Diary, Guntur Sukarnoputra 1944 – 2022 (16), MENGAPA SUKU DAYAK KALIMANTAN DI HUJAT !?

Diary, Guntur Sukarnoputra 1944 – 2022 (16),

MENGAPA SUKU DAYAK KALIMANTAN DI HUJAT !?

See the source image

KoranJokowi, Jakarta : Bila kita mengikuti berita-berita di media sosial melalui TV saat ini banyak sekali berita-berita yang viral dengan bermacam-macam topik. Anehnya berita-berita viral tersebut tayangannya dilakukan dengan berulang-ulang kali yang terus terang membuat penulis jenuh untuk mengikutinya. Anehnya lagi ada beberapa berita yang kejadiannya “konyol” tidak masuk akal dan membuat miris. Yang menjadi pertanyaan penulis adalah apa sebenarnya akar penyebabnya sehingga kejadian tersebut dapat terjadi. Misal saja berita seorang lansia tewas dikeroyok massa; Kapolri pecat 500 oknum-oknum polisi yang bermasalah atau “masuk angin”.

Belum lagi ada pejabat yang terlibat masalah narkoba dan yang paling menarik untuk penulis adalah adanya seorang calon Legislatif dari suatu partai politik tertentu yang bermasalah dengan komunitas suku Dayak di Kalimantan. Kasus ini menarik bagi penulis karena di era tahun 60-an dalam rangka Ibukota akan dipindahkan ke Palangkaraya Kalimantan Tengah penulis kerap berkomunikasi dengan komunitas suku Dayak Kalimantan Tengah yang datang ke Istana Merdeka bertemu dengan Presiden Sukarno.

Delegasi suku Dayak tadi biasanya berbincang-bincang santai dengan Bung Karno di teras belakang Istana Merdeka atau di ruang Hall Istana Merdeka tempat sidang kabinet dilaksanakan. Mereka juga menginap di Pavilion Istana Negara tempat tamu-tamu dari daerah menginap.

Oleh Kami sekeluarga mereka-mereka diperlakukan sebagai keluarga sendiri layaknya, terutama seorang perempuan Dayak yang berwajah cantik, tubuh semampai, kulit kuning langsat, pendek kata sempurna bernama Laura. Kita sekeluarga menyapanya dengan panggilan akrab Mbak Laura.

See the source image

Selain kita sering bertanya mengenai seluk-beluk kehidupan suku Dayak yang cara hidupnya ternyata kental dengan sifat gotong-royong, musyawarah dengan dipimpin oleh Ketua suku dan mengenai agama sebagian besar ketika itu masih menganut Animisme namun beberapa kelompok sudah menganut agama Kristen bahkan Islam.

Selain delegasi suku Dayak, tokoh Kalimantan Tjilik Riwut sering juga bertandang ke Istana Merdeka menemui Bung Karno. Tampaknya mereka akrab berbicara serius di kantor pribadi Presiden di ruang samping kanan Istana Merdeka.

Dari berita-berita yang penulis amati untuk apa sebenarnya sang caleg tadi harus mempersoalkan masalah makan babi; Kalimantan adalah tempat Jin buang anak dan lain sebagainya. Untuk diketahui di era Bung Karno (Orde Lama) daerah-daerah Ancol, Senayan masih merupakan daerah kumuh dan disebut sebagai tempat Jin buang anak. Akan tetapi dengan kepiawaian Bung Karno sebagai seniman dan Insinyur Teknik Sipil plus Arsitek daerah-daerah tadi “disulap” menjadi daerah wisata mancanegara yaitu proyek Ancol serta proyek Gelora Bung Karno dan Conefo (sekarang gedung MPR /DPR) yang tidak layak lagi disebut sebagai tempat Jin buang anak.

Indonesia Paru-Paru Dunia

Di dunia ini ada 3 negara yang secara kodrat Illahi menjadi paru-paru nya dunia yaitu : Indonesia, Kongo dan Brazilia. Karena hutan alaminya yang sangat lebat.

Di Indonesia pusat hutan tropis yang terbesar berada di pulau Kalimantan. Oleh sebab itu Bung Karno melarang keras adanya penebangan-penebangan hutan sekecil apapun di Kalimantan. Hutan tropis Kalimantan sejauh mungkin harus dipertahankan kelestariannya sepanjang masa.

Oleh sebab itu walaupun di desak-desak oleh pengusaha-pengusaha domestik maupun mancanegara agar pemerintah memberikan izin pengelolaan hutan (HPH) secara tegas ditolak oleh Bung Karno.

Jangankan di daerah Kalimantan di kawasan lain pun penebangan pohon dilarang oleh Bung Karno kecuali perkebunan Kayu Jati. Itupun dibatasi hanya untuk pohon-pohon Jati yang sudah berumur 20 tahun keatas.

Pernah terjadi di Jakarta daerah kawasan Merdeka Utara ketika kembali dari Bogor, Bung Karno melihat ada sebuah pohon Mahoni hilang dari tempatnya, langsung Gubernur Sumarno dipanggil dan diperintahkan agar menangkap pelakunya dan diseret ke pengadilan bila Ia seorang pejabat agar dipecat secara tidak hormat. Setelah diadakan penyelidikan ternyata yang memberikan perintah penebangan adalah seorang Camat di kawasan Merdeka Selatan yang langsung dipecat secara tidak hormat. Alhasil Indonesia sebagai negara paru-paru dunia tetap lestari di bawah kepemimpinan Bung Karno walaupun oleh lawan-lawan politiknya dan kaum Kolonialis yang bersangkutan dianggap bertindak otoriter dan diktator.

Begitu juga Kongo yang di bawah kepemimpinan tokoh muda Patrice Lumumba menjadi paru-paru dunia oleh ulah CIA demi kepentingan-kepentingan kaum kolonialis Amerika Serikat digulingkan sehingga kelestarian sebagai paru-paru dunia menjadi tidak menentu.

See the source image

Jadi sebenarnya saat ini dunia sudah kehilangan paru-paru dunia berupa hutan-hutan perawan yang lebat paling tidak di Indonesia dan Kongo sehingga terjadilah apa yang disebut sebagai pemanasan global yang berdampak macam-macam.

Seperti suhu yang menanjak; Polusi udara yang bertambah; Permukaan laut yang naik sehingga terjadi Rob akibat mencairnya gunung-gunung es di Kutub bumi dan lain sebagainya. Akibat hal-hal tersebut diatas Presiden Joko Widodo yang jebolan Insinyur Kehutanan paham benar risiko yang akan dialami umat manusia bila paru-paru dunia lenyap.

Oleh karena itulah saat ini Presiden berusaha sekuat tenaga untuk menghijaukan kembali wilayah Indonesia khususnya Kalimantan juga Sumatera agar pulih kembali menjadi hijau sehingga berfungsi lagi sebagai paru-paru dunia di masa-masa yang akan datang. Tidak mudah memang apalagi kondisi makro ekonomi Indonesia akibat invasi setan Siluman Covid-19 menjadi terganggu. Syukur alhamdulillah walaupun timbul varian baru Omicron secara makro ekonomi Indonesia menunjukkan kecenderungan membaik walaupun belum seperti yang diharapkan.

See the source image

Di samping adanya pembangunan-pembangunan infrastruktur bahkan pemindahan Ibukota ke Kalimantan Timur adalah bukti konkret bahwa Kalimantan pada umumnya bukanlah tempat Jin buang anak seperti apa yang dikemukakan oleh caleg dari suatu partai politik tertentu yang bernuansa keagamaan Ortodoks jauh dari pemikiran modern.

Apalagi menghujat suku Dayak seolah-olah mereka adalah manusia-manusia barbar yang belum mengenal kebudayaa. Benar-benar menggelikan bagi kaum patriotik Indonesia yang di dalam otak dan hatinya berkobar semangat man kind is one, kemanusiaan adalah satu.

288 etnis yang ada di Kalimantan sebenarnya mereka adalah satu yaitu bangsa atau etnis Indonesia. Etnis Nusantara yang akan bersatu kekal dan abadi di bawah panji-panji revolusioner Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sepanjang masa!

Jakarta 31 Januari 2022

Guntur Soekarno

Pemerhati Sosial

Lainnya,

Diary, GUNTUR SUKARNOPUTRA 1944 – 2022 (15), ” INDONESIA PILIH AMERIKA ATAU CHINA ” – KORAN JOKOWI

Tentang RedaksiKJ 3870 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

4 Trackbacks / Pingbacks

  1. R.A.DR.Ikke Dewi Sartika MPd, "SIlaturahmi Poiltik & Budaya ?" - KORAN JOKOWI
  2. Dr. R.A. Ikke Dewi Sartika, M.Pd, - KORAN JOKOWI
  3. Dr. R.A. Ikke Dewi Sartika, M.Pd, "SIlaturahmi Poiltik & Budaya ?" - KORAN JOKOWI
  4. Diary, Guntur Sukarnoputra 1944 – 2022 (17), TRAGEDI KEDELAI DAN MINYAK GORENG - KORAN JOKOWI

Tinggalkan Balasan