“BABI SEDINGEN REJANG LEBONG & NEKARA DIGITAL SATIRE”
Suasana sore di Markas Besar Squad Fabelism Journalism (FABJOUR) di Jalan Prabusiliwangi No. 240865, Kota Bandung, mendadak berisik oleh suara langkah kaki yang berat. Pintu depan diketuk dengan ritme panik.Saya yang sedang bertamu pun ikut panik, satpam kantor masuk tergesa=gesa, “Ada apa kang?”, tanya saya. “Itu om, babi hutan yang tukang bawa tisu dari Kab.Rejong Lebong Bengkulu memaksa masuk”, “Ya suruh masuk lah, itu tamu jauh, sekampung dengan saya. Kami mmang sudah janji bertemu”, “Oh siap om!?”
Begitu pintu dibuka , sosok tambun yang tak asing lagi langsung menerobos masuk.”Assalamualaikum kakok, maaf saya ke toilet dulu”, sapanya sambil salam dan menaruh ransel di meja. Saya memaklumi karena dia memang babi hutan preman di hutan Kab.Rejang Lebong . Ya, siapa lagi kalau bukan SEDINGEN, yang sejak Mei 2026 menjabat sebagai Wamen Intelijen & IT.
Hampir 30 menit di toilet akhirnya SEDINGEN keluar dengan wajah cerah, “Maaf yo kakok, selama dibiskota saya banyak makan tahu gejrot, caberawit pula.Ehehe”, setelah dia duduk kami pun berdiskusi sambil ditemani kopi panas dan cemilan.Oh ya teman, SEDINGEN ini kalau pun wajah sangar namun dalam tas-nya selalu ada tisue, dia ini sebetulnya hewan sensitif jika ada hal hal yang menyedihkan suka menangis makanya dia selalu bawa tisue.
“Betul kabar, katanya kamu kena skors ibu presiden karena mencuri singkong?”, tanya saya. “Begini kakok, itu rumours jahat. Saya sebetulnya tidak mencuri singkong, namun saya memang ambil daun singkong untuk lalap, egh..singkongnya ikut, kok.Ehehe”, “Kamu panggil saya Kakok (Kakak), tapi ulah kamu tidak sopan.Saya jadi malu. Wajar jika kamu diskors dari kabinet”, ,…”Iya kok, maafkan saya jamin ini yang terakhir”, SEDINGEN menangis dan mengeluarkan tisue. “Oke, lalu apa urusanmu ke Bandung?”, “Saya hanya mau berceritera sama Kakok”, kemudian SEDINGEN menyerahkan sebuah buku kuno”, “Apa ini?”
Sedingen memperbaiki letak anting premannya, lalu mengelap sepatu boot yang penuh noda lumpur dengan tisue tadi.
“Kakok tahu era tahun 620–564 Sebelum Masehi? Di Yunani Kuno, Aisopos – seorang budak, sudah bikin fabel satire pakai tulisan papirus buat nyentil penguasa zalim. Nah, di Nusantara, waktu tulisan belum masuk, leluhur kita sudah punya media sendiri, Kok! Namanya Nekara Perunggu!” kata Sedingen berapi-api, sambil menyeka air mata haru dengan tisu baru.
“Betul, Kok! Dongson bukanlah nama sebuah kerajaan, melainkan nama sebuah kebudayaan zaman logam (perunggu) purba. Asal-usul nama Dongson diambil dari sebuah nama desa/situs arkeologi di Lembah Sông Hồng (Sungai Merah), Provinsi Thanh Hóa, Vietnam Utara. Di lokasi desa itulah para sejarawan pertama kali menemukan artefak-artefak logam prasejarah berteknologi tinggi. Kemudian menyebar hingga Jawa, Bali, sampai situs-situs purba di Sumatra dan Bengkulu! Di permukaan Nekara perunggu itu, nenek moyang memahat gambar burung, katak, gajah, hingga babi hutan. Itu bukan sekadar hiasan kosmetik, Kok! Itu adalah lembaran jurnalisme visual purba! Ketika manusia purba belum kenal Twitter atau koran, mereka berkumpul memukul Nekara untuk menyampaikan pesan moral, hukum adat, alarm bahaya, hingga protes kolektif melawan keserakahan kelompok lain yang merusak alam!”
Tiba tiba SEDINGEN kembali menangis meraung-raung, teringat nasib hutan Rejang Lebong. Dia menghabiskan setengah kotak tisu dalam waktu singkat. “Artinya apa, Kok? Sejak 2.500 tahun lalu, satwa-satwa seperti kami sudah menjadi simbol kebenaran dan alat kontrol sosial di atas perunggu! Kami ini warisan sejarah pertahanan alam! Kenapa sekarang kami malah dikejar-kejar senapan pariwisata berburu? Hiks… hiks…” , Saya mengangguk menepuk pundaknya. “Wah, cerdas juga analisis sejarahmu, Ngen. Kamu memang berbakat jadi Wakil Menteri.”
“Tentu dong, Kok! Makanya, kedatangan saya kembali ke Mabes Fabjour ini adalah untuk menitipkan sebuah harapan besar dari seluruh hewan di pedalaman Rejang Lebong,” ujar Sedingen sambil merapikan sisa-sisa tisu yang berserakan di atas meja.
Sedingen menatap tajam ke arah saya, “Kami berharap, dengan munculnya gerakan Republik Fabeliano yang digagas oleh kawan-kawan relawan di Koranjokowi.com sejak Mei 2026 ini, perjuangan kita tidak berhenti sebagai cerita fiksi lewat saja. Semoga, suatu waktu nanti ketika peradaban ini diarsip oleh anak cucu kita, Republik Fabeliano bisa diakui dan dicatat dalam sejarah peradaban Indonesia dengan nama: ‘Nekara Digital Satire’ Indonesia! Sebuah media massa modern yang memahat kebenaran antikorupsi lewat karakter hewan, demi mengetuk hati nurani manusia yang sudah mulai bebal.”
Suasana ruangan mendadak hening. Tetesan air kran di dapur Mabes Fabjour kembali terdengar dramatis.
‘Tes… tes… tes…’ SEDINGEN tersenyum lega, dan berbisik “Kakok kapan pulang ke Rejang Lebong?”, “Mungkin lusa masih ada urusan disini, kamu menginap dimana?”, “Saya mau numpang dirumah keponakan di Lembang”, saya mengangguk. ‘Pinjam seratus ribu,Kok”, katanya.
“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”
“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”
CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Selasa Tgl.18 Agustus 2026 sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.
Be the first to comment