#SahabatKPK!, “KABINET KARUNG BOCOR !?”

#SahabatKPK!,
“KABINET KARUNG BOCOR !?”
Ironi Indonesia Emas di Tengah Ceceran Triliunan APBN
Sebilah tiang kayu membelah wajahnya menjadi dua. Di balik persembunyian itu, sebelah mata Wahyu Loekman menatap nanar. Wajahnya sendiri telah menjelma menjadi kanvas teatrikal yang kelam—guratan hitam mengitari kelopak matanya yang menua, alas bedak putih yang retak digerus keringat, dan garis merah darah yang melintang di bibir. Di usianya yang menginjak 69 tahun, pensiunan instansi pemerintah ini memilih menyatu dengan malam, bersembunyi di balik riasan karakter panggung modern.
Pikirannya melayang mundur ke masa lalu. Wahyu bukan orang sembarangan. Dia menghabiskan tahun-tahun pasca-pensiunnya dengan berguru pada para maestro. Dia mengingat keanggunan Didik Nini Thowok saat menarik garis contouring tinggi yang dramatis. Dia juga merekam setiap pakem rahasia dari perias senior Wayang Orang Bharata dan Sriwedari tentang bagaimana menghidupkan karakter raksasa yang serakah atau ksatria yang terluka. Wahyu menguasai seni memalsukan wajah.
Namun, ada sumpah mati bagi Wahyu yang tidak akan pernah dia lakukan yaitu ‘merias’ wajah wajah koruptor , berapa pun nominal uang yang disodorkan ke mejanya, jawabannya tetap sama, “TIDAK ! “.
Ingatannya terkunci pada sebuah sore, tepat dua tahun lalu.
Saat berjalan pulang membawa kotak riasnya, langkah Wahyu terhenti. Di depannya, seorang bapak tua dengan tatapan polos sedang mengayuh sepeda usang. Sebuah bendera Merah Putih kecil berkibar pasrah di stang sepedanya. Namun, pemandangan tepat di belakang sepeda itu mencabik jantung Wahyu. Sebuah karung logistik bertuliskan “APBN” terseret di aspal, robek dan bocor. Uang rakyat tercecer begitu saja di atas tanah, langsung menjadi bahan rebutan kawanan tikus gemuk yang bermata rakus.
Di atas realitas kelam itu, sebuah spanduk raksasa membentang megah di jalanan kota, seolah menampar ambisi besar bangsa ini: “Yakin Kita Sampai ke Indonesia Emas 2045?”
Napas Wahyu tercekat. Dada pria tua itu bergetar hebat menghadapi ironi yang telanjang. Retorika megah tentang “Indonesia Emas” yang menggema lantang dari atas podium mewah, mendadak terasa jauh panggang dari api. Nyatanya, di akar rumput, uang rakyat terus mengalir bocor tanpa ampun. Wahyu tahu dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia ingin menghias wajah bapak tua itu agar terlihat bahagia, namun dia sadar itu mustahil. Apa yang ada di depannya adalah realitas, bukan sebuah pertunjukan panggung sirkus yang bisa selesai saat tirai ditutup.
Malam itu, di depan cermin, bayangan masa lalu kembali menghantuinya. Wahyu teringat mantan rekan-rekan kerjanya di instansi dulu. Mereka yang memulai pengkhianatan dari hal-hal kecil yang dianggap lumrah: menyelipkan kuitansi kosong, menjual aset gudang tanpa izin meski hanya barang bekas, hingga memanipulasi anggaran perjalanan dinas. Kejahatan-kejahatan kecil yang perlahan menjelma menjadi monster raksasa.
Wahyu menatap pantulan matanya di cermin sekali lagi. Di tengah laporan kerugian negara tahun 2025-2026 yang membengkak mengerikan hingga lebih dari Rp.300 triliun, ada setitik kebahagiaan yang tersisa di hatinya yang sepi. Dia bangga, tangannya yang penuh noda cat ini, setidaknya bersih dari darah dan keringat rakyat yang diperas. Dia tidak menyesali kehidupannya baik saat aktif dan pensiun, kala pun hanyalah seorang perias karakter yang menyembunyikan wajahnya di balik tiang kayu. Namun dia bangga karena bukan bagian dari ‘Kabinet karung bocor’ .
Disudut kamar kontrakannya, sambil menanti istrinya Sulastri – 64 thn menutup warung pecelnya. Wahyu membuka televisi kunonya, penyiar sedang menyampaikan  beberapa berita kasus korupsi ;
1.Nadiem Markarim – lebih dari Rp. 1,5 triliun
2.Korupsi MBG – lebih dari Rp. 300 triliun; Rp.85,7 T pada 2025 dan Rp286 T 
3.Korupsi di Bea cukai – lebih dari Rp.78,8 Miliar
Wahyu sontak mematikan televisi, dan  terduduk dan berbisik pada keheningan.
“Di panggung, saya memalsukan wajah manusia menjadi  1000 wajah dan karakter beraneka. Tapi di luar sana, kerakusan telah mengubah manusia menjadi monster dan tikus tikus APBN  nyata , tanpa perlu bantuan riasan saya. Terima kasih Tuhan”
BERSAMBUNG
(Red-01/Foto.ist)

CATATAN REDAKSI :

Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Jumat, Tgl.3  Juli 2026  sejak hari Jumat, tgl. 1 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan PT. QCI –  yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf  ya atas segala ketidak-nyamanannya.

Ikan Hiu muter – muter, See U Later!

https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

===============

Tentang Koran Jokowi 4342 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan