Di atas panggung jumpa pers yang berlatar belakang papan putih bersih, kedua jenderal ini tampak berwibawa dengan setelan jas hijau army, kemeja hitam, dan dasi merah menyala. Duduk tenang sembari menyilangkan kaki, Laksamana Lodaya membuka lembar demi lembar buku referensi klasik hubungan sipil-militer internasional karya Samuel P. Huntington yang berjudul ‘The Soldier and the State’.
“Jika merujuk pada analisis objektif Huntington, kepemimpinan berlatar belakang militer memiliki keunggulan mutlak dalam profesionalisme birokrasi dan ketegasan eksekusi,” ujar Lodaya sembari menatap tajam ratusan kordinator hewan yang hadir. “Dalam menghadapi ketidakpastian menuju tahun 2029, kestabilan ekosistem membutuhkan pemimpin yang tegak lurus pada rantai komando, disiplin tinggi, dan tidak mudah goyah oleh kepentingan faksi politik sektoral yang berlarut-larut.”, Kata Laksamana sambil merapihkan dasinya.
“Itu kata buku ya, kalau saya pribadi, egh… seorang presiden hendaknya tampil sederhana saja, tidak ada kalimat mencemooh rakyatnya, dan fokus kepada apa yang ingin disampaikan sesuai teks yang sudah diatur protokoler. Sesekali bolehlah guyon namun kalau keseringan dan menjadi bumerang itu mengurangi kewibawaan baik dirinya maupun bangsa dan negara dimata mata dunia internasional”
Mendengar pemaparan komandannya, Mayjen Tutul Muria langsung menyambung dengan menyuguhkan perspektif pembanding yang diambil dari buku ‘Civilian Control of the Military’ karya Michael C. Desch untuk menjaga objektivitas forum.
“Namun, kita juga harus melihat rujukan ilmiah Desch secara berimbang,” sela Mayjen Tutul Muria sembari mendekatkan mikrofon ke moncong lorengnya. “Dalam bukunya ,Desch mengingatkan bahwa supremasi sipil adalah harga mati dalam ruang demokrasi yang sehat. Pemimpin sipil memiliki fleksibilitas tinggi dan mengutamakan legitimasi publik lewat konsensus, Dialog Khusus seperti ini, serta transparansi hukum (check and balances). Menjalankan roda pemerintahan tidak bisa disamakan dengan menggerakkan pasukan di tengah hutan belantara.”

“Intrupsi!”, tiba tiba seorang jurnalis mengacungkan tangan. “Silahkan, dan tolong in bahasa”, jawab Laksamana dan Tutul bersamaan. “Saya Jhon Bison dari TV Amerika, mau bertanya sejak thn.1945 ,Indonesia sudah dipimpin 8 Presiden. Yang berasal dari Militer hanya 3 yaitu Suharto, SBY dan saat ini Prabowo. Sisanya 5 dari Sipil.Yaitu,Sukarno, Bj.Habibi, Gus Dur, Megawati dan Jokowi. Bukan itu merupakan alasan tepat bahwa rakyat Indonesia lebih memilih presiden Sipil?”, Laksamana dan Tutul saling berpandangan seolah saling bertanya siapa yang akan menjawab. Kemudian ke-2 nya bersamaan menjawab, “No comment!,Ahahaha”. Suasana hening, hingga kemudian moderator – Chantique mengambil microphone
“Teman teman , hadirin dan insan pers, terimakasih atas kehadirannya, kita akan buat acara ini minimal 2 minggu sekali dan berpindah tempat dan materi. Apapun sejarah politik global telah membuktikan tidak ada model kepemimpinan yang mutlak sempurna. Sipil atau militer, militer atau sipil sama saja. Dan mereka tetap penerima amanah dari rakyat pembayar pajak”, tegas moderator sambil mengangkat satu kakinya karena ada kecoak masuk spatu bootnya.
“Hal lain ,saat didalam tadi ke-2 pembicara mengatakan bahwa Indonesia patut bangga karena mempunyai “One Blood” ; KPK, Polri dan Kejaksaan. Disayangkan banyak netizen mengatakan bahwa ke-3 nya belakangan ini ‘masing masing jalan sendiri bahkan saling sandera. Sebagai manusia saya mohon maaf”, tutur Chantique sambil melepas spatu boot nya.
Tiba tiba Laksamana menyela, “Maaf sis Chantique, apapun, itu tidak mungkin terjadi di Republik Fabeliano, kami jamin itu. Kabinet kami seolah pemain sepakbola, semua bertugas sesuai SOP. Kami juga mengharamkan klarifikasi klarifikasi. Maka dari itu semua kabinet kami harus lulus kursus public speaking dengan nilai diatas 8”, kata Laksamana sambil merapihkan dasi merahnya.
Tiba tiba, tanpa direncanakan,
Presiden Fajour – Miss Pussy Noni naik kemimbar dan berkata,
“Para hadirin maaf saya memotong diskusi ini. Saya merasa penting sampaikan bahwa karena saat ini kita semua sedang ada di tanah Pasundan, mari kita contoh Kepemimpinan Prabu Siliwangi / Sri Baduga Maharaja, yang sukses membawa Kerajaan Pakuan Pajajaran ke puncak kejayaan selama 39 tahun (1482–1521 M). Dimana dasar Filosofi dan Nilai Dasar Kepemimpinan adalah Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh: Mengajak rakyat untuk saling mencerdaskan, saling menyayangi, dan saling mengayomi dalam kehidupan bernegara. Tanpa mencemooh rakyat diruang publik, menjaga lisan dan wibawa kepemimpinan diruang publik. Pemberantasan korupsi pun bukan hanya seremoni, harus adil. Dan,tidak berkesan arogansi!.Itu yang lebih utama. Dan ingat, jarak Jakarta ke Antartika itu hanya sekitar 6.000 kilometer”
“Kalau pun tidak ada penerbangan langsung, perjalanan dari Jakarta ke Antartika palinglama hanya 4 hari, karena harus transit di Qatar, Spanyol, Chili, dsb. Jika itu terjadi di Republik saya, semua kebutuhan operasional pasti kita berikan sebagai bukti atas janji kepada rakyat, itu!”
Hadirin pun berdiri dan bertepuktangan meriah. Benar, sebagaimana slogan Republik Fabeliano, “Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi, maka hewan di Republik Fabeliano akan ambil alih!”
Ikan hiu muter-muter, see you later!
(Red-01/Foto.ist)
#sahabatKPK! | @squad-sahabatkpk | #fabelismJournalism | #Fabjour






“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”
“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan aka ambil alih!”


CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Rabu,Tgl. 12 Agustus 2026 sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan PT. QCI – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.
Ikan Hiu muter – muter, See U Later!



https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

================
Be the first to comment