Kajitow Elkayeni, ” CUK NAN ! ” (KUSAPA CAK NUN)

Kajitow Elkayeni,

” CUK NAN ! ” (KUSAPA CAK NUN)

Cuk Nan

(Tulisan tahun 2019, semoga masih relevan)

Koranjokowi.com, OPini :

-Sebelumnya terima-kasih atas keringanan hati senior kami, Mas Kajitow Elkayeni yang telah sudi menghibahkan tulisan kerennya kepada Koranjokowi.com, mohon ijin & maaf jika ada beberapa yang kena ‘editing, semoga tidak mengurangi rasa hormat kami dan mengurangi pesan yang disampaikannya, InsyaAllah. Check it dot –

Emha alias Markenun, atau Cak Nun bukan siapa-siapa. Maksud saya, dia memang terkenal. Pinter omong. Tapi sejatinya bukan siapa-siapa. Boroknya juga naudzubillah banyak sekali. Salah satunya, sundal yang memidanakan penyair Saut Situmorang dulu, pernah terlibat hubungan dengannya. Tak perlu saya jelaskan lebih jauh. Pamali.

Ini ghibah? Boleh jadi. Tapi ini sebenarnya lebih tepat disebut “nyawang kahanan”. Penting untuk diceritakan. Karena semakin hari, begitu banyak orang yang “menyembahnya”. Generasi ompol yang hanya melihat kegagahannya di atas panggung. Mereka yang tidak mencatat kebejatan demi kebejatan nabi baru itu di masa lalu.

Markenun tiba-tiba menjadi sosok anti kritik. Sementara ia bebas menghina siapa saja. Mungkin generasi ompol tadi yang membuatnya demikian. Markenunnya sendiri mungkin tidak terlalu. Meskipun dulu konon pernah ngamuk juga sewaktu ada kritikan atas tingkahnya, saat membatalkan acara seenaknya.

https: img.okezone.com content 2021 05 23 337 2414156 uas-dan-cak-nun-akhirnya-bertemu-setelah-sekian-lama-saling-kagum-V2ntVhLq4q.jpg

Saya tidak pernah bisa menghormat pada Markenun. Kualitas tulisannya juga biasa saja. Kalau tidak boleh dibilang sering muter-muter. Bukan ciri khas pemikir, intelektual. Bahkan ada yang mengatakan, dia itu sebenarnya kuat di puisi. Tapi dunia sunyi itu malah ditinggalkannya. Tidak ada yang bisa kenyang dengan puisi. Mungkin Markenun sadar itu. Ngomyang di atas panggung jauh lebih menjanjikan.

Di sanalah, suami mantan artis itu tiba-tiba menjelma kiai. Jual omong, omong dan omong.

Levelnya tak jauh dari Dus Nur sang pengibul. Atau mirip Opick juragan drama poligami. Sekadar penghibur dengan embel-embel misi suci dakwah. Padahal dakwah mestinya tak boleh pasang tarip.

Seseorang memang bisa bertobat. Yang jika dulu bejat dan ngencuk sesukanya, tiba-tiba balik arah jadi pribadi yang saleh. Dosa tentu urusan Tuhan. Niat baik dan tekad untuk tidak mengulangi yang terpenting. Namun yang paling utama, tahu diri.

Orang-orang yang melakukan kesalahan besar di masa lalu, semestinya tak merasa lebih suci. Menasehati orang, pengin dituakan, harus berangkat dari perasaan tahu diri ini. Saya yakin Markenun salah satunya. Tapi kalau dia tidak termasuk, karena memang belum tobat, itu juga urusan dia.

Rendra adalah contoh orang yang tahu diri. Masa lalunya yang jahiliyah menjadi cermin baginya. Ia memang seorang guru bagi murid-muridnya. Dianggap sebagai begawan. Serba linuwih. Tapi ketika salat, ia memilih berdiri sebagai makmum. Rendra tahu diri. Bahwa untuk menjadi imam, pemberi nasehat, sebisa mungkin sosok yang bersih lahir hatin. Dan Rendra melihat itu ada pada muridnya.

Mestinya sebagai guru, begawan, yang lebih dituakan, ia lebih dari pantas untuk mengimami. Penghayatannya yang mendalam terhadap agama dan keislaman, sulit ditandingi. Meskipun ia memang seorang mualaf. Soal bacaan fasih juga bisa dilatih. Tapi itu tidak dilakukannya. Rendra tahu diri.

Markenun memang bukan Rendra. Urusan jahiliyah mungkin tak jauh beda. Tapi Markenun dibesarkan dalam tradisi keislaman yang kuat. Meskipun pemahaman mendalam soal agama memang perlu dibuktikan lebih dulu. Terutama penguasaan kitab kuning. Sependek ingatan saya, belum pernah melihat itu. Bisa jadi saya salah.

Mungkin karena itulah ia merasa pantas menjadi kiai. Atau seseorang yang dianggap penting di atas panggung dan dimintai nasehat.

guntur romli - cak nun - anies baswedan - firaun [[Twitter/Reiza_Patters]]

Saya kira, mau menjadi apapun itu urusan Markenun. Toh mualaf seperti Felix yang minim ilmu saja bisa jadi ustad. Aa Gym yang nyaris nol pemahamannya soal agama saja jadi tokoh agama sundul langit. Apalagi Markenun yang sedikit-banyak pernah ngaji.

Namun yang membuat saya khawatir di sini adalah pemujanya. Mereka yang menganggap Markenun porselen licin. Indah sekaligus rentan. Oleh sebab itu mereka menjaganya mati-matian. Ada sedikit saja kritik, maka akan diminta tabayun saat maiyahan. Itu artinya, pengkritik masuk ke sana dan ditertawakan ulama sofis itu di kandangnya.

Mestinya, melihat Markenun ya sewajarnya saja. Sedikit takjub bolehlah. Tapi apapun yang dilakukan dan diucapkan Markenun, bukan pembenaran yang sahih. Setiap kita harus menjaga jarak dari mengkultuskannya. Ia hanya seorang penghibur. Seniman yang memilih mentas tengah malam. Ada bumbu agamanya memang. Tapi bukankah itu komoditas yang paling laku?

Tetap biarkan Markenun menjadi manusia biasa. Bukan nabi. Bukan orang suci. Bukan begawan agung yang ludahnya mematikan. Ia hanya seorang Markenun. Baiknya banyak. Buruknya juga banyak. Oleh sebab itu tak perlu kagetan, gumunan, ngowohan. Tak ada sedikitpun yang kultus dalam dirinya.

Jangan sampai nanti, akibat ulah pemuja fanatiknya, Markenun berubah jadi lebih menjengkelkan. Saat itu, sebutan Cak Nun juga mesti ikut berubah supaya serasi, Cuk Nan misalnya…

Kajitow Elkayeni

(Red-01/Foto.ist)

Lainnya,

MEGAWATI PEREMPUAN PETARUNG 1986 – 2023 : DIANTARA  JOKOWI, PUAN & GANJAR.

Tentang RedaksiKJ 3342 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan