KONFLIK GAJAH DAN WARGA KECAMATAN SUOH LAMPUNG BARAT IBARAT CERMIN DIRI & SINETRON YANG TIADA AKHIR ? . AKAN DATANG, HARI GAJAH LAMPUNG BARAT !?- (2)

KONFLIK GAJAH DAN WARGA KECAMATAN SUOH LAMPUNG BARAT IBARAT CERMIN DIRI & SINETRON YANG TIADA AKHIR ? . AKAN DATANG, HARI GAJAH LAMPUNG BARAT !?- (2)

KoranJokowi.com, Lampung Barat : Teman, setelah banyak mendapat puji dan cercaan atas terbitnya tulisa sejenis di jilid-1 lalu. Saya hanya tersenyum karena saya ingat High Fives’ yang dikembangkan oleh guru menulis Amerika Serikat, Carol Rich.Yang juga jadi rujukan saya dalam menulis.  Dia menyarankan lima bagian berikut;

1.Berita (Apa yang telah atau sedang terjadi?)
2.Konteks (Apa latar belakangnya?)
3.Lingkup (Apakah ini sebuah insiden, tren lokal, isu nasional?)
4.Tepi (Ke mana ini mengarah?)
5.Dampak (Mengapa pembacamu harus peduli?)

Tentang mengamuknya kawanan Gajah di Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat adalah ibarat ‘mata pisau yang berbeda arah’, dia menikam dari berbagai sudut tanpa ada ‘pesan sponsor atau konflik kepentingan; Tulisan harus lebih luas, melebar dan menyasar kemana saja semau penulis selama ini obyektif dan mampu dipertanggung-jawabkan.

Sebagaimana informasi dasar tentang hancurnya harga singkong di Lampung utara selama masa Covid 19 pastinya juga dirasakan petani singkong dimana saja, maka akan lebih bijak jika isu lokal ini dinaikan menjadi isu nasional. Demikian halnya dengan isu gajah itu, yang kebetulan terjadi disana namun jangan lupa dibeberapa daerah pun ditemui kasus yang sama seperti di Aceh, Riau, Jambi, dsb.

Saya hanya ingin ‘mengingatkan’ kembali kepada kementerian/instansi dan Pemda sekitar bahwa ‘mari intropeksi dii mengapa satwa liar khususnya gajah itu kerap turun kelahan warga, jawabannya ada di jilid-1, atau anda bisa baca dilink tulisa diakhir tulisan jiid-2 ini

Teman,

Kejadian turunnya gajah di Suoh ini bukan yang pertama kali, yang jelas mereka adalah bagian dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), bahkan UNESCO pun menjadikan TNBBS sebagai Warisan Dunia, dinyatakan sebagai Cagar Alam Suaka Margasatwa pada tahun 1935 dan menjadi Taman Nasional pada tahun 1982. Saat itu luas TNBBS seluas 356.800 hektar . Tetapi luas taman saat ini yang dihitung dengan menggunakan GIS kurang-lebih sebesar 324.000 Ha

GIS (Geographic Information System) atau Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data digunakan untuk investigasi ilmiahpengelolaan sumber dayaperencanaan pembangunankartografi dan perencanaan rute. GIS/SIG juga  bisa mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi.

Pertanyaannya, ada selisih jumlah antara luas awal dari 356.800 hektare namun menurut GIS/SIG menjadi 324.000 Ha, lalu kemana yang 32.800 hektar-nya lagi ?, saya cari di wikipedia atau ‘mbah google pun tidak juga ditemukan jawabannya. Ahahah…

Teman, Kembali ke-soal kawanan gajah yang gemar turun ke desa, tercatat yaitu:

Tgl.9 Oktober 2019

Belasan Kawanan gajah liar (Elephas maksimus sumatrensis) Taman Nasional Bukit Barisan Selasan (TNBBS) itu merusak perkebunan kopi di Kecamatan Suoh dan Kecamatan Balikbukit, Kabupaten Lampung Barat. Bahkan mereka pun merusak rumah dusun Pekon Rowo Rejo, yakni di Talang Jeporo, Bagio, Agung, Mekar Jaya, Madak, Tritunggal, dan Talang Rowo Agung

Tgl.7 Februari 2019.

Mereka kembali masuk dan merusak perkebunan milik warga di Blok 9 Rowo Rejo, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung. Jumlah kawanan gajah liar itu diperkirakan mencapai puluhan ekor.

Tgl.16 Februari 2020

Belasan Kawanan gajah liar kembali masuk ke perkebunan serta merusak puluhan hektare tanaman di sawah yang berada di Pekon (Desa) Roworejo, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat. Bahkan, kawanan gajah sudah hampir dua pekan menginap di lahan perkebunan dan pertanian milik warga di Pekon Roworejo, Kecamatan Suoh, Lampung Barat

Tgl.25 Maret 2020

Belasan gajah liar kembali merusak sejumlah rumah dan gubuk milik masyarakat. Jika sebelumnya lima rumah dan gubuk milik warga Tanggamus yang berkebun di Suoh jadi sasaran, kali ini kawanan gajah liar tersebut merusak rumah warga di Talang gajah, Pekon Roworejo, Suoh, Lampung Barat. Sebanyak 11 rumah warga menjadi sasaran di Pekon Roworejo, Suoh, Lambar itu adalah milik Sariman, Jadian, Suraji, Wiji, Johar, Sajum, Udin, Erik, Wira, Irit dan Rohmat.

Tgl.3 Agustus 2020

Belasan kawanan Gajah kembali masuk Suoh, hingga berjarak 1,5 Km dari pemukiman warga

Teman,

Data diatas sebagaimana saya sampaikan hanya ‘bagian’ terkecil kerapnya mereka masuk pemukiman disana. Yang selalu berulang kali terjadi !

PERTANYAAN BERIKUT

1.Apakah pihak KemenLHK, Pemda atau TNBBS pernah menggunakan jasa GPS Solar ,satu alat pendeketksi gerakan satwa liar termasuk Gajah?

2.Sebut saja di TNBBS itu ada 50 gajah liar, sudahkah mereka semua dipakaikan GPS Solar?, karena data yang saya punya hanya 1 ekor gajah bernama ‘Gajah Bunga’  yang telah ‘dipakaikan’ itu, kenapa?

3.Saya mencoba cari tahu harga GPS Solar untuk satwa liar, dari berbagai jenis, merk dan fungsi anggap saja nilai GPS Solar baik yang berbentuk chip, kalung, dsb dengan angka termahal tidaklah sampai harga USD. 1.500, jika dirupiahkan dengan kurs Rp.15.000 pun tidaklah sampai nilai Rp. 23 juta/GPS Solar.

Jadi bagaimana kita bisa tahu gerakan gajah jika dipakaikan baru kepada 1 ekor, sedangkan mereka jumlahnya lebih dari 1 ekor. Padahal, Pemasangan GPS collar adalah bagian dari  upaya monitoring pergerakan kelompok Gajah dalam rangka mitigasi konflik atau early warning system.

Dengan GPS Solar maka kerja TNBBS, ERU TNWK, YABI, WCS, KPHL IX, Satgas HKM dan para warga desa akan terbantu, itu yang saya yakini. Pemantauan secara langsung kepada kelompok gajah oleh tim ini cukup dilakukan melalui satelit. Karena GPS Collar diatur dengan interval transmisi sinyal per satu jam dan dapat dimonitor melalui web application dan mobile application. Mobile application menampilkan monitoring posisi GPS Collar dan histori pergerakan GPS Collar. Sedangkan web application menampilkan GPS Collar secara near real time dalam bentuk 3 dimensi.

Dari pelacakan  GPS Solar ini,  tim pun akan lebih cepat memberitahukan kepada warga sekitar untuk segera waspada, disatu sisi tim dapat cepat menangkal atau mengusir kawanan gajah dengan cara santun.  tidak melukai. ‘pokok’e semua tergantung kepada ‘niat babeh saja, ahahaha..

Jika KemenLHK, Pemda atau TNBBS memang  ‘tidak punya’ anggaran untuk membeli 50 GPS Solar itu, saya yakin ke-7 kepala desa/pekon/pratin siap ‘sum-suman/patungan, semua ini hanya kembali kepada niat bagaimana memberikan yang terbaik kepada warga pemilik kebun pisang, kopi, kelapa, lada, pinang, dsb. Termasuk keselamatan mereka, juga rasa ‘peri-kebinatangan’ kita kepada kawanan gajah itu.

Oh ya kapan ya kita rayakan HUT GAJAH LAMPUNG BARAT itu?

Mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan, SALAM GAJAH ! (Red-01/Foto.ist)

Before,

JILID-1

https://koranjokowi.com/2020/10/06/konflik-gajah-dan-warga-kecamatan-suoh-lampung-

Tentang RedaksiKJ 1204 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan