“USAI KARHUTLA KEC.AIR SUGIHAN KAB.OKI, HUTAN LINDUNG MAU DIAPAIN?”
Kab.OKI, Tgl.6 November 2026.
Dari : Mat Wereng
Menteri Muda Urusan Hama Wereng Republik Fabeliano
Kepada Yth,
Koranjokowi.com
Cc; Presiden Rep.Fabeliano – Miss Pussy Noni
Sdri Samidi , Kord.Kab. OKI, Sumsel.
di tempat
Kecamatan Air Sugihan, koranjokowi.com – Mohon kiranya surat ini ditayangkan di Koranjokowi.com. Salam waras dari garis depan rawa gambut pesisir timur Kab. Ogan Komering Ilir, Sumatera selatan! Saya, Mat Wereng, kembali memimpin jutaan squadron rayap se Kab.OKI mengingatkan kembali Agustus 2026 lalu skuadron kami sempat menggebrak hanggar bandara lewat artikel viral “KAMI AKAN MUSNAHKAN PADI KAB.OKI!” yang menembus lebih dari 2.100 viewers, kini kami datang lagi bawa laporan yang tidak kalah membara.
Jika kemarin kami mengancam akan melakukan aksi demo besar-besaran karena geram melihat rencana jahat alih fungsi lahan TNK 24 sawah produktif seluas di atas 23.000 hektar menjadi monokultur kayu akasia, kali ini kami melihat bencana nyata pasca-karhutla. Kebakaran hebat kembali melahap sisa rawa gambut kami . Pertanyaannya sekarang: Usai karhutla padam, wilayah eks-hutan lindung dan sisa ekosistem pesisir OKI ini sebenarnya mau diapain?
.
Korupsi Dana Plasma Melenggang, Sawah Rakyat Ditumbalkan
Redaksi koranjokowi.com yang terhormat, manusia itu memang makhluk paling serakah yang pernah kami temui. Tengok saja kasus mega korupsi dana Pendapatan Asli Desa (PAD) hasil kerja sama sawit plasma dengan PT SAML di Desa Bukit Batu, Air Sugihan. Uang hak rakyat sebesar Rp9,6 miliar ditilep mantan Kades ABT untuk beli rumah mewah di Komplek Lavender, Jakabaring. Syukur alhamdulillah, Kejari OKI sudah melakukan sita eksekusi dan menjebloskan si oknum Kades ke penjara selama 7 tahun, menyusul Sekdes dan perangkatnya yang ikut mencicipi uang haram tersebut.
.
Tapi, apakah urusan selesai? Belum! Keserakahan manusia yang merampok dana plasma itu berbanding lurus dengan ambisi mereka yang mau menggusur sawah demi industri tanaman kayu.
Banyak pengamat luar daerah yang berlagak pintar dan bertanya: “Mengapa sisa lahan gambut bekas karhutla di Air Sugihan tidak dijadikan area pertanian terbuka saja untuk mendukung swasembada padi di Kabupaten OKI atau Sumsel?”
Heh, buka mata kalian! Kami, Skuadron Wereng, tahu betul rahasia alam ini. Menjadikan rawa gambut dalam korban karhutla sebagai persawahan massal adalah kebodohan kuadrat. Tanah di sini memiliki tingkat keasaman (pH) ekstrem di bawah 4. Butuh biaya pemupukan dan pengapuran yang tidak masuk akal untuk membuatnya produktif. Lebih bahaya lagi, jika drainase dipaksa digali untuk mengeringkan sawah, gambut akan mengalami subsidensi (amblas) dan menjadi bom waktu kering yang siap meledakkan karhutla bawah tanah yang jauh lebih mengerikan di kemarau berikutnya! Belum lagi ancaman konstan intrusi air asin dari muara laut yang siap membuat padi puso seketika.
.
Ada apa di Karhutla Kec.Air Sugihan
Sepanjang Oktober 2026, wilayah Air Sugihan menjadi salah satu fokus penanganan karhutla.Mengenai total luas lahan yang terbakar di Kecamatan Air Sugihan, pihak berwenang (BPBD dan Kementerian Kehutanan via SIPONGI) belum merilis luas lahan terbakar. Namun, sebagai gambaran tingkat keparahannya, Air Sugihan tercatat sebagai salah satu kecamatan dengan tingkat kebakaran tertinggi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Sebagai pembanding, di salah satu titik utamanya yaitu kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan, luas lahan yang terbakar saja sudah mencapai sedikitnya 294 hektare setelah sempat terbakar selama 40 hari hingga akhir Oktober 2026
.
Pada Selasa malam, 3 November 2026 sekitar pukul 20.30 WIB, terjadi kebakaran di area Cooling Tower (menara pendingin) pabrik PT OKI Pulp and Paper Mills di Dusun Sungai Baung, Desa Bukit Batu, Air Sugihan. Kebakaran berlangsung sekitar empat jam dan berhasil dipadamkan pada Rabu dini hari, 4 November 2026 sekitar pukul 01.00–02.00 WIB tanpa adanya korban jiwa.
Menjelang akhir Oktober 2026, Pemkab OKI menyiagakan ribuan personel dan puluhan posko karhutla karena masih adanya puluhan titik api yang mengepul di beberapa kecamatan, dengan penguatan program pencegahan seperti Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG) di beberapa wilayah Air Sugihan
Ultimatum Skuadron Wereng: Biarkan Kami Berebut Padi Secara Jantan!
Ingat, Air Sugihan ini bukan lahan kosong tak bertuan. Ada sekitar 1.800 hingga 2.000 KK transmigran bersejarah sejak 1981–1982 yang menggantungkan hidup di sini. Sawah di pesisir ini bukan sawah ecek-ecek; Air Sugihan adalah pahlawan yang menyumbang sekitar 180.000 hingga 190.000 ton Gabah Kering Giling (GKG) dari total 3,63 juta ton prestasi GKG Sumatera Selatan tahun 2025 lalu! . Dan ada peran besar para transmigran, pastinya. Lupa!?
.
Jika sawah-sawah ini dipaksa musnah diganti monokultur akasia pasokan PT.BAP, PT.BMH, dsb. Laluke mana ratusan ribu pasukan kami harus mencari makan? . Ingat wahai manusia , kami tidak terdaftar dan mengemis MBG. Namun, jika sawah hilang dan kami musnah, musuh alami kami seperti Tomcat, Laba-laba Sawah, dan Capung juga akan mati kelaparan karena ekosistemnya rusak total!
Oleh karena itu, lewat laporan lanjutan di koranjokowi.com ini, Skuadron Wereng menyampaikan ultimatum keras:
Stop Alih Fungsi Lahan Sawah:Biarkan kawasan pertanian Air Sugihan tetap menjadi sawah. Kami siap mengadu dan mengawal isu mafia tanah ini ke Kapolri melalui Polda Sumsel, Satgas Anti-Mafia Tanah Pusat, hingga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan!
Kembalikan Marwah Hutan Lindung: Sisa hutan lindung pesisir dan kawasan rawa gambut dalam pasca-kebakaran wajib direstorasi secara hidrologis (rewetting), pasang sekat kanal seperti keberhasilan zero-fire di Desa Jadi Mulya. Jangan jadikan karhutla sebagai alasan pembuat “pemutihan” lahan untuk diserahkan ke korporasi.
Buka komunikasi dengan masyarakat sekitar :Masyarakat adalah ‘tuan trumah’ karena mereka lebih awal ada dibandingkan para perusahaan Perusahaan pemegang konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) ; PT.BMH, PT.BAP dsb yang baru muncul sekitar thn.1990-200an, termasuk adanya komplek pabrik raksasa PT.OP-PM sekitar tahun 2016 untuk mengolah serat kayu dari HTI itu menjadi bubur kertas dan kertas.
Kami bersumpah akan menjaga piring nasi para petani Air Sugihan.
Manusia boleh menyebut kami hama, namun karena ada kami mereka bisa makan.
Kami akan terus bersama petani, kallian silahkan bertipu-muslihat saja.
(Seluruh karakter hewan dalam tulisan ini adalah personifikasi satire untuk ikut serta mengkampanyekan antikorupsi)
“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”
“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”
CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Jumat, Tgl. 6 November 2026 sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.
Be the first to comment