#SahabatKPK!, “BOLELEBO.KAMI ADA UNTUK NTT!”

#SahabatKPK!,

“BOLELEBO.KAMI ADA UNTUK NTT!”

Secara geografis, Kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT) senantiasa dikepung oleh keberadaan puluhan gunung berapi aktif. Namun, rekam jejak antropologi mencatat bahwa sejak puluhan ribu tahun silam, para leluhur kepulauan ini tiada bergeming sedikit pun untuk menetap di sana. Mereka adalah para petarung alam sejati, perpaduan garis keturunan Melanesia, Austroasiatik, hingga imigran purba asal Taiwan (Austronesia). Menetapkan pilihan hidup berdampingan erat dengan ancaman bencana alam justru berhasil melahirkan peradaban yang tangguh: mulai dari budaya agraris yang magis, keindahan mahakarya tenun ikat, hingga penguasaan teknologi perkapalan tradisional yang menjelajah samudra.

Namun, ketangguhan itu kembali diuji. Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, NTT dihantam bencana gempa bumi tektonik dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,7 yang bersumber dari aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-arc Thrust). Guncangan masif ini melumpuhkan Pulau Flores dan sekitarnya, meruntuhkan rumah-rumah warga menjadi puing, merusak fasilitas terminal di lima bandara, serta menghancurkan Pelabuhan Maumere dan Reo. Sebanyak 69 korban jiwa dilaporkan meninggal dunia, ratusan luka-luka, dan lebih dari 5.000 warga kini terpaksa mendekam di tenda pengungsian darurat di tengah gempuran lebih dari 1.624 kali gempa susulan. Duka Flores adalah duka Indonesia, dan jeritan ini terdengar hingga ke Istana Republik Fabeliano. Bahkan squad Republik Fabeliano bidang pengamanan hewan pun sudah turun melakukan evakuasi tanpa diminta manusia. Namun jumlah korban dsb sengaja disimpan rapih sampai semua proses selesai.
.
Tanpa proses berbelit sebagaimana manusia,  Presiden Republik Fabeliano, Miss Pussy Noni yang tidak suka ‘banyak pidato  langsung bergerak cepat mengeluarkan dekret darurat. Atas inisiatif Sang Presiden, digandenglah pembantu kabinetnya, Menteri Muda Urusan Kuda Wilayah Timur: Kakak Sandel—sosok Kuda gagah asli NTT hasil campuran Ras Sandalwood, Timor, Flores, dan Sabu. Dan hanya dalam hitungan jam, kolaborasi ini berhasil menyelenggarakan acara akbar bertajuk “MALAM AMAL  BOLELEBO UNTUK  NTT” di Ballroom JCC, Jakarta, pada Minggu malam, 16 Agustus 2026.
.
Meskipun hajatan  ini digelar secara dadakan, darah “gotong royong” yang mengalir deras di tubuh anak-cucu NTT terbukti menjadi magnet yang magis. Mereka adalah manusia-manusia yang dibesarkan oleh falsafah solidaritas leluhur yang kental, seperti tradisi Gemohing(saling membantu menggarap ladang dan membangun rumah di Flores Timur), Wuat Wa’i(dukungan material keluarga besar di Manggarai untuk anak merantau),Wurumana(gotong royong meringankan beban kedukaan di Ende), hingga Madene (solidaritas tolong-menolong harian di Rote Ndao).
Hanya melalui modal undangan pesan berantai di grup WhatsApp, Ballroom JCC mendadak sesak dipadati lebih dari 700 orang. Mulai dari pejabat pusat dan daerah, barisan legislatif, pengusaha kakap, artis, atlet, seniman, hingga aktivis kemanusiaan dalam dan luar negeri hadir bersatu. Tiket undangan dadakan yang dibanderol Rp2,5 juta per orang pun langsung ludes terjual tanpa sisa. Hebatnya, seluruh biaya sewa tempat, sistem suara, katering, dan keperluan teknis lainnya yang mencapai hampir Rp1,7 miliar ditanggung penuh secara pribadi oleh kantong Presiden Miss Pussy Noni sendiri, tanpa mengusik sepeser pun APBN dari kabinet Republik Fabeliano.
Acara semakin memanas dan mengharukan saat sesi pelelangan barang-barang bersejarah dimulai. Artefak replika Fosil Tikus Raksasa purba asli Flores (Papagomys theodorverhoeveni) menjadi pembuka lelang. Satwa purba ikonik yang di masa hidupnya memiliki panjang lebih dari 40 cm dan berat di atas 2,5 kg ini diekskavasi dari lapisan tanah prasejarah purba berusia di atas 50.000 tahun. Replika tersebut sukses dilepas dengan penawaran fantastis senilai Rp10 miliar. Para donatur berebut karena mereka paham betul bahwa satwa pengerat berukuran anjing kecil ini adalah simbol orisinalitas ketahanan ekosistem Flores yang tidak luntur oleh zaman.
.
Tak berhenti di situ, replika imitasi fosil Gajah purba NTT  jenis Stegodon florensis dan Stegodon sompoensisyang pernah hidup lebih dari 50.000 tahun lalu di Cekungan Soa (Ngada) serta Pulau Sumba—hasil karya tangan terampil para seniman dan budayawan NTT—sukses laku terjual senilai Rp50 miIiar. Di zamannya, gajah purba kerdil ini memiliki tinggi bahu di atas 1,5 meter dengan berat menembus 800 kg. Klimaks lelang terjadi saat alat musik Sasando asal Pulau Rote yang diperkirakan telah digunakan sejak abad ke-7 Masehi milik seorang pengusaha Flores di Australia bernama Mister Komodo, yang diwakili oleh asisten pribadinya, Sis Loreng Leopard, berhasil diketok pada angka Rp8,5 miIiar.
Ditambah dengan sumbangan sukarela lain yang masuk malam itu senilai Rp10 miIiar, maka total dana Amal mencapai lebih dari Rp.80,25 miliar. Yang kemudian  diserahkan secara simbolis langsung kepada Kakak Sandel selaku perwakilan resmi dari masyarakat satwa dan relawan yang terdampak bencana di lapangan.
.
Saat memberikan sambutan, Presiden Miss Pussy Noni menegaskan : “Para hadirin sekalian, terima kasih atas kehadiran dan dukungan amalnya. Saya pastikan, uang para dermawan ini dikawal ketat tanpa boleh dikorupsi oleh siapa pun karena kami juga mengerahkan teman-teman dari KPK-K (Komunitas Pemberangus Korupsi Khewan). Bagi yang melanggar, kalaupun hanya satu rupiah, kami akan benamkan mereka di dalam lumpur hutan hingga satu minggu lamanya. Khusus pejabat pusat dan daerah kami tidak segan segan untuk hukum mati, negara kita tidak punya HAM, karena itu milik manusia. Saya bebas melakukan apapun untuk para koruptor , saya pastikan itu!”, hadirin bertepuktangan meriah.
“Saya bersama Kakak Sandel akan turun langsung memantau ke lapangan tanpa liputan media atau kamera jurnalis. Karena kita bukan manusia yang kerap memanfaatkan musibah atau bencana demi sebuah pencitraan. Kami juga akan menyebarkan ribuan CCTV untuk memantau para pekerja di lapangan sehingga semua bergerak dengan jujur, transparan, proporsional, dan profesional. Kami melarang siapa pun berbicara ke publik atau media, sehingga tidak ada lagi cerita pejabat atau menteri sibuk mengklarifikasi pernyataan salah sebagaimana sering dilakukan oleh pejabat manusia. Semua satu arah, satu visi-misi presiden: NTT HARUS BANGKIT DAN LEBIH BAIK PASCA-MUSIBAH!” tegas Sang Presiden. Mendengar pidato tersebut, sontak para hadirin berdiri dan memberikan tepuk tangan bergemuruh dan bukan sekadar tepuk tangan basa-basi alias ‘ASAL BAPAK SENANG’. 
 Menjelang Pkl.23.00, tiba tiba dikejutkan dengan berdatangannya para dubes hewan dunia. Mereka pun menyerahkan uang tunai lebih dari Rp20 miliar. Sehingga uang tunai malam itu terkumpul lebih dari Rp100 miliar. Kemudian, para hadirin diajak bernyanyi lagu Bolelebo untuk menggugah rasa cinta pada kampung halaman, diiringi langsung oleh petikan magis instrumen Sasando dari jemari Kakak Sandel. Sebagaimana diketahui, lagu Bolelebo adalah lagu wajib para perantau NTT yang sarat akan pesan persatuan. Liriknya yang mendayu indah menggunakan bahasa Rote, khususnya kalimat “Bolelebo, Nusa Tenggara, beta anak rantau e… biar tanah orang baik, tanah sendiri lebih baik,” sangat ampuh menyentuh sanubari terdalam. Ruangan ballroom seketika diselimuti suasana haru; banyak di antara para hadirin yang tak kuasa membendung air mata dan saling berpelukan erat.
Sebagai acara penutup dilakukan doa bersama oleh tokoh lintas agama dari Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Khonghucu, hingga Aliran Kepercayaan. Tepat Pkl.00.00 seluruh rangkaian acara selesai, namun mereka tidak membubarkan diri bahkan mereka terus menyanyikan lagu Bolelebo dengan nada lirih.  “Bolelebo, Nusa Tenggara, beta anak rantau e… biar tanah orang baik, tanah sendiri lebih baik.”, Presiden Miss Pussy menitikan airmata. Kakak Sandel menunduk.
(Red-01/Foto.Ist)
Tentang Koran Jokowi 4423 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan