Selamat Ulang tahun ke-24 Kabupaten Tanggamus, Lampung :“PAK PRESIDEN JOKOWI TOLONG AJARKAN KAMI TENTANG KOMPROMI, AGAR DESA KAMI TIDAK TER-ISOLIR ”  – (4)

Selamat Ulang tahun ke-24 Kabupaten Tanggamus, Lampung :“PAK PRESIDEN JOKOWI TOLONG AJARKAN KAMI TENTANG KOMPROMI, AGAR DESA KAMI TIDAK TER-ISOLIR ”  – (4)

Koran Jokowi. Com, Tanggamus, Lampung : Bentuk tindakan sosial yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari pasti memilih jalan yang tepat dan nyaman, salah satu caranya adalah melalui kompromi. Dengan bertemunya pihak yang meminta adanya perubahan (warga desa) dengan pengambil keputusan (Pemkab Tanggamus) kemudian duduk satu meja, mengurai dan memberikan solusi itu akkan menjadi indah pada akhirnya, sebagaimana yang kerap dilakukan Presiden Jokowi, sejak menjabat walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta dan saat ini. Strategi Komunikasi Meja Makan. Uhuyy.

Sebelum memulai  jilid ke-4 ini, Redaksi merasa perlu menyampaikan informasi tersisa dari Tim KoranJokowi yang melakukan ‘Silahturahmi dengan warga desa di Kabupaten Tanggamus sejak (10/1) lalu.

Salah satunya tentang keberadaan Dermaga (besar, sedang atau kecil) , dermaga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk merapat dan menambatkan kapal yang akan melakukan bongkar muat barang dan menaik-turunkan penumpang, pembatas antara transportasi darat dan laut yang terbuat dari balok, pelat lantai dan tiang pancang yang mendukung bangunan diatasnya. Yang menjamin keselamatan penumpang dan para pemakai jasa transportasi air/laut ini, titik

.

Nah, yang tim temui untuk berlayar dari desa martanda, kecamatan pematang sawah,  menuju ke kota Agung dengan jarak tempuh selama 3 sampai 4 jam dengan tiket Rp.40.000/orang sepertinya jauh dari kelayakan, sedangkan di dermaga ini lah titik kumpul masyarakat yang keluar – masuk kabupaten dengan  menggunakan transportasi kapal kecil yang jauh dari jaminan keselamatan. Hal pahit pernah terjadi sekitar tahun 2019 lalu ada sebuah kapal karam di tengah laut syukur Alhamdulillah tidak memakan korban.

 

Sudah tidak terbilang kejadian serupa sejak tahun 2018 lalu baik yang di perairan Teluk Naga, Perairan Batu Tangkai, Perairan Teluk Semaka, dsb yang juga ada menelan korban warga desa sekitar. Kesemuanya sama, kapal tidak layak berlayar, iklim ekstrim, perlengkapan keselamatan minim dsb. Apakah harus kita diamkan?, bagaimana dengan tiket yang dijual Rp.40.000/orang adakah disana termasuk perlindungan asuransi kecelakaan untuk para penumpang?

Di dermaga itu, selain minim toilet juga jembatan penghantar penumpang menuju kapal pun tidak optimal bahkan boleh dibilang tidak ada. Namun warga desa pengguna angkutan ini  ‘menerima’ semua itu karena kebutuhan akan transportasi itu. Apakah harus kita diamkan, sampai kapan?,

Diantara Tim, di kapal itu juga membawa seorang ibu yang baru saja melahirkan dengan kondisi yang masih lemah turun dari sampan menggendong bayi yang masih merah. Ibu ini ditemani suami dalam keterpaksaan naik kapal ini, karena ini satu – satunya transportasi yang ada, titik.

Pada edisi sebelumnya telah Tim sampaikan bahwa di desa ini pula sinyal telepon/Hp demikian sulit apalagi untuk daring anak – anak sekolah,  mereka pun harus naik pohon hingga 4-5 meter tingginya. Dan, Tim terlalu ceroboh jika menyebut desa ini dengan sebutan  ‘Desa Ter-isolir’ dari layaknya sebuah desa, namun realita dilapangan demikian adanya. Termasuk minimnya jumlah tenaga guru yang PNS nya pun  satu sekolah hanya tiga orang dari semua tingkatan.

“Warga desa berharap kiranya Gubernur dan Bupati Tanggamus untuk segera  meninjau daerah kami yang sangat terisolir dengan jumlah 8 pekon yang ada di wilayah kecamatan Pematang sawa kabupaten Tanggamus Lampung, kami memerlukan insfrastruktur jalan layak sebagai akses jalan tembus ke kecamatan lainnya,  termasuk Lampu PLN dan jaringan sinyal telepon dan internet, dermaga dan kapal angkut yang layak , penambahan guru dan program bedah rumah yang rutin setiap tahunnya. Bahkan kami berharap Presiden Jokowi yang datang kesini, biar beliau tahu bahwa masih ada desa ter-isolir sedangkan anggaran dana desa kabupaten telah optimal”, demikian Mursid seorang warga sekitar saat bertemu di atas kapal kepada Tim KoranJokowi.com (Een H.Prayudha, Endang Ruwaliyana dan Sutrisno)

Kompromi adalah bertemunya keinginan warga desa dan pengambil keputusan (Pemkab Tanggamus) yang duduk satu meja, mengurai dan memberikan solusi agar menjadi indah pada akhirnya, itu harapan KoranJokowi.com.

Kompromi bukan komporsana – komporsini, Kompromi adalah bentuk tindakan sosial. Kompromi adalah bagian terkecil dari motto “Begawi Jejama” Kab. Tanggamus, yang berarti bekerja secara bersama-sama, karena masyarakat Tanggamus selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan dalam melaksanakan pekerjaan untuk membangun daerahnya.

‘Begawi Bejana,

Kompromi  kemudian akan indah pada waktunya,

bukan komporsana – komporsini.

‘Uhuuyy…

(Red-01/Ehp/Er)

 

Sebelumnya,

https://koranjokowi.com/2021/01/11/selamat-ulang-tahun-ke-24-kabupaten-tanggamus-lampung-masih-ada-sejuta-pekerjaan-rumah-menanti-bupati-tahun-2021-ini-1/

https://koranjokowi.com/2021/01/12/selamat-ulang-tahun-ke-24-kabupaten-tanggamus-lampung-masih-ada-sejuta-pekerjaan-rumah-menanti-bupati-tahun-2021-ini-2/

https://koranjokowi.com/2021/01/12/selamat-ulang-tahun-ke-24-kabupaten-tanggamus-lampung-papan-proyek-jalan-tidak-lengkap-mungkin-kurang-piknik-3/

 

Tentang RedaksiKJ 920 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan