” KANG DADANG & JUSTICE COLLABORATOR-NYA SONNY SONJAYA? “
Koranjokowi.com, #SahabatKPK!
(Suasana di teras rumah kayu sederhana. Kang Dadang baru saja menyeruput kopi pahitnya setelah mengurus enam kambing Haji Ano. Di HP-nya, muncul berita viral tentang mantan Wakil Kepala BGN, Sonny Sonjaya, soal pengajuan dirinya sebagai Justice Collaborator (JC). Tiba-tiba, Ceu Sulastri – Bebeb Kang Dadang masuk halaman rumah, sepertinya baru pulang dari kantor desa – rapat PKK.
Kang Dadang: “Waalaikumsalam wrwb, Astagfirullah, Aya naon Nyai… sampai harus ‘gogorowokan, teriak teriak kaya gitu sih!?”
Ceu Sulastri: “Itu tadi di rapat PKK, ibu-ibu pada ribut! Katanya sekarang kalau ada maling besar, asal dia mau ngadu ke polisi, hukumannya boleh didiskon? Namanya apa itu tadi… Justis-justisan gitu? Masa maling diajak kerja sama, Kang? Kalau saya maling jemuran Bu RT terus saya adukan si Odah yang ikut membantu, apa jemuran saya balik? Apa saya bebas? Nggak, kan?!”
Kang Dadang: “Iya tapi ini teh soal naon, da akang mah nggak ngerti”
Ceu Sulastri:“Eta kasus wakil kepala BGN, pak Sonny , ujug-ujug aya di tivi mau bantu polisi. Kan dia mah penjahat, koruptor MBG”
Kang Dadang: (Sambil menggaruk kepala, lalu menunjukkan layar HP-nya), “Ohh soal itu, tadi juga waktu akang ngembaliin kambing ke rumah pak Haji Ano, dia juga ngomong gitu sama akang. Harusnya tidak seperti itu atuh, penjahat kok diajak kerjasama, akang juga nggak ngerti kumaha sih hukum kita teh”
Ceu Sulastri: “Nah! Bener itu kan. Sekarang gini ya Kang, Akang kan cuma ngangon kambing punya Haji Ano. Kalau satu kambing hilang dimaling, terus si malingnya ditangkap tapi bilang: ‘Saya kasih tahu penadahnya si Sarkam begal desa sebelah, tapi kurangi hukuman saya, bebaskan saya ya’, Akang terima nggak? Haji Ano terima nggak? Si Sarkam terima nggak? Ya nggak lah! Maling ya maling, harus dihukum!”
Kang Dadang: (Sambil menyeruput kopi lagi, mukanya serius) “Begini loh, Nyai… kata anaknya Haji Ano, si Lukman yang mahasiswa, dia mah bilang itu namanya Justice Collaborator (JC), strategi buat tangkap bos besarnya. Tapi Akang setuju sama Nyai dan Haji Ano, emang semua orang ngerti apa itu JC? Kalau memang itu rahasia polisi buat nangkap bos maling, ya ngapain dipamerkan di TV? Ngapain mesti diberitakan sih?”
“Kalau diumumkan, si Bos Maling di luar sana kan jadi tahu kalau anak buahnya ‘nyanyi’. Nanti si anak buah atau keluarganya malah dicelakai sebelum sempat ngomong di depan hakim. Terus kita yang di desa jadi bingung, kok hukum kayak dagang gorengan, bisa tawar-menawar. Wajar dong kalau kita beranggapan gitu, Nyai!”
Ceu Sulastri: “Betul, Kang! Jangan dikira kita orang desa nggak ngerti keadilan. Malah makin curiga kita kalau pemerintah pamer-pamer kerja sama dengan penjahat. Mending diam-diam saja, nggak usah diberitakan, aneh!”
Kang Dadang: (Tersenyum tipis sambil mengetik sesuatu di HP) “Sabar, Nyai. Ini Akang lagi baca di internet, sekarang ada grup relawan, namanya #SahabatKPK. Berita-beritanya enak dibaca, sederhana tapi kita paham maksudnya. Mereka lebih mampu berkomunikasi dengan ‘orang bawah’ daripada pejabat, karena mereka bicara pakai hati. Mungkin lewat mereka, suara kita yang minta agar JC nggak usah dipublikasikan bisa sampai ke Jakarta,” kata Kang Dadang sambil mencolek dagu Ceu Sulastri.
(Ceu Sulastri tidak menjawab, matanya terlihat senang. Ia kemudian menarik lengan Kang Dadang ke dalam rumah. Dua ekor bebek di halaman pun manggut-manggut.)
Teman-teman relawan #SahabatKPK di mana saja berada,
Sosok Kang Dadang (KD) dan Ceu Sulastri (CS) kami yakini mewakili puluhan juta orang Indonesia dalam menanggapi kasus JC mantan Wakil Kepala BGN yang sedang viral ini. Mengapa? Karena:
Menghargai Logika Dasar: Logika KD & CS sangat lurus: “Salah ya dihukum, benar ya dibela.” . Jangan mereka merasa “digurui” oleh teori hukum yang jelimet, namun terasa mengkhianati rasa keadilan. Sebagaimana kasus-kasus hukum besar lainnya yang sering kali membingungkan masyarakat awam.
Menghilangkan Rasa Curiga: Ketidakpahaman sering kali melahirkan rasa curiga (suudzon). Dengan analogi “Maling Kambing”, kita diingatkan bahwa Indonesia bukan hanya milik orang yang paham hukum. Perlu narasi sederhana agar rakyat paham 1000% apakah JC itu strategi penegakan hukum atau sekadar “permainan” di balik meja.
Memberi Rasa Memiliki: Saat rakyat paham risiko dari publikasi JC, mereka merasa punya hak untuk mengkritik. Mereka menjadi bagian dari pengawas hukum, bukan cuma penonton berita.
Narasi seperti ini jauh lebih efektif daripada pidato pejabat di TV. Pesannya jelas: “Kita dukung tangkap bos koruptor, tapi tolong jangan lukai rasa keadilan KD & CS dan lainnya dengan memamerkan penegak hukum seolah kerja sama dengan penjahat.”
Paham!?
Engga pun nggak apa apa,kok. Eheheh.
(Red-o1/Foto.ist)
============
CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Kamis, tgl. 11 Juni 2026 sejak hari Jumat, tgl. 1 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan PT. QCI – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.
Be the first to comment