#SahabatKPK!, “CARA KORUPSI “AMAN” DARI HIDUNG KPK! ?”

#SahabatKPK!,

“CARA KORUPSI “AMAN” DARI HIDUNG KPK! ?”

Hari ini redaksi Podcast  #SahabatKPK! mengundang 3 narsum “tingkat dewa”: Kutu Busuk, Kecoa, dan Tikus , para pakar ‘mengakali’ APBN ternama. Selian dikenal dunia internasional mereka juga tidak malu untuk datang ke kantor kantor kepala desa menjual jasa bagaimana cara  “mengamankan” korupsi dana desa agar tidak tercium hidung penegak hukum pastinya kalau tidak ada biaya diawal namun mereka punya jatah 30-40% sebagai succes-fee. Oh ya, temanteman  Kali ini si ‘Kutu Busuk berhalangan hadir,  karena sedang menyamar di balik “Gedung Kura-Kura” untuk cari celah baru koruspi APBN thn.2027

Podcast dimulai, action!
Saya bertanya, “Apa betul KPK tidak bisa masuk desa?”

Tikus :Dasar hukum utamanya diatur dalam UU.No.19/2019 pasal 11 yang membatasi  wilayah kerja penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Kecoa : Ya, KPK hanya menangani kasus yang melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara (seperti Bupati, Gubernur, atau DPR), serta kerugian paling sedikit Rp1 miliar.

Tikus : Oleh karena itu, kasus korupsi dana desa sepenuhnya ditangani oleh Kejaksaan Agung (Kejaksaan Negeri) dan Polri (Polres). Jdi kita aman dari hidung KPK, namun tetap waspada dari hidung Polisi dan Kejaksaan.
Kecoa : Nah disitulah jasa kami berada, tahun 2024 ada 275 kepada desa kena ciduk dengan kergian negara > Rp.80 – 132 miliar, tahun 2025 sekitar 459 kepala desa dengan jumlah lebih dari Rp. 125 miliar. Mengapa mereka tertangkap ya karena mereka  ‘tidak menggunakan jasa’ kami berdua, ahahaha.(Tikus ikut tertawa terbahak-bahak), saya diam menghargai mereka sebagai nara-sumber.
Saya bertanya kembali,
“Tahun 2025-2026 kebocoran dan kerugian negara di APBN lebih dari Rp. 300 triliun, tanggapan bapak berdua?”
Tikus : Oh ya baguslah kalau hanya ditulis segitu, seharusnya lebih dari itulah!, Ahahaha.
Kecoa : Makanya lebih baik jadi seperti kami; Kecoa, tikus dan kutu busuk. Kalau pun kami korupsi ya namanya juga binatang, yang tidak pernah bersumpah dibawah kitab suci. Disitulah kelemahan manusia mulai yang dari pejabat di  gedung kura kura, kantor kantor kementerian, instansi, BUMN, BUMD,  kantor desa, hingga ketua RT sekalipun.
Saya,
“Dari beberapa sumber yang redaksi himpun thn.2024-206, KPK berhasil menyelamatkan kerugian negara melalui pemulihan aset / asset recovery lebih dari Rp. 3,3 triliun dengan jumlah tersangka lebih dari 300 orang?”
Tikus membuka laptop dan memperlihatkan data sbb:
Persentase Tersangka KPK Berdasarkan Jabatan (2024–2026)

Kategori Jabatan / Profesi Estimasi Persentase Karakteristik Kasus Umum
Birokrasi & Aparatur (Eselon I, II, III, IV) ~39,6% Penyalahgunaan wewenang anggaran proyek dinas, pemerasan jabatan
Sektor Swasta (Pengusaha/Kontraktor) ~24,7% Pemberi suap tender proyek pemerintahan atau perizinan
Legislator (Anggota DPR & DPRD) ~10,4% Suap pembahasan anggaran daerah, ketok palu, pengesahan perda
Kepala Daerah (Bupati, Wali Kota, Wakil) ~5,2% Jual beli jabatan, gratifikasi perizinan, pemotongan kas daerah
Gubernur ~3,3% Suap proyek infrastruktur skala besar tingkat provinsi
Korporasi (Sanksi Hukum Perusahaan) ~2,6% Keterlibatan entitas bisnis secara sistemik dalam tindak pidana
Menteri / Kepala Lembaga Pusat ~1,3% Korupsi pengadaan barang/jasa skala kementerian (misal: Kuota Haji)
Lain-lain (Pengacara, Polisi, Hakim, dll.) ~12,9% Obstruction of justice (merintangi penyidikan), suap perkara hukum

(Data di atas dihimpun secara proporsional dari laporan tahunan penindakan dan rilis berkala KPK RI)

Kecoa : Ahahahaha,sekarang kamu paham kan bahwa korupsi itu memang sudah menjadi ‘LifeStyle, gaya hidup. Seperti ada tokoh politik nasional yang menyebut ‘Korupsi itu oli pembangunan’, kamu googling aja, ahaha

Saya diam,rasanya narsum ini semakin kurang ajar.

“Bagaimana cara menghindar agar tidak dicium KPK?”

Tikus : Pertanyaan bodoh ini namanya, ya jangan korupsi lah!, ahaha.

Kecoa : Dalam bisnis kami ada yang kami sebut ‘Excuse methode’, metode ‘ngeles. Tapi yang ini saya mohon jangan dipublikasikan ya.Deal?

Saya menggangguk, kalau pun dalam hati berkata. “Emang gue pikirin, ndasmu!”

Tikus kembali membuka laptopnya, disini tertulis apa yang disebut dengan ‘EXCUSE METHODE”, yaitu :

1. JURUS 1: BERBURU PIAGAM WTP

“WTP = Wajar Tanpa Pengecualian — seharusnya buat laporan bersih. Tapi kita punya cara,” kata Pak Kecoa.

Contoh yang pernah dipakai:
– Edison (Bupati Muara Enim): Suap auditor BPK agar laporan proyek pendidikan mulus.
– Ade Yasin (Bupati Bogor): Beri Rp1,93 miliar ke tim BPK agar temuan hilang.
– Mochamad Anton (Wali Kota Malang + DPRD): Kerja sama meloloskan APBD, akhirnya tertangkap massal.
– Rahmat Effendi (Wali Kota Bekasi): Alirkan uang ke auditor agar tak ada ganjalan dapat WTP.

2. JURUS 2: SAKIT MENDADAK KETIKA DIPANGGIL
“Ini pernah saya lihat dipakai oleh,
– Setya Novanto: “Kecelakaan” berulang sebelum ditahan.
– Miryam S. Haryani: Sakit jantung pas jadi saksi.
– Muhammad Nazaruddin: Alasan sakit tunda ekstradisi.
– Akil Mochtar: Rutin cek kesehatan tunda sidang.
– Banyak kepala daerah: Asam lambung, darah tinggi, lemas — kumat pas surat KPK datang.
“Tapi sekarang KPK punya dokter sendiri. Sakit beneran pun tetap diawasi. Jurus ini sudah basi.Ahahaha!”

Di luar terdengar gerimis mulai turun, kalau pun masih tersisa 13 menit lagi secara kompak mereka minta ijin menyudahi Podcast ini, “Karena Podcast ini gratisan, kami pamit ya. Dan kami mohon tolong jangan semua ditayangkan di Koranjokowi.com, karena ilmu itu mahal”, kemudian mereka memanggil pengawal untuk membawa ke mobil  ‘Karung APBN’ yang tadi mereka bawa kestudio.

Dipintu Tikus dan kecoa  memberikan saya laptopnya merk MJ’S Swarovski /2021, “Ini kenang-kenangan untuk redaksi”, saya menerimanya dengan senang karena saya tau harga laptop asal Ukrania by Stuio MJ ini lebih dari  Rp.50 miliar. Saya bisa jual cepat Rp. 18-23 Miliar, uangnya untuk membangun web dan studio podcast lebih keren, acara sosial, seragam redaksi, honor redaksi, dsb.  itu pikir saya. Aha!

Mereka pamit ke toilet, dan apa yang terjadi?, mereka berdua ganti pakaian. Outfit formal berganti, kaos oblong sobek, celana pendek dan sandal jepit. “Kesalahan koruptor Indonesia ,kalau pun masih main kecil dan lokal gayanya suka over-dosis. Lihat kami ,siapa yang mengira jika kami adalah pakar yang melawan jargon KPK, “Berani Jujur,Hebat!. Ahahaha”, dalam hati saya masa bodohlah, yang penting Laptop miliaran yang dipenuhi berlian  ini sudah ditangan.

Mereka masuk mobil, Tikus yang duduk dibelakang membuka jendela dan berbisik, “Itu laptop juga kami beli dari uang rakyat boss, uang korupsi, ahahaha!”, sontak saya pun berlari arah mobil dan mengembalikan kemereka, mobil berlalu suara terbahak-baha mereka terdengar hingga ujung jalan.

(Red-91/Foto.ist)

CATATAN REDAKSI :

Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Jumat, Tgl.3  Juli 2026  sejak hari Jumat, tgl. 1 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan PT. QCI –  yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf  ya atas segala ketidak-nyamanannya.

Ikan Hiu muter – muter, See U Later!

https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

===============

#SahabatKPK!, “KABINET KARUNG BOCOR !?”

Tentang Koran Jokowi 4343 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan