Budi D.Ginting. #RepublikFabeliano.”Pesan Panglima Kraken & HUT RI ke-81 di Desa Sampali,Sumut”

 

Budi D.Ginting.#RepublikFabeliano.

Pesan Panglima Kraken & HUT RI ke-81 di Desa Sampali,Sumut”

Assalamualaikum wrwb, alhamdulillah saya , Panglima Kraken merasa bangga dan bersyukur acara perayaan HUT RI Ke-81 di ditanah adat BPRPI Kampong Jati Rejo Sampali Blok A & E, Dusun Jatirejo, Desa Sampali, Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara telah berjalan baik. Terimakasih kepada Ketua Panitia Sdr.Sunardi yang didukung Ibu Kartini, Ibu Eka, Hidayat, M.Icsan, Fauzi dan seluruh warga. Semoga kegiatan ini menjadikan kekuatan lahir bathin warga untuk melakukan aktifitasnya kembali.

Ada beberapa pesan saya yang mungkin banyak warga belum tahu tentang sejarah tanah adat yang kita diami ini, diantaranya;

“Tanah yang kalian pijak hari ini bukanlah tanah kosong. Di bawah lapisan kesuburannya, mengalir darah para pejuang yang tak pernah tunduk pada meriam Belanda maupun sangkur Jepang.”, mereka adalah :

A.TOKOH MILITER

Mayor Bedjo (kemudian berpangkat Brigjen)
Ia adalah pahlawan lokal legendaris Sumatra Utara yang memimpin Brigade B (pasukan yang dikenal sangat ditakuti Belanda). Berlatar belakang pemuda keturunan Jawa kelahiran Deli (sering disebut Pujakesuma), Mayor Bedjo menjadikan wilayah perkebunan Sampali, Saentis, dan Percut sebagai basis garis belakang pertahanannya. Pasukan Bedjo inilah yang gencar melancarkan serangan gerilya tak terduga ke pos-pos Belanda di pinggiran Medan Timur.
 

Jenderal Ahmad Tahir
Pada masa Pertempuran Medan Area (1945), Ahmad Tahir masih berusia sangat muda (di bawah 30 tahun) namun berhasil mengorganisir para pemuda ke dalam TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Sumatera Timur. Ia adalah otak di balik koordinasi taktis yang menetapkan wilayah Deli Serdang—termasuk Sampali—sebagai benteng pertahanan luar untuk membendung perluasan wilayah kekuasaan tentara Sekutu dan NICA (Belanda).
 

Kapten Payung Bangun
Salah satu perwira militer dari kalangan pejuang Karo yang aktif bergerak di komando militer wilayah Sumatra Timur dan Tapanuli bersama Mayor Bedjo. Ia memimpin pergerakan taktis militer di sekitar daerah penyangga Medan.
 

B.LASKAR RAKYAT NON-MILITER
Selain tentara resmi, pertempuran di Sampali didominasi oleh Badan-Badan Kelaskaran yang diisi oleh buruh perkebunan, pemuda setempat, dan warga sipil:

Laskar NAPINDO (Nasional Indonesia): Ini adalah basis masa rakyat terbesar di daerah perkebunan Sampali dan sekitarnya. Mereka terdiri dari para pemuda rakyat yang mempersenjatai diri dengan kelewang, bambu runcing, dan senjata rampasan. Merekalah yang sehari-hari menjaga garis demarkasi dan melakukan sabotase terhadap patroli Belanda.

Warga Desa Penggerak Peristiwa “Titi Runtuh”: Tokoh-tokoh informal seperti kepala kampung dan pemuda desa di perbatasan Sampali-Bandar Setia berperan penting dalam mengeksekusi perintah peperangan. Tanpa nama mereka yang tercatat satu per satu di buku sejarah nasional, gotong-royong rakyatlah yang berhasil meledakkan dan meruntuhkan jembatan (Titi Runtuh) menggunakan bahan peledak seadanya demi menghentikan tank-tank lapis baja Belanda. 

MASA KESULTANAN
Jika menarik sejarah lebih jauh ke belakang ke abad ke-18, perkebunan Sampali merupakan wilayah penting bagi Kesultanan Serdang.

Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah (Sultan Serdang I): Beliau wafat pada tahun 1782 saat mempertahankan kedaulatan kerajaannya. Ibunda beliau (Tuanku Ampunan Sampali) bertempat tinggal di wilayah Sampali. Sebagai bukti sejarah rakyat, Situs Makam Sultan Serdang I ini masih berdiri dan dirawat di tengah-tengah kawasan Perkebunan Sampali hingga hari ini. 

Gabungan antara taktik militer dari Mayor Bedjo serta keberanian laskar pemuda rakyat setempat membuat Sampali tercatat sebagai salah satu daerah perimeter luar Medan Area yang paling sulit ditaklukkan oleh Belanda pada masa itu.
“Dusun Jatirejo ini,” lanjut sang Panglima, “tidak hanya dijaga oleh pagar-pagar pembatas. Dusun ini dikawal dan diawasi oleh ruh-ruh hewan purba pelindung alam serta arwah para pejuang kemerdekaan yang rohnya tetap menyatu dengan tanah ini. Mereka mengawasi setiap gerak-gerik kalian.”
Oleh karena itu, di momentum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 ini, Panglima Kraken menitipkan mandat keramat bagi seluruh warga Desa Sampali: jaga baik-baik tanah warisan ini. Hidup rukun, pelihara kedamaian, kedepankan toleransi di tengah keberagaman, dan tetap berada dalam satu komando yang solid.
Segala langkah pergerakan, advokasi, dan perjuangan warga di bawah langit Jatirejo kini dikoordinasikan secara melekat di bawah komando Saudara Budi D. Ginting, selaku Koordinator KoranJokowi.com sekaligus SahabatKPK Wilayah Sumatera Utara yang memang hidup dan tinggal menyatu di tengah warga Dusun Jatirejo.
Mata sang Panglima Kraken menatap tajam ke arah bentangan tanah Dusun Jatirejo. Makhluk purba penjaga tanah Sampali itu tahu betul, sejarah tidak boleh dibiarkan menguap begitu saja seperti embun pagi di atas daun tembakau. Sebelum kembali menyelam ke dalam keheningan sejarah, ia membentangkan tentakelnya, menunjuk dua simbol peradaban yang kini menjadi impian dan idaman terbesar warga sekitar.
“Ada dua amanah fisik yang harus kalian wujudkan di tanah keramat ini!” seru Panglima Kraken dengan suara menggelegar.
Pertama, peresmian secara formal wilayah ini sebagai DUSUN PANCASILA JATIREJO. Panglima Kraken melihat keindahan yang nyata di tempat ini: sebuah harmoni kehidupan di mana menara Masjid, salib Gereja, dan atap Klenteng berdiri berdampingan di bawah langit yang sama. Keberagaman multi-etnis dan multi-agama di Jatirejo bukanlah kelemahan, melainkan perisai terkuat. Menjadikannya Dusun Pancasila adalah bentuk pengakuan bahwa di tanah ini, toleransi bukan sekadar slogan, melainkan napas hidup sehari-hari yang harus dipayungi hukum dan dihormati semua pihak.
Kedua, pembangunan TUGU PERJUANGAN RAKYAT SAMPALI. Sang Panglima Kraken merasa sangat penting bagi negara dan daerah untuk mendirikan tugu ini. Alasan utamanya jelas: Sampali adalah palagan darah dan keringat. Sangat miris ketika situs sejarah seperti Titi Runtuh sempat terabaikan, sementara sisa-sisa perjuangan masa lalu belum memiliki penanda fisik yang layak di dalam desa. Tugu ini bukan sekadar tumpukan semen dan batu, melainkan sebuah simbol pengingat bagi generasi muda bahwa tanah tempat mereka berpijak dipertahankan dengan nyawa. Tugu ini akan menjadi kompas moral agar warga tidak mudah dipecah belah oleh kepentingan sepihak.
“Dua hal ini adalah fondasi masa depan Jatirejo,” pungkas Panglima Kraken. “Dusun Pancasila akan menjaga kedamaian batin dan sosial kalian, sementara Tugu Perjuangan akan menjaga ingatan sejarah kalian. Rawat impian ini bersama Saudara Budi D. Ginting, tegakkan solidaritas, dan pastikan suara dari akar rumput Sampali ini terdengar hingga ke pusat kekuasaan!”

“Pelihara solidaritas kalian. Jangan biarkan adu domba memecah belah kekompakan yang sudah lama dirajut. Jaga kondusifitas warga, karena benteng terkuat Jatirejo bukan pada senjata, melainkan pada persatuan kalian yang bulat di bawah satu garis koordinasi,” pungkas Panglima Kraken sebelum kembali menyelam ke dalam lanskap sejarah Sampali, meninggalkan pesan yang harus tertanam kuat di sanubari setiap warga. Merdeka!

(Red-01/Foto.ist)

#SahabatKPK!, “SURAT TERBUKA : MEMANG ADA SANKSI UNTUK PEJABAT YANG  NGAMEN !?”

Tentang Koran Jokowi 4429 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan