Teman-teman relawan di mana saja berada, pada edisi sebelumnya kita telah mengupas tentang sosok Wahyu Loekman—seorang pensiunan pegawai negeri berusia 69 tahun yang kini menyambung hidup sebagai seniman perias karakter. Nah, sebagaimana janji redaksi, maka kali ini kita akan berbicara tentang belahan jiwa Wahyu, yaitu sang istri tercinta, Sulastri (64 tahun).
Kemarin, Sabtu (4/7), menjelang ashar Wahyu Loekman telah tiba di rumah kontrakan mereka. Bau harum masakan sayur asem istri tercinta langsung menggoda hidungnya. “Assalamualaikum, Bu,” sapa Wahyu mendekati istrinya. “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Sulastri sambil menyalami sang arjuna. Tidak lama Wahyu pun pamit ke mushola ujung gang untuk sholat Ashar.
Lebih dari tiga dekade sudah mereka mengarungi biduk rumah tangga. Sunyi. Tanpa tangis atau tawa riang anak kandung yang pernah mereka impikan sejak menikah puluhan tahun silam. Kamar kontrakan itu tetap sepi dari suara penerus generasi. Namun, di antara keheningan takdir yang mereka peluk dengan ikhlas, Sulastri tak pernah membiarkan ruang kosong itu diisi oleh rasa sesal, apalagi oleh harta yang haram.
Usai sholat Wahyu melepaskan penat diteras mushola, ingatan Wahyu melayang pada masa-masa dinasnya dulu. Saat rekan-rekan kerjanya mulai lihai memotong anggaran perjalanan dinas atau menyelipkan kuitansi fiktif, Sulastri adalah rem yang paling pakem. Setiap pagi sebelum Wahyu berangkat, sambil menyerahkan bekal makan siang dalam rantang usang, Sulastri selalu membisikkan mantra keramatnya: “Sing eling, Pak. Jangan pernah tergiur. Sesuap nasi haram yang masuk ke mulut kita, akan membakar seluruh ketenangan hidup kita.” Keteguhan prinsip Sulastri bukan sekadar teori di atas kertas. Realitas itu nyata membentur mereka baru-baru ini.

Langit terlihat mendung, tiba tiba tetangganya, Dadang yang juga koordinator lapangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) desa mereka sambil membawa galon kosong dan setumpuk stiker menemui Sulastri. Dadang awalnya mencari Wahyu, intiya Dadang menawarkan proyek yang sangat menggiurkan. Sulastri diminta menjadi pemasok air mineral untuk dapur umum MBG di desa mereka yang membutuhkan total 2.000 galon setiap harinya. Namun, proyek ini ternyata menyimpan siasat busuk.
“Bu Sulastri, harga isi ulang di sini berapa untuk yang 19 liter?” tanya Dadang membuka obrolan.
“Rp7.500, Mas,” jawab Sulastri ramah.
“Dijamin aman dan sehat, ya?”
“Insyaallah, karena setiap bulan kami selalu melakukan servis pada seluruh alat filter yang ada, Mas.”
Mendengar hal itu, Dadang mengajak Sulastri masuk ke dalam warung yang agak sepi, lalu berbisik licik, “Dapur MBG desa kita itu kebutuhan totalnya 2.000 galon sehari, Bu. Rencananya, 1.000 galon tetap kita beli yang bermerek asli seharga Rp23.000. Nah, 1.000 galon sisanya, kita akali pakai air isi ulang dari warung Ibu saja! Botol kosong bermerek dan stiker segel palsunya sudah saya siapkan 1.000 buah.”
Dadang tersenyum lebar membayangkan hasil manipulasi anggarannya. “Ibu bisa hitung sendiri berapa profit dari 1.000 galon yang kita sulap itu. Setiap galon kita untung Rp15.500! Dikali 1.000 galon, maka keuntungan bersih kita Rp15.500.000 per hari. Kita bagi dua saja, saya dapat 60% dan Ibu dapat 40%. Bagian Ibu berarti Rp.6,2 juta sehari. Jika dikali 20 hari kerja dalam sebulan, Ibu bisa kantongi Rp.124 juta bersih!”
Sulastri tersenyum sinis. “Maaf, Anda salah orang, Mas. Silakan keluar!” tegasnya tanpa ragu.
Dadang tertegun, mukanya memerah menahan malu. Ia pun bergegas keluar dari warung dan langsung berlalu . Wahyu yang sejak tadi berdiri dan mendengar seluruh percakapan itu, langsung menghampiri istrinya. Ia menatap wajah istrinya dalam dalam, dengan mata berkaca-kaca.
“Alhamdulillah, sikap kamu benar, Bu. Allah pasti tersenyum melihat keteguhanmu. Kita memang perlu uang tapi bukan dari cara seperti itu, Kamu memang surgaku,” ucap Wahyu lirih. Mereka tersenyum puas. Tuhan pun tersenyum, diantara miliaran manusia dibumi masih ada Wahyu – Sulastri yang ‘Berani Jujur, Hebat!, sehingga tidak menjadi bagian dari “Kabinet Karung Bocor. Alhamdulillahirabil’alamiin.
(Red-01/Foto.ist)




CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Minggu, Tgl.5 Juli 2026 sejak hari Jumat, tgl. 1 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan PT. QCI – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.
Ikan Hiu muter – muter, See U Later!


https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/


===============
Be the first to comment