KE-ARIFAN LOKAL NYEPI LUH DAN NYEPI DESA ADAT ABABI KAB. KARANG ASEM BALI

KE-ARIFAN LOKAL NYEPI LUH DAN NYEPI DESA ADAT ABABI KAB. KARANG ASEM BALI

KoranJokowi.com, Kab.Karangasem, Bali : Desa Ababi terletak di  Kecamatan Abang  Kabupaten Karangasem Provinsi Bali,  yang  memiliki luas  10.85km2 dan terletak di atas ketinggian 570 diatas permukaan lau(MDPL) dan ber- suasana yang sejuk . Mata  pencaharian sebagian besar warganya adalah bertani, objek wisata taman Tirtagangga terletak di desa Ababi, tetapi banyak orang yang belum tahu bahwa Taman Tirtagangga merupakan bagian dari desa Ababi dan sekarang ada objek wisata Baru Maha Gangga Valley  yang begitu fenomenal di masa Pandemi juga terletak di desa Ababi.

Desa ababi mempunyai Budaya unik yang diwariskan secara turun temurun yaitu  Nyepi  Luh ( Predana) dan Nyepi Muani ( Purusa) yang wajib dilaksanakannya oleh warga desa adat Ababi , muani sinonim dari laki dan Luh berarti perempuan. Pelaksanaan kedua Nyepi Purusa dan Nyepi Luh juga berlangsung setiap tahun sekali, tetapi waktu pelaksanaannya berbeda.

Pelaksanaan  Nyepi Purusa dan Nyepi Luh mendahului dengan hari Nyepi dalam pergantian tahun baru Icaka. Demikian halnya pelaksanaan antara Nyepi Luh dan Nyepi Muani waktunya berbeda. Nyepi Luh dilaksanakan pada hari kajeng tilem sasih kapitu (bulan mati ketujuh perhitungan Bali) terkait dengan digelarnya upacara agama piodalan di Pura Kedaton Desa Adat Ababi, sedangkan hari Nyepi Muani dilaksanakan dalam tempo waktu sebulannya lagi tepatnya pada hari tilem sasih kaulu (bulan mati kedelapan perhitungan Bali).

AMATI KARYA ( tidak boleh bekerja)

Pelaksanaan hari Nyepi Luh baru di berlakukan keesokan harinya setelah puncak upacara piodalan di Pura Kedaton Desa  adat Ababi. Pelaksanaan Nyepi hanya diberlakukan kepada kaum wanitanya saja semua golongan umur. Kaum wanitanya wajib melakukan brata penyepian (larangan–larangan) tetapi tidak diberlakukan seperti larangan Nyepi pada umumnya di Bali, hanya dilaksanakan amati karya saja yaitu: tidak boleh bekerja baik itu keperluan ekonomi atau kerja sehari–hari dirumah, tidak berpergian diluar wilayah desa dan dilarang mengendarai kendaraan bermotor. Larangan tersebut hanya berlaku sehari (12 jam dimulai pada pagi hari sampai jam 5 sore) setelah kentongan Di Pura puseh di bunyikan , ini tanda mulai dan berakhirnya Nyepi.

Saat itu bagi kaum wanita warga Desa Adat Ababi yang baru menempuh mahligai rumah tangga, bertempat di Pura tersebut mereka langsung dikukuhkan oleh pengurus desa adat sebagai Krama Pengarep (anggota utama) baru Desa Adat Ababi.

Berbeda dengan Nyepi Luh, Nyepi Muani dilaksanakan terkait dengan digelarnya upacara agama  Odalan  di Pura Dalem. Pelaksanaan Brata (larangan) Nyepi Muani sama seperti Nyepi Luh, hanya Nyepi ini berlaku bagi kaum prianya saja dari semua golongan umur. Mereka melakukan brata penyepian sehari setelah puncak upacara di Pura Dalem, dan setelah melaksanakan persembahyangan bersama di Pura tersebut.

Dalam kaitannya dengan  sangsi adat  bagi masyarakat  yang melakukan pelanggaran brata penyepian adat Ababi, sampai saat ini belum ada sangsi2 atau norma2 yang mengatur yang tertuang dalam awig–awig (peraturan desa), karena memang belum pernah ada yang melanggar, kalaupun ada masyarakat yang terbukti melanggar hanyalah kena sangsi sosial saja.

Dan Masyarakat Desa Adat Ababi dalam mengapresiasikan brata penyepian di-ekpresikan dalam berbagai cara kegiatan sesuai dengan ajaran agama Hindu dan tradisi, berdiam diri masing-masing di rumah merenung mengintropeksi diri apa yang pernah dilakukan sebelumnya yang perlu diperbaiki untuk masa depan yang lebih baik lagi. Sehari setelah Nyepi aktivitas upacara di masing–masing Pura Kedaton dan Pura Dalem juga berakhir. Waktu tersebut digunakan oleh Warga Desa Ababi saling mengunjungi antar keluarga/kerabat untuk mempererat tali persaudaraan. ‘Salam Rahayu…(I gede Suparta, KoranJokowi.com Kab. Karangasem)

Sebelumnya,

TIRTAGANGGA KARANGASEM BALI , “SURGA KECIL KITA SEMUA !” – (1) | KORAN JOKOWI

Tentang RedaksiKJ 1421 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan