesan penutup yang sangat menyengat nurani:
“Ibu Presiden Miss Pussy, jika manusia-manusia Jakarta itu tetap menutup mata, membiarkan SK 591 merampas tanah kami, dan membiarkan hutan Papua Selatan habis terbakar menjadi arang sawit, mengapa mereka mendiamkan saat Karhutla ini , kami harus berjuang sendiri. Papua su terlalu banyak pegang luka!”
.
Membaca surat itu, Miss Pussy Noni terdiam, jantungnya berdetak keras menahan marah. “Kalau saya presidennya Menhut RI itu, akan saya paksa dia menemui mereka atau saya pecat sesudah saya rendam dirawa selama 14 hari!”
(Seluruh karakter hewan dalam tulisan ini adalah personifikasi satire untuk ikut serta mengkampanyekan antikorupsi)
“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”
“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”
CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Rabu,Tgl. 4 November 2026 sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.
Be the first to comment