SEHARUSNYA ‘WARU’ KALAH DI PILKADA KOTA METRO, BUKAN PDI-P !

SEHARUSNYA ‘WARU’ KALAH DI PILKADA KOTA METRO, BUKAN PDI-P !

Koranjokowi.com, Bandung: Dalam rilis KPU Juli 2020 lalu terdapat 687 bakal pasangan calon kepala daerah yang mendaftar sebagai peserta Pilkada serentak 2020, di 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Diantaranya ada 201 bakal paslon independen tingkat kabupaten/kota dan 2 bakal paslon independen tingkat provinsi. Namun setelah rekapitulasi dukungan pada 21 – 23 Juli 2020, jumlah itu turun drastis. Dari pleno rekapitulasi secara berjenjang tersebut, hasilnya adalah terdapat 23 bakal pasangan calon bupati dan wakil bupati/wali kota dan wakil wali kota  jalur independen yang dinyatakan telah memenuhi syarat minimal dukungan dan sebaran.

Termasuk yang lolos adalah  pasangan Wahdi Sirajuddin-Qomaru Zaman (WARU) No.urut-1 sebagai calon Walikota dan wakil wali kota Metro Lampung dengan LADK (Laporan Awal Dana Kampanye) sekitar Rp.501.000.000 dari jalur independen, dimana lawannya adalah Anna Morinda-Frits Akhmaf Nuzir (No.4) tercatat sebesar Rp929.610.000. Dana tersebut berasal dari dana pribadi Rp609.360.000 dan sumbangan perseorangan Rp.320.250.000, kemudian pasangan Mufti-Saleh nomor urut 02 dan  Ampian-Rudy nomor urut 03 LADK-nya sekitar Rp.250-600 juta.

KoranJokowi.com, Aliansi wartawan Non-mainstream (Alwanmi) dan Alumni Kongres Relawan Jokowi (AkarJokowi) 2013 sejak jauh hari telah mengamati ini semua, kemudian ‘hati pun jatuh kepada pasangan WARU. Simpati boleh saja, oleh dan untuk siapa saja.

Ada keinginan ‘perubahan politik’ di Kota Metro yang terbagi atas 5 kecamatan itu, saya ingat bagaimana relawan dan arus bawah semangatnya mirip saat Pilkada DKI Jakarta tahun 2013 lalu. Total football. Dan entah ada kaitannya atau tidak namun kemudian WARU memperoleh suara yang signifikan yaitu 28.255 suara (29,1%), disusul .Anna Morinda-Fritz Akhmad Nuzir – 27,8 %,  Ampian Bustami-Rudy Santoso (ABDY) – 23,4% dan pasangan Mufti Salim-Saleh Chandra dengan perolehan suara 19.131 suara atau 19,7%.

Taktik gerilya khususnya di Lumbung suara basah pun berhasil diraih WARU yaitu di Kecamatan Metro Pusat dengan 8.444 suara, Metro Utara dengan 5.874 suara, dan Kecamatan Metro Selatan dengan 3.361 suara.

Kalau pun ini semua masih berproses menanti ‘legalitas KPUD Februari 2020 mendatang, namun  Anna Morinda yang diusung PDIP telah mengakui kekalahan dan kegagalannya kepada publik sebagaimana yang disampaikan saat konferensi pers (14/12/20) lalu sekaligus mengakui kemenangan WARU.

Kekalahan dan kegagalan PDIP Kota Metro dalam pemilihan walikota dan wakil walikota Kota Metro Lampung ini merupakan pukulan telak bagi Partai Banteng Moncong putih ini, karena dikalahkan oleh pesaing dari jalur independen/non-partai. Ibarat adu jago antara ‘Banteng dan Ayam jago Petarung’, seharusnya Banteng dengan segala keperkasaan dan pengalamannya di tingkat nasional ini dapat dengan mudah mengalahkan seekor Ayam Jago, ibarat adu tinju antara petinju kelas berat dengan petinju kelas ringan, kalau petinju kelas berat bisa dikalahkan oleh petinju kelas ringan, maka pamor petinju kelas berat tersebut langsung hancur lebur. Dalam Pilwakot Kota Metro ini, PDIP juga seharusnya bisa menang melawan calon dari jalur perorangan.Namun Tuhan berkehendak lain rupanya, siapa yang harus dipersalahkan?, WARU !

Seharusnya WARU tidak muncul , seharusnya WARU kalah!

Apalagi WARU dikeroyok oleh Banteng yang berkoalisi dengan partai-partai besar lainnya (Partai Gerindra, Demokrat, PPP, PSI, Gelora, dan Hanura) seharusnya WARU menjadi Ayam Jago pecundang, dimana salah strategi dan perhitungannya?

Kekalahan Anna semakin meyakinkan publlik bahwa keperkasaan Banteng di Prov. Lampung mulai melemah, apalagi di 8 kabupaten yang menyelenggarakan pilkada 2020, PDIP hanya berhasil menang di -3  daerah, yakni Eva-Deddy di Kota Bandarlampung, Dendi-Marzuki di Pesawan, dan Nanang-Pandu di Lampung Selatan. Ditambah dengan Kota Metro.

Kekalahan ini harus mendapat perhatian dan menjadi catatan khusus bagi DPP (Dewan Pimpinan Pusat) PDIP untuk mereposisi struktur kepemimpinan DPC PDIP di seluruh Provinsi Lampung, apakah perlu langkah ‘ reposisi kepemimpinan jabatan Ketua DPC PDIP Kota Metro?, DPP PDIP yang mampu menjawabnya.

Reposisi jabatan Ketua DPC PDIP di seluruh Prov.Lampung khususnya di Kota Metro harus dipertimbangkan DPP PDIP untuk kepentingan rekonsolidasi dan resoliditas para ‘Bantenger’s, anggota, simpatisan dan eks pengurus lama  DPC PDIP Kota Metro.

Kekalahan di Kota Metro telah diprediksi banyak orang, hal ini bisa saja terjadi karena jauh hari ada indikasi terjadi “perpecahan” dan friksi dalam tubuh PDIP Kota Metro, khususnya antara Ketua DPC PDIP Anna Morinda  dengan para elit pengurus DPC sebelumnya.

Seorang nara-sumber , sesepuh, yang KoranJokowi.com minta tanggapannya akan hal diatas mengatakan. “Ya bisa saja itu alasannya, mungkin saja ada friksi para elit pengurus lama DPC PDIP Kota Metro Lampung, karena tersumbat, kemudian mereka menggalang kekuatan dan konsolidasi untuk “mengalahkan” pencalonan Anna Morinda di Pilkada itu. Semua bisa terjadi dimana saja berada. Kemenangan WARU bisa memac adrenalin munculnya independen lainnya , berbahaya bagi parpol namun membanggakan bagi sebuah demokrasi”, kata narsum itu yang kini menetap di Jakarta.

Masih katanya, sebelumnya beredar dugaan bahwa para elit pengurus DPC merasa tersumbat berkomunikasi dengan Anna, tidak mendapat titik temu bagaimana menjelang Pilkada lalu, mungkin Anna lebih asik berkomunikasi dengan eksternal. Nah karena itu mungkin saja mereka melakukan ‘perlawanan’ dengan arti tinggalkan dan kalahkan Anna dan WARU adalah tempat yang paling ‘nyaman’ sesudahnya.

“Ibarat jika kita mau berperang, kedekatan dan komunikasi  jenderal perang dengan jajaran dibawah adalah sumber dari kalah atau menangnya sebuah pertempuran, bukan semata karena alat-perangnya, tekhnology-nya, namun kenyamanan dan kekuatan hati ‘prajurit’ ini nomor satu. Kita belajar lagi bagaimana dalam perang – perang besar Islam dijaman Rasulullah SAW senantiasa menang kalau pun jumlah tentaranya lebih sedikit. Moral hazard, Jiwa korsa (esprit de corps),  kesadaran korps, perasaan sebagai suatu kesatuan, kekitaan, kecintaan terhadap suatu perhimpunan atau lembaga”, katanya melalui seluler (3/2) kemudian menutup pembicaraan.(Red-01/Foto.ist)

Tentang RedaksiKJ 1382 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan