Kabar Sumatera (86), “Bagaimana Jadinya Jika Ibu ibu Desa Sampali Sumut ini Ke Istana Jakarta ? “

Kabar Sumatera (86),

“Bagaimana Jadinya Jika Ibu ibu Desa Sampali Sumut ini Ke Istana Jakarta ? “

Koranjokowi.com, OPini :

Keinginan bertemu dengan Presiden Ir H Joko Widodo (Jokowi) demikian melekat & berkecamuk dibenak warga Kp. Jatirejo. Desa Sampali, Kec. Persut sei tuan, Kab. Deliserdang, Sumatera utara. Apalagi setelah tahu jika beliau akan hadir di acara HPN 2023 di Gedung Serbaguna Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Deli Serdang, Kamis (09/02/2023) lalu. Karena banyak warga pria yang berladang dan aktifitas lainnya lagi maka disepakati kemudian keinginan itu dilakukan oleh para ibu ibu, sejak hari Rabu semua dipersiapkan matang hingga pencarian jalan – jalan tikus agar bagaimana cara mereka dapat bertemu langsung dengan sosok yang menjadi idola mereka.

Saya selaku StafSus Koranjokowi.com Prov. Sumut – 1  diminta mereka untuk ‘menemani’ , saya pun mohon arahan dari PimRed, “Silahkan saja Budi menemani ibu – ibu itu selama tertib dan ikuti aturan, semoga ini menjadi amal ibadah”, hanya itu tanggapan PimRed.

Sejak pkl.09.00 pagi rombongan ibu-ibu berkendara mobil pick-up terus mencoba ‘merangsek’ mencapai tujuan, namun beberapa kali terkendala oleh pasukan pengamanan hingga adzan sholat dhuhur upaya itu selalu kandas, “Tidak apa kali ini gagal bertemu Presiden Jokowi, suatu saat kita akan ke Istana Jakarta” demikian ibu – ibu tetap semangat kalau pun terlihat lelah karena berpanas-terik matahari

Atas semua ini, saya menjadi ingat puisi WS.Rendra berjudul,

AKU TULIS PAMPLET INI.

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an

Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah, dsb, dst.

“Bagaimana jika ibu – ibu ini memang ngotot akan ke Istana Jakarta menemui Presiden Jokowi?”,

tanya saya dalam hati. ‘Agh sudahlah…. lihat saja nanti.

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

(BudiDG/Foto.ist)

Lainnya,

Kabar Sumatera (85),” PESAN DAMAI PENJAGA MAKAM DATUK KUBA BATU BARA “

Kabar Sumatera (85), ” PESAN DAMAI PENJAGA MAKAM DATUK KUBA BATU BARA “ Koranjokowi.com, Daerah : Jika di Jakarta ada yang bernama Syahrul Akmal (66 Thn) penjaga makam Proklamator Dr. (H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta […]

Kabar Sumatera (78), “YTH PRESIDEN JOKOWI, PT.EMHA & ATR/BPN TIDAK HADIR KE-2 KALI DI DPRD BATUBARA, PETANI PUN AKAN ‘NENDA DI ISTANA NEGARA ?”

Kabar Sumatera (78), “YTH PRESIDEN JOKOWI, PT.EMHA & ATR/BPN TIDAK HADIR KE-2 KALI DI DPRD BATUBARA, PETANI PUN AKAN ‘NENDA DI ISTANA NEGARA ?” KoranJokowi.com, Kab. Batubara, Sumut : Assm wr wr, Yth Presiden Ir […]

 

Tentang RedaksiKJ 3870 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

2 Comments

  1. Apakah semua tidak peduli? Apakah semua memikirkan dirinya sendiri? Sy sangat prihatin ,krn sy bisa merasakan kegalauan tnp kepastian bertempat tinggal di tumpah darah indonesia, hanya krn kekuasaan yg sapu bersih semuanya, semoga masih ada kebijaksanaan utk rakyat kecil yg benar² berjuang berpuluh tahun , bukan rekayasa dr mafia² tanah krn keserakahan

Tinggalkan Balasan