Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Damai dan Sejahtera untuk para hewan air, pohon, udara, dan darat di mana pun kalian berada.
Sebelumnya, kami atas nama keluarga besar Republik Fabeliano mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Koranjokowi.com yang selalu sudi menyediakan ruang bagi suara kami—ruang yang pastinya tidak akan kami temukan di tempat lain. Hanya Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang mampu membalas kepedulian tulus kalian yang konsisten mengawal kami sejak tanggal 4 Mei 2026 lalu.
Teman-teman, perlu kalian ketahui sebuah fakta ilmiah terpercaya. Peneliti legendaris Dr. Terry Erwin, ilmuwan asal St. Helena, California, Amerika Serikat, pada tahun 1980-an melakukan riset menggunakan teknik canopy fogging (pengasapan kanopi ramah lingkungan) di hutan tropis. Hasilnya mencengangkan: hanya dari satu spesies pohon tunggal, beliau menemukan lebih dari 1.200 spesies kumbang (Coleoptera).
Kini mari kita lihat rumah kami di Hutan Kalimantan. Surga biodiversitas ini didominasi oleh keluarga pohon raksasa Dipterokarp (seperti Meranti, Keruing, dan Kapur) yang menjulang setinggi 50–80 meter, menciptakan struktur kanopi berlapis yang sangat luas. Di atas sana, para ilmuwan mencatat ada ribuan individu serangga yang mendominasi, mulai dari ordo Hymenoptera (semut dan tawon hutan) hingga Diptera (lalat hutan dan nyamuk).

Berdasarkan data ekologi hutan alam (hutan primer) di Kalimantan, dalam 1 hektar tanah minimal ditumbuhi oleh 500 pohon dewasa. Jika kita menggunakan estimasi moderat bahwa rentang tajuk dan perakaran 1 pohon dewasa menjadi rumah bagi sedikitnya 500 individu serangga dan mikroorganisme, maka dalam 1 hektar terdapat minimal 250.000 individu makhluk hidup yang tinggal saling bergantung.
Mari kita hitung secara matematis bencana yang sedang terjadi saat ini. Berdasarkan basis data resmi SiPongi Kementerian Kehutanan, luas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di pulau Kalimantan sepanjang periode Januari hingga Juni 2026 saja telah menembus angka 57.081 hektar.
Jika 57.081 hektar tersebut dikalikan dengan estimasi 250.000 individu makhluk hidup per hektar, hasilnya adalah 14.270.250.000 (>14,2 Miliar) individu kehidupan yang rumahnya hangus terpanggang abu! Angka ini belum termasuk jutaan burung, reptil, dan mamalia yang bernasib sama akibat kebakaran yang terus meluas di sepanjang bulan Agustus ini.

Maka dengan segala hormat, serta dipenuhi rasa tanggung jawab yang mendalam atas nasib miliaran penghuni hutan yang kini menjerit kesakitan di Kalimantan, Sumatra, dan wilayah lainnya, saya — Miss Pussy Noni, Presiden Republik Fabeliano — atas nama seluruh warga hewan, tumbuhan, dan makhluk hidup yang menjaga ekosistem hutan 24 jam sehari tanpa henti, menyampaikan permohonan terbuka kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk sesegera mungkin me-nonaktifkan atau mereshuffle Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni.
Adapun tuntutan mundur ini kami layangkan berdasarkan rincian rapor merah dan kegagalan kebijakan sebagai berikut:

📊 ALASAN PERTAMA — LUASAN KEBAKARAN HUTAN MASIF DAN GAGAL DIMITIGASI
Sejak Anda dilantik memimpin Kementerian Kehutanan pada akhir Oktober 2024 hingga posisi bulan Agustus 2026 ini—atau hampir 2 tahun masa kepemimpinan Anda—rapuhnya sistem pencegahan Karhutla terlihat sangat nyata di lapangan.
Data resmi mencatat bahwa pada tahun 2024, luas karhutla nasional membengkak hingga mencapai 915.221 hektar. Alih-alih menurun drastis melalui program mitigasi gambut yang responsif, memasuki periode berjalan tahun 2026 ini, luasan area yang hangus terbakar secara nasional hingga pertengahan tahun saja sudah melesat menembus 107.465 hektar, di mana wilayah Kalimantan menjadi penyumbang luasan terbesar. Jika ditotal secara akumulatif dalam siklus kepemimpinan belakangan ini, ada ratusan ribu hektar paru-paru hijau dunia yang musnah, memicu kerugian ekonomi nasional serta kerusakan ekologis bernilai triliun rupiah!

Angka kerusakan yang terus meroket tinggi ini adalah bukti otentik dari lemahnya sistem deteksi dini (early warning system), lambatnya koordinasi pemadaman di tingkat tapak, serta ketidakmampuan kementerian dalam mengeksekusi kebijakan penegakan hukum perlindungan hutan yang progresif.
📊 ALASAN KEDUA — TRAGEDI KETIDAKADILAN EKOLOGIS: TIADANYA DATA KORBAN MAKHLUK HIDUP
Miliaran nyawa makhluk hidup ciptaan Tuhan — mulai dari serangga tanah, pengurai hara, reptil, hewan air, burung-burung berkicau, hingga mamalia besar penjelajah hutan — tewas terpanggang secara mengenaskan, kehilangan habitatnya, atau terpaksa punah seketika akibat bencana karhutla ini. Namun, apa yang dilakukan oleh birokrasi Anda? Hingga hari ini, TIDAK ADA SATU PUN DATA RESMI yang dirilis oleh kementerian mengenai berapa jumlah korban nyawa satwa yang gugur di medan api!

Jika selama ini Kementerian Kehutanan mampu mencatat kerugian materiil berupa nilai kubikasi kayu dan tegakan pohon komersial dengan sangat rapi menggunakan angka rupiah. Namun, nyawa dari penghuni asli hutan — makhluk yang sebenarnya paling berhak atas tanah adat hutan tersebut — dianggap tidak berharga, diabaikan, dan dianggap berangka nol. Ini adalah bentuk ketidakadilan ekologis (ecological injustice) nyata yang dipertontonkan oleh negara. Bagaimana mungkin Anda mengklaim bisa menjaga hutan jika jumlah penghuni aslinya saja tidak pernah Anda data dan ketahui nasibnya?
📊 ALASAN KETIGA — YANG MENJAGA HUTAN 24 JAM ADALAH KAMI, BUKAN MANUSIA BIROKRAT
Para pejabat, polisi kehutanan, dan menteri di dunia manusia hanya bekerja sesuai jam kantor, dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Setelah itu mereka pulang ke rumah yang nyaman, tidur di kamar ber-AC, dan menikmati jaminan fasilitas serta tunjangan negara. Sebaliknya, KAMI — para hewan, burung, serangga, dan pepohonan — menjaga benteng hutan ini selama 24 JAM NONSTOP! Siang, malam, subuh, cuaca hujan, maupun kemarau ekstrem, kami tetap berdiri setia di tanah ini. Kamilah yang menyebarkan biji-bijian secara alami untuk meregenerasi alam, mengendalikan hama secara biologis, menjaga keseimbangan mata air, serta menjadi pabrik produsen oksigen bagi napas kehidupan seluruh rakyat Indonesia.

Namun ironisnya, saat bara api kiriman keserakahan manusia datang, kamilah yang pertama kali terbakar hidup-hidup. Kamilah yang kehilangan rumah, anak-cucu, dan masa depan. Jika makhluk yang berada di garis depan terus dikorbankan tanpa henti, sementara pejabat yang memegang otoritas anggaran tidak mampu menghentikannya, maka secara moral jabatan menteri itu harus segera diserahkan kepada sosok yang jauh lebih peduli dan kompeten!
🪶 KESIMPULAN & PERMINTAAN MUTLAK
Berdasarkan tiga landasan objektif di atas, saya — Miss Pussy Noni, Presiden Republik Fabeliano — secara resmi, tegas, dan tanpa kompromi meminta Raja Juli Antoni untuk mundur dari jabatannya sebagai Menteri Kehutanan RI.
Bencana Karhutla berulang ini bukan sekadar faktor anomali cuaca semata—ia adalah akumulasi dari kelalaian birokrasi, ketidakpedulian administratif, serta ketidakmampuan dalam memimpin manajemen krisis kehutanan. Jika dalam masa kepemimpinan Anda kurva kerusakan ekosistem ini tidak mampu ditekan secara signifikan, maka sudah tidak ada lagi alasan etis dan moral bagi Anda untuk tetap bertahan di kursi kekuasaan. Dan ingat Hutan Indonesia tidak membutuhkan sosok menteri yang hanya bekerja di balik meja komputer pada jam kantor. Hutan ini membutuhkan perisai pelindung yang berakar kuat di lapangan selama 24 jam penuh — seperti kami.
Dan jika pemerintah Republik Indonesia tetap mempertahankan Menhut seperti ini, entah berapa miliar hewan serangga dan lainnya yang akan menjadi korban barunya.
‘Agh, sudahlah!
Ikan hiu muter-muter, See U Later!
Hormat Kami,
🐱 Miss Pussy Noni
Presiden Republik Fabeliano
(Menyuarakan jeritan hati miliaran satwa yang gugur terbakar dan tak pernah dianggap ada oleh negara)
BERSAMBUNG
(Red-01/Foto.ist)
#sahabatKPK! | @squad-sahabatkpk | #fabelismJournalism | #Fabjour I #RepublikFabeliano
(Seluruh karakter hewan dalam tulisan ini adalah personifikasi satire untuk ikutserta mengkampanyekan antikorupsi)







“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”
“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”


CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Senin, Tgl.25 Agustus 2026 sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.
Ikan Hiu muter – muter, See U Later!



https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

============
Be the first to comment