Sinto, NTT. #SahabatKPK!, “HEWAN DALAM LENSA NASRANI”

Sinto, NTT. #SahabatKPK!,

“HEWAN DALAM LENSA NASRANI”

HEWAN, SPIRITUALITAS, DAN ALAM:
Refleksi Kasih dari Lensa Nasrani
Pandangan terhadap hewan dalam berbagai agama pada hakikatnya bermuara pada satu titik: perlakuan kasih sayang. Setiap tradisi keagamaan, tanpa terkecuali, mendidik manusia untuk menghargai keberadaan hewan sebagai bagian integral dari ciptaan Tuhan dan penjaga keseimbangan alam semesta.
Dalam perspektif iman Nasrani (Kristen/Katolik), tanggung jawab manusia terhadap dunia fauna bukanlah opsi, melainkan mandat ilahi yang melekat sejak awal penciptaan. Teks kitab suci Perjanjian Lama menegaskan bahwa manusia diberi amanat oleh Allah untuk “mengusahakan dan memelihara” seluruh ciptaan (Kejadian 2:15). Artinya, manusia ditempatkan sebagai pelindung dan pengayom alam, bukan penguasa yang destruktif atau eksploitatif.
Keledai dan Burung Pipit: Simbol Radikal Yesus Kristus
Melangkah ke dalam tradisi Perjanjian Baru, figur Yesus Kristus kerap menggunakan hewan dalam pengajaran-Nya untuk menampar keangkuhan manusia sekaligus menggambarkan pemeliharaan Tuhan yang maha luas. Hewan tidak sekadar menjadi pelengkap cerita, melainkan simbol teologis yang kuat.
Salah satu teladan kerendahan hati yang paling radikal adalah pilihan Yesus untuk menunggangi seekor keledai muda saat memasuki kota Yerusalem (Matius 21:5-7). Ia menolak kuda perang yang gagah—simbol arogansi militeristik dan kekuasaan duniawi—dan memilih keledai beban yang sunyi, lambang kedamaian dan kedekatan dengan kaum papa serta alam.
Yesus juga meruntuhkan cara pandang manusia yang sering mengukur segala sesuatu dari nilai materi. Dalam Khotbah di Bukit (Injil Matius 6:26), Beliau berseru:
“Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga…”

Hal senada dipertegas dalam Injil Lukas 12:6:
“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari antaranya yang dilupakan Allah.”

Melalui lensa Fabelism Journalism (Fabjour), ayat ini memiliki daya gedor yang luar biasa. Jika burung pipit—hewan kecil yang di pasar kuno dihargai sangat murah—saja tidak pernah diluputkan, dilupakan, atau dibiarkan menderita oleh penciptanya, mengapa manusia begitu tega melakukan deforestasi, mengeksploitasi habitat fauna, atau bertindak koruptif yang merusak ekosistem hidup mereka?
Burung Pipit Tanah Liat dalam Tradisi Apokrifa
Kedekatan emosional Yesus dengan dunia satwa bahkan terekam kuat di luar kitab kanonik resmi. Dalam literatur Kristen non-kanonik kuno, Injil Masa Kecil Thomas (Infancy Gospel of Thomas) Bab 2, terdapat kisah alegoris saat Yesus berusia 5 tahun.
Dikisahkan, Ia membentuk 12 burung pipit dari tanah liat pada hari Sabat. Ketika ditegur oleh orang dewasa karena dianggap “bekerja” di hari suci, Yesus kecil bertepuk tangan dan berseru, “Pergilah!”. Seketika itu juga, burung-burung tanah tersebut hidup, mengepakkan sayap, dan terbang bebas sambil berkicau. Kisah tradisi apokrifa ini, meski tidak masuk Alkitab resmi, menunjukkan betapa melekatnya figur Yesus sebagai pembawa kehidupan dan sahabat bagi makhluk-makhluk tak bersuara sejak masa kecil-Nya.
Esensi #SahabatKPK! dan Fabjour: Menolak Korupsi Ekologis
Bagi kita, gerakan #SahabatKPK! dan pegiat jurnalisme fabel, tulisan ini adalah pengingat lintas iman. Ketika keserakahan manusia memicu korupsi agraria, pengalihan lahan secara ilegal, dan perusakan hutan, hewan-hewan adalah korban pertama yang kehilangan “rumah”.
Menyayangi hewan dan menjaga habitat mereka adalah bentuk nyata dari integritas spiritual. Menghancurkan alam demi keuntungan segelintir koruptor adalah pengkhianatan terhadap mandat Tuhan dalam agama apa pun. Melalui kisah-kisah satwa dalam pandangan Nasrani ini, kita diajak kembali berkaca: sudahkah kita menjadi pelindung sesama makhluk, atau justru menjadi ancaman bagi mereka?
Sebab, tidak ada seekor pun dari mereka yang dilupakan oleh Allah.
: Deo Gratias,  Deo Gratia; Syukur kepada Allah :
: Terima kasih kepada Tuhan : Thanks be to God).
(Red-01/Foto.ist)
Tentang Koran Jokowi 4378 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan